Saling Culik Calon Dewan, Pengamat: Kaderisasi Parpol Gagal - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Saling Culik Calon Dewan, Pengamat: Kaderisasi Parpol Gagal

Saling Culik Calon Dewan, Pengamat: Kaderisasi Parpol Gagal

Written By Admin Raka on Rabu, 25 Juli 2018 | 12.00.00

KARAWANG, RAKA - Daftar calon tetap pemilihan legislatif 2019 belum disahkan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Karawang. Namun sejumlah nama calon legislatif pendaftar masih diwarnai wajah-wajah lawas.

Entah alasan banyak tekanan di internal partai atau memanfaatkan peluang dan cost politik lebih menguntungkan, sejumlah politisi dan pengurus partai politik di Karawang tidak sedikit yang nyeberang ke partai lain.

Ketua DPD Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kabupaten Karawang Dedi Sudrajat mengakui, di setiap parpol termasuk PKS sah-sah saja ada kader partai luar yang nyaleg di partainya. Namun, tahapannya masih proses perbaikan dan verifikasi oleh KPU, dan masih ditangani oleh panitia internal.

Atas dasar itu, dirinya berkesimpulan bahwa semuanya belum fix dikatakan caleg atau juga loncat-loncat parpol. Karena sejauh ini masih bisa tambal sulam kalau ada yang tidak memenuhi syarat, termasuk Lukman N Iraz yang juga mantan Bendahara DPD Partai Golkar Karawang.

Ketua DPD KNPI Karawang ini sebutnya, juga sedang diverifikasi pihak KPU. "Insya Allah setelah KPU memutuskan daftar calon tetap itu lebih pasti, dikatakan yang bersangkutan nyaleg di partai kami. Kita ikuti standar dan prosedur PKPU (peraturan KPU) saja," katanya kepada Radar Karawang, Selasa (24/7).

Sekretaris DPC Partai Gerindra Karawang Endang Sodikin mengatakan, dari puluhan caleg partainya, diakuinya ada bacaleg yang sebelumnya dari parpol lain. Tapi semuanya sudah memenuhi syarat, karena proses pengunduran dirinya sudah beres. Ia menyebut, dua bacaleg Gerindra yang sebelumnya dari parpol lain adalah Dewi Kurniati yang sebelumnya dari Partai Golkar daerah pemilihan (dapil) 2, dan juga Karjo di dapil 3 yang sebelumnya dari Partai Perindo. "Biasalah masalah pindah partainya mah, kan semuanya sudah beres pengunduran dirinya dari partai sebelumnya," kata Endang.

Senada dikatakan Dadan Suhendarsyah, Sekretaris DPC Partai Amanat Nasional (PAN). Ada satu bacaleg di dapil 3, dulunya adalah mantan anggota DPRD yang aktif di Partai Hanura. Tapi atas keinginan pribadi dan keluar dari Partai Hanura, bacaleg bernama Rusdi Praja ini maju di partai besutan Amien Rais. "Niatan sendiri ingin nyaleg di PAN, dulunya beliau anggota dewan di Hanura," ujarnya.

Ketua DPC Partai Nasional Demokrat (Nasdem) Karawang Dian Fahrud Zaman mengatakan, di partainya sempat ada yang mendaftarkan diri jadi bacaleg yang semula merupakan kader dari partai besar di Karawang. Namun, karena ada sesuatu lain hal, yang bersangkutan tidak bisa diakomodir untuk maju di Partai Nasdem. "Sempat ada sih, cuma kita gak akomodir," ungkapnya.

Ketua DPC Partai Berkarya Asep Ishak saat disinggung ada atau tidaknya bacalegnya yang sebelumnya merupakan kader parpol lain, dia mengaku ada beberapa diantaranya sempat aktif di berbagai parpol. Namun, dirinya tidak merinci nama dan asal dapil bacaleg yang dimaksud. "Nanti saja saya bukanya, harus dicek dulu satu-satu, yang jelas ada," katanya.

Sedangkan Sekretaris PKB Karawang Aab Abdurahman mengatakan, Khaerudin yang sebelumnya menjabat sebagai bendahara di partainya loncat ke Partai Demokrat. Namun, kepindahannya tidak berpengaruh sama sekali terhadap kekuatan PKB. "Sebenarnya gak ada masalah. Cuma loyalitasnya emang kurang banget. Jadi pas dia pindah ke Demokrat, ya kita gak merasa kehilangan kader," ungkapnya.

Dia juga tidak khawatir rahasia strategi PKB memenangkan pileg 2019 akan bocor ke partai lain. "Enggak. Karena dia gak pernah ikut rapat strategi pemenangan pileg. Orangnya gak loyal kok," ujarnya.

Selain ada anggota dewannya yang nyebrang parpol pada pileg 2019 mendatang, PKB kabarnya mendapat kader baru yang akan nyaleg dari partai yang dipimpin Jimy Ahmad Zamakhysyari itu. Diantaranya, Fadludin Damanhuri yang sebelumnya tercatat sebagai pengurus Partai Nasdem, serta Asep Dasuki yang sebelumnya tercatat sebagai anggota DPRD dari PPP.

Sementara itu, Wakil Ketua DPD Partai Demokrat Kabupaten Karawang Bayu Irawan mengatakan, politikus sudah biasa loncat dari satu partai ke partai yang lain. "Mungkin karena dari partai sebelumnya tidak terlalu bayak diakomodir keinginnannya, makannya jadi loncat atau ada dari partai lain yang bisa lebih menjanjikan," ucap Bayu.

Dia melanjutkan, Partai Demokrat akan menghomati keputusan sejumlah orang yang memilih berpindah partai. Termasuk, orang-orang yang sebelumnya menjadi kader Demokrat.

"Kabar kemarin ada yang loncat, kita rangkul. Malah saya sarankan untuk suruh masuk di provinsi atau bertahan di dapil yang sudah ditentukan oleh partai. Tapi yang bersangkutan tidak bersedia, inisial A," terangnya.

Ketika ditanya mengenai berapa banyak politisi partai lain yang pindah ke Partai Demokrat, Bayu hanya menjawab tidak tahu lebih detil. "Ada, tapi siapa dan dari partai mana itu bukan kewenangan saya untuk menyatakan ke hadapan publik, itu kewenangan ketua DPC atau sekretaris," ucapnya.

Secara terpisah, Peneliti Indobarometer Cecep Sopandi mengatakan, untuk memahami fenomena politisi loncat harus dilihat dari berbagai sudut pandang dan latar belakang di balik kepindahan.

Pertama, kata dia, karena alasan rasional. Hal ini berangkat dari kalkulasi politik yang mungkin menganggap partai tempat bernaung selama ini kurang prospektif, sementara politisi yang bersangkutan melihat ada parpol lain yang dia nilai potensial. "Maka ia pindah untuk mendapatkan efek elektoral partai tersebut," ujarnya.

Kedua, karena alasan emosional. Hal ini terjadi pada politisi yang merasa kecewa kepada partai tempatnya bernaung karena posisinya terpojok, diabaikan atau karena persoalan disharmoni dengan antar pengurus atau pimpinan partai.

Ketiga, karena alasan ideologis. Hal ini terjadi pada politisi yang merasa kebijakan pimpinan tidak sesuai dengan platform dan ideologi partai.  "Tetapi apapun alasannya saya rasa ini merupakan bentuk kegagalan kaderisasi dari partai politik karena ideologi partai kurang terinternalasasi pada anggotanya," tandasnya.

Karena dia menilai, politik bukan lagi perjuangan menegakkan idelogi partai, tapi lebih kepada perebutan elektoral. "Maka jangan heran selama ini partai politik mengalami krisis figur untuk dijadikan role model bagi kepemimpinan nasional," sambungnya.


Selain itu, fenomena loncat partai ini mengindikasikan adanya disorientasi ideologi politik. Selama ini sambungnya, bisa dibandingkan partai politik dengan platform ideologinya. Ada yang nasionalis sekuler, agama maupun nasionalis religius. "Nah politisi loncat partai ini telah mengikis sekat-sekat ideologi itu, sehingga saat ini sulit bagi kita melihat kejelasan ideologi yang dimiliki oleh partai," pungkasnya. (rud/apk/psn)
Berbagi Artikel :
 
Support by : Admin Mang RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template