Banyak Korban KDRT tak Mau Melapor - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Banyak Korban KDRT tak Mau Melapor

Banyak Korban KDRT tak Mau Melapor

Written By Admin Raka on Senin, 20 Agustus 2018 | 17.15.00

RAWAMERTA, RAKA- Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlidungan Anak (DP3A) Karawang menyebut banyak perempuan menjadi korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Namun, para korban ini tidak mau melapor, sehingga belum ditangani secara hukum.

Kabid Perlindungan Perempuan dan Anak, Diah Handini Resi Oetomo SH, mengatakan KDRT dan kekerasan fisik terhadap anak menjadi kasus terbanyak di Kabupaten Karawang, meskipun tak merinci secara pasti jumlahnya, Dia menyebutkan, penyebabnya bervariasi. "Sebenarnya variatif, namun yang paling banyak itu KDRT dan kekerasan terhadap anak," katanya, saat menghadiri acara pembentukan forum anak di kantor Camat Rawamerta, baru-baru ini.

Namun disayangkan, meskipun banyak kasus KDRT yang terjadi di Karawang, tidak banyak korban kekerasan yang berani melapor. Hanya saja, pihaknya sering didampingi steakholder seperti Peka, Prima, Motekar dan lainnya mendapingi para korban. Dirinya mengatakan hal tersebut akibat banyak masyarakat yang kurang sadar terhadap hukum. Dirinya berharap masyarakat lebih memahami dan mengerti tentang pengendalian diri terhadap hukum. "Masyarakat mesti banyak diberikan pemahaman pentingnya sadar hukum," katanya.

Sementara menurut staf BP3A, Ismawati S.Pd, pelayanan publik terpadu Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) . Kasus terberat yang pernah ia tangani yaitu kasus sodomi terhadap 27 anak. "Sedangkan yang tidak terlapor 99 anak," paparnya.

Sebelumnya, DP3A Karawang, membentuk 15 forum anak di tiap kecamatan, di Kecamatan Rawamerta. Forum anak ini nantinya konsen dalam memperjuangkan hak anak dan menjaganya dari berbagai tindak kekerasan secara fisik, psikis ataupun seksual. "Mereka yang ikut aktif, akan menjadi pelopor dan pelindung anak lainnya," ujar pendamping forum anak, Ismawati S.Pd.

Lebih lanjutnya, selain menjadi pelopor atau menjadi contoh figur di sekeliling, forum anak ini menuntun pengurusnya agar menjadi pelapor. Yaitu, anak yang dapat memperjuangkan hak anak-anak ketika melihat dan mengalami tindakan kekerasan. "Harus berkaitan antara pelapor dan pelopor (P2). Karena kebanyakan mereka gak tau harus melapor kemana. Makanya saat ini kita siapkan wadah untuk mereka," ucap perempuan yang berdinas di DP3A itu.

Adapun cara penanganan anak yang terlanjur mendapatkan tindakan kekerasan, disesuaikan dengan seberapa parah mengalami kekerasan tersebut. "Misalkan kena bully, tergantung korbannya seperti apa. Terus kalau misalkan luka fisik kita larikan ke RSU, adapun psikis kita ada tim psikologi. Dan pelakunya ditindak secara hukum," pungkasnya. (rok)
Berbagi Artikel :
 
Support by : Admin Mang RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template