Tak Ada Air, Petani Telukjambe Barat Nyerah - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Tak Ada Air, Petani Telukjambe Barat Nyerah

Tak Ada Air, Petani Telukjambe Barat Nyerah

Written By Mang Raka on Kamis, 23 Agustus 2018 | 17.00.00

TELUKJAMBE BARAT, RAKA - Petani Desa Wanajaya, Kecamatan Telukjambe Barat akhirnya menyerah. Mereka sepakat akan menanami sawahnya yang nyaris membatu begitu hujan pertama turun. Hal itu mereka lakukan karena desakan ekonomi yang semakin sulit dua bulan terakhir, setelah gagal alih profesi.
"Keluarga saya perlu makan, sedang pekerjaan pengganti selain bertani untuk mebiayi hidup keluarga tidak ada, makanya saya tidak punya pilihan. Nanti begitu turun hujan dan tanah sedikit lembek langsung saya tanami," tandas Engkur (43) petani Desa Wanajaya kepada Radar Karawang, Rabu (22/8).
Bahkan Engkur bertekad kalaupun prediksinya hujan tidak turun minggu-minggu dirinya dan sejumlah petani lain sepakat menggunakan mesin pompa air untuk menggemburkan tanah sawah yang mengeras. "Sawah di kita cuma butuh air sedikit saja untuk bisa ditanami. Makanya kalau nanti hujan tidak juga turun kita akan buat sumur bor untuk menarik air ke atas," tandasnya dan menambahkan kalaupun itu mereka akan menggunakan mesin pompa untuk menyedot air dari saluran air reguler. Itupun kalau airnya masih ada.
Hanya saja Enkur sendiri pesimis untuk itu, terlebih setelah tahu Sungai Citamiang yang ada kondisinya pun dalam keadaan kering kerontang. Dan tidak sedikit para pemilik sawah yang dekat dengan Sungai Cibeet membuat pompa air estafet agar sampai ke sawahnya. Namun tidak semua petani punya anggaran untuk pompa, seperti yang terjadi di lahan sawah di Kampung Karadak petani tidak bisa menyemai karena kekeringan.
Sementara itu Kepala Unit Pelayanan Teknis Daerah (UPTD) Pertanian Kecamatan Telukjambe Barat Abidin SP mengatakan sekitar 29 hektar sawah di wilayah Kecamatan Telukjambe Barat mengalami kekeringan. Puluhan hektare sawah itu tersebar di Kampung Karadak, Babakan Tengah dan Kampung Wanajaya Kaler. "Sawahnya sulit ditanami karena tanahnya kering dan retak-retak akibat kemarau yang terjadi tiga bulan terakhir. Ditambah lagi tidak adanya hujan selama dua bulan terakhir," ucap Abidin.
Untuk itu, terang Abidin, dia menganjurkan selama musim kemarau ini agar petani menggantinya dengan tanaman yang membutuhkan air sedikit dan ketahanan pohon yang kuat terhadap kemarau. Dirinya mengaku di wilayah itu ada sebagian lahan sawah merupakan lahan sawah tadah hujan. Kondisi lahan sawah dengan sistem pengairan yang mengandalkan curah hujan, sehingga pada saat musim kemarau terkadang lahan tidak diolah karena air sulit. (yfn)
Berbagi Artikel :
 
Support by : Admin Mang RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template