Ramai-ramai Jadi Kuli Bangunan - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Ramai-ramai Jadi Kuli Bangunan

Ramai-ramai Jadi Kuli Bangunan

Written By Admin Raka on Senin, 20 Agustus 2018 | 14.00.00

PANGKALAN, RAKA - Petani tadah hujan di wilayah Kecamatan Pangkalan ramai-ramai alih profesi menjadi buruh serabutan, menyusul kemarau panjang yang membuat sawah mereka mengeras seperti batu, sehingga sulit dipacul karena tidak tersentuh air.

"Jangankan untuk bertani buat kebutuhan sehari-hari saja kami sudah kesusahan. Makanya, lebih baik menjadi buruh serabutan ketimbang harus menunggu hujan turun," tandas H. Ohim (63) pemilik sawah di Kampung Jaban Desa Kertasari kepada Radar Karawang, Minggu (19/8).

Hampir dua bulan terakhir, terang Ohim, petani tidak melakukan aktifitas bertani. Sementara untuk menghidupi keluarga para petani bekerja serabutan. Ada yang jadi kuli bangunan, kuli angkut kayu sampai mencari bambu untuk dijual. "Apa saja dilakukan yang penting bisa jadi uang dan bisa menghidup keluarga," ucap Ohim. Bahkan, sebutnya, tidak sedikit petani yang terpaksa menjadi kuli angkut pasir di Sungai Cigentis.

Hal sama juga diungkapkan Ali (34) petani asal Kampung Nangerang Desa Kertasari. Dia memilih jadi pencari pasir di sungai Cigeuntis karena sawahnya tidak bisa ditanami. "Pilihan kami ya seperti sekarang ini, mencari rejeki di sungai. Buat kami asal dapur bisa ngebul itu apapun akan dilakukan," ujarnya. 

Ali menuturkan saat ini ada sekitar 30 petani bernasib sama dirinya. Ada yang beruntung mendapatkan pekerjaan dan ada juga yang kurang beruntung menjadi pengepul pasir di sungai. "Kalau bisa nyopir ya jadi sopir dan  biasanya sopir di material. Tetapi apapun pekerjaan yang penting halal uang nya buang makan anak istri," ujarnya.

Sementara Ketua kelompok Tani Desa Kertasari H. Soma (54) mengatakan sekitar 79 hektare sawah di wilayahnya merupakan sawah tadah hujan yang digarap sekitar 23 petani. Dia tidak menampik jika sebulan terakhir ini tanah sawah di wilayahnya mulai mengeras dan sulit dipaculi. Itu karena sudah terlalu lama tidak tersentuh air sehingga tanahnya jadi keras.

Kendati demikian Soma juga tidak menyangkal jika ada juga petani nekat menanami sawahnya dengan sayur mayur dan kacang kacangan. Itu pun yang memiliki modal banyak dan yang punya pompa air untuk bisa dapatkan pasokan air tanah. "Kalau petani rata-rata memiliki modal yang kuat saya yakin mereka tidak akan banting stir mencari uang guna tutupi kebutuhan rumah tangganya," ucapnya Soma. '

Dikatakan Soma, rata-rata petani disana hidup sangat pas-pasan bahkan ada pula hanya sebagai penggarap dan cuma mengandalkan kemampuannya mencangkul sawah. Untuk itu, tegas Soma, kondisi seperti terjadi saat ini sekaligus pekerjaan rumah bersama agar ada penyelesaian. Sehingga yang bertani pun akan nyaman dengan bertaninya dan mereka tidak lagi harus alih profesi menjadi kuli bangunan," tandas Soma. (yfn)

Berbagi Artikel :
 
Support by : Admin Mang RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template