Pencemaran Limbah Olahan di Iringasi Tinggi - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Pencemaran Limbah Olahan di Iringasi Tinggi

Pencemaran Limbah Olahan di Iringasi Tinggi

Written By Admin Raka on Sabtu, 25 Agustus 2018 | 16.00.00

KARAWANG, RAKA - Potensi bahaya disebabkan air limbah olahan yang digunakan untuk irigasi amat besar. Untuk itu perlu adanya pengembangan metode irigasi yang tepat, sehingga dapat meminimalkan tingginya pencemaran air.

Hal itu diungkapkan Pemerhati Lingkungan Yosua Wira Adi Nugroho, baru-baru ini, melalui surat elektroniknya. Menurut dia salah satu metode alternatif yang dapat digunakan dengan metode pengolahan air limbah dalam kolam stabilisasi. Dikatakan Yosua, kolam tersebut merupakan kolam dangkal yang menggunakan proses fisis dan biologis untuk mengurangi kandungan bahan pencemar yang terdapat pada air limbah.

Proses fisis dan biologis tersebut meliputi pengendapan partikel padat, penguraian zat organik, pengurangan nutrien (P dan N) serta pengurangan organisme patogenik seperti bakteri, telur cacing dan virus. "Prinsip kolam stabilisasi menyeimbangkan dan menjaga fluktuasi beban organik dan beban hidrolis limbah air," ucap Yosua, selain mengendapkan partikel padatan dari air limbah di kolam pertama.

Yosua juga mengatakan prinsip kolam stabilisasi adalah memanfaatkan proses fotosintesis yang dilakukan oleh algae sebagai sumber utama oksigen dan pengurangan organisme patogenik melalui beberapa proses interaktif antara alga dan bakteria. Metode ini banyak digunakan di negara berkembang karena biaya awal dan perawatannya tidak sebesar metode yang modern.

Selain penerapan metode tersebut, upaya perbaikan sistem dapat dilakukan dengan perbaikan infrastruktur irigasi yang rusak dan tidak berfungsi dengan baik serta upaya-upaya modernisasi irigasi secara partisipatif. Upaya lain adalah perbaikan daerah irigasi (air permukaan) dan pengembangan sistem irigasi pompa di lahan tadah hujan dan lahan kering yang merupakan salah satu strategi logis untuk perluasan areal lahan pertanian.

Selain itu, terang Yosua, melalui Sistem Irigasi Mandiri yaitu sistim irigasi dimana petani punya akses langsung ke sumber air dan dapat mengoperasikan serta memelihara secara swadaya. Biasanya dengan menggunakan pompa air (5 PK) untuk kelompok tani seluas 10 ha. Sumber airnya dapat berupa air tanah dangkal atau air permukaan.

Selain perbaikan dari segi irigasi, perbaikan kualitas air juga perlu dilakukan agar air limbah yang digunakan dapat memenuhi standar air yang layak. Seperti yang tercantum pada PP No 82 Tahun 2001 mengenai air irigasi sehingga air yang digunakan tidak mengandung logam berat dalam jumlah yang banyak dan terhindar dari cemaran koliform. Upaya – upaya tersebut dapat dilakukan guna membangun sistem irigasi yang berkelanjutan sehingga konsumen terhindar dari bahaya cemaran logam berat dari sayur yang dimakan. (ari)
Berbagi Artikel :
 
Support by : Admin Mang RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template