85 Tahun Masjid As-Salaf tak Gunakan Speaker - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » 85 Tahun Masjid As-Salaf tak Gunakan Speaker

85 Tahun Masjid As-Salaf tak Gunakan Speaker

Written By Admin Raka on Selasa, 28 Agustus 2018 | 13.15.00

PURWAKARTA, RAKA- Masjid As-Salaf di Kampung Ciganea, Desa Mekargalih, Kecamatan Jatiluhur, diketahui sejak pertama kali didirikan pada tahun 1960 lalu, sama sekali tidak menggunakan pengeras suara. Bukan tidak bisa beli perangakat pengeras suara, namun kekuatan kalimat dakwah bukan terletak pada kekuatan pengeras suara. Selain itu, masjid yang terletak di daerah berkontur landai itu lebih mirip seperti bangunan rumah biasa. Konstruksinya dibangun tanpa kubah dan tanpa menara.

 Ketua DPD Golkar Jabar Dedi Mulyadi, mengatakan masjid tersebut merupakan simbol cara para ulama menyampaikan dakwah Islam. Kekuatan ulama terdahulu terletak pada kekuatan kalimat dakwah, bukan kekuatan pengeras suara. "Pesan agama yang disampaikan ulama itu penuh kelembutan dan ketenangan. Para beliau tidak menjadikan panjang pendeknya kalimat sebagai perhatian utama. Sebab, kekuatan kalimat yang disampaikan itu paling penting," kata Dedi di lokasi masjid, Senin (27/8).

Ketenangan tersebut menurut Dedi, menjadi teladan bagi jamaah dan masyarakat sekitar masjid. Karena ceramah kiai mengena ke dalam sanubari tanpa perantara piranti lain. "Ucapannya memang tidak keras terdengar tetapi amat jelas masuk ke dalam hati. Hari ini, fenomenanya terbalik, telinga kita mendengar tetapi tidak masuk ke dalam hati," katanya.

A’wan PCNU Purwakarta tersebut pernah menawarkan bantuan saat masih menjabat sebagai Bupati Purwakarta untuk renovasi masjid. Akan tetapi, bantuan itu selalu ditolak secara halus oleh Kiai Idris Khudori selaku pemilik. "Kalau untuk masjid, almarhum selalu menolak halus, jadi saat itu bantuannya dialihkan ke pesantren beliau," kenang Dedi.

Riwayat Masjid As-Salaf diceritakan oleh Kiai Hasan Basri, penerus Kiai Idris Khudori. Menurut dia, masjid tersebut sudah berdiri sejak 1960. Akibat pembangunan Tol Cipularang, masjid itu dipindah ke tempat kini dia berdiri. "Sudah sejak 1960, keadaannya tidak menggunakan pengeras suara. Untuk semua kegiatan ya, baik adzan maupun pengajian. Ini berdasarkan wasiat Kiai Idris Khudori," ujar Kiai Hasan.

Semasa hidup, Kiai Idris Khudori sering menyampaikan kepada para santri tentang sebuah nilai ibadah. Menurut dia, ibadah harus dilakukan dengan cara-cara yang tidak mengganggu lingkungan sekitar. "Tujuannya agar tenang dan lebih khidmat. Jadi, tidak ada anggota masyarakat yang terganggu," ucap Kiai Hasan. (gan)
Berbagi Artikel :
 
Support by : Admin Mang RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template