Petani Menolak Disuruh Tanam Kedelai - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Petani Menolak Disuruh Tanam Kedelai

Petani Menolak Disuruh Tanam Kedelai

Written By Admin Raka on Jumat, 24 Agustus 2018 | 18.15.00

LEMAHABANG WADAS, RAKA - Dinas Pertanian dan Pengarian tidak kompak. Buktinya untuk program tanam Padi Jagung dan Kedelai (Pajale) yang dicanangkan Dinas Pertanian pasca panen ternyata tidak sesuai dengan jadwal air yang digelontorkan.

Hal itu terungkap setelah Ketua Kelompok Tani (Poktan) Sri Rejeki 4 Dusun Banjun Desa Pasirtanjung, Ajum, melontarkan pertanyaan dihadapan para pejabat Dinas dan Kementerian pertanian yang ikut dihadiri Kepala PJT Karawang, Kamis (23/8).

"Petani tidak mau banyak teori dan program, tapi tidak memberikan ilmunya terlebih dahulu. Contohnya program tanam palawija pasca panen padi sekarang ini, apakah pengairannya bisa sinkron juga. Sebab masing-masing sektor punya program baik dinas maupun PJT II sehingga menyebabkan program-program yang menyasar ke pertanian ini tidak singkron," tandas Ajum.

Petani sebut Ajum, tidak mau panen Februari karena selalu basah dan mengancam harga dan kualitas gabah. Disisi lain juga tanam padi petani tidak mau tanam Mei, karena takut istilah 'Kameian'. Sehingga, program pertanian, program pengairan dan petaninya itu sendiri sampai saat ini diakuinya, masih jalan sendiri-sendiri. Satu contohnya adalah tanam kedelai ini, ia balik khawatir, kedelai yang ditanam belum masuk masa panen, air sudah turun dan membuat banjir hingga tanamannya busuk.
Untuk itu, sebutnya, ia meminta solusi baik dari Pertanian maupun PJT soal ini, karena keduanya di ikat oleh aturan dan regulasi masing-masing. "Saya takut kalau kita tanam kedelai belum panen, air sudah turun dan diarahkan segera tanam padi lagi," keluhnya.

Menanggapi itu, Kepala Perusahaan Jasa Tirta (PJT) Jatiluhur Karawang, Suwondo mengatakan, jika saat ini tanam kedelai, kemudian dalam SK Gubernur air di golongan 2 ini sudah harus mengalir pada 15 Oktober nanti, apakah cukup waktu 1,5 bulan kedelai bisa di panen. Jawabannya tentu tidak, karena memang pihaknya hanya menjalankan pengairan sesuai jadwal yang sudah ditetapkan Gubernur melalui SK, sehingga kalau nanti Oktober air datang, kemudian dihantam hujan pula, ia meminta petani maupun pihak lainnya untuk tidak menyalahkan PJT.

Bukan, apa-apa, sebab kebanyakan kekeringan atau juga banjir yang banyak disalahkan justru pihaknya, sementara PJT hanya menjalankan aliran air di saluran sampai Sekunder itu sesuai SK Gubernur. "Di Golongan 2 ini, air harus sudah masuk 15 Oktober, nah waktu 1,5 bulan itu cukup gak sampai panen kedelai. Nah terpenting itu, banjir atau kering ya jangan salahkan PJT, toh kita diatur SK Gubernur," katanya.

Kepala UPTD Pengelolaan Pertanian Dedi S melalui Penyuluh Pertanian Desa Pasirtanjung, Suhada S.P mengatakan, di Lemahabang, target tanam kedelai itu jumlahnya 400 hektare dengan varietas Anjasmoro dan Grobogan. Soal pengairan, para petani sebenarnya tidak perlu khawatir, karena air akan tetap normal mengalir di saluran sekunder, namun akan melintas saja digolongan 2, dan tidak akan sampai membuat lahan kedelai yang ditanam banjir dan basah hingga membuat tanaman kedelai busuk. Hal ini sudah dikoordinasikan, karena untuk panen muda, kedelai yang ditanam ini butuh waktu kurang dari 3 bulanan. "Air akan tetap normal, tapi diupayakan memang gak sampai nanti Dan menggenangi tanaman kedelai," harapnya. (rud)
Berbagi Artikel :
 
Support by : Admin Mang RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template