Sakit Hati Diberi Harapan Palsu, Ojo Tetap Mengajar - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Sakit Hati Diberi Harapan Palsu, Ojo Tetap Mengajar

Sakit Hati Diberi Harapan Palsu, Ojo Tetap Mengajar

Written By Admin Raka on Sabtu, 07 Juli 2018 | 12.30.00

Guru Honorer Tertua di Lemahabang Bantu Istri Jualan Gorengan


LEMAHABANG WADAS, RAKA - Siapa yang mampu bertahan mengajar lebih dari 20 tahun dengan honor Rp 700 ribu menghidupi anak istri? Namun, hal itu justru dilakoni guru honorer kategori dua (K2) SDN Karyamukti 1, Ojo Suparjo S.Pd. Perjuangan menjadi CPNS sampai di usianya yang sudah 50 tahun, tidak pernah membuahkan hasil.

Honor kecil, membuat guru yang menua dengan sapaan "Bah Ojo" ini rela nyambi berdagang gorengan dan cemilan anak-anak setiap kali mengajar ke sekolah. Sebab, istrinya yang sudah menemani hidupnya sebagai K2 sadar betul honornya tak cukup biayai keperluan rumah tangga. Sehingga setiap harinya Ojo dan istri setia datang ke sekolah dengan bagi-bagi tugas, yang satu mengajar dan yang satu berjualan saat jam istirahat. "Kalau berdagang jelas bikin kaya karena yang didapat sebulan cukup banyak. Tapi saya punya tanggung jawab ke pendidikan, walau honor Rp 700 ribu tetap saya harus lakoni," kata Ojo kepada Radar Karawang, Jumat (6/7).

Ia menambahkan, meski sudah berbakti puluhan tahun, harapan menjadi PNS masih menggelora dalam benaknya. Betapapun usianya sisa 8 tahun lagi lazimnya usia pensiun PNS. Sebab, selama 20 tahun terakhir dirinya tidak pernah absen ikut demo ke Jakarta dan Bandung, mengemis janji dan buaian para pejabat dan politisi yang selalu memberikan harapan palsu. Sakit hati rasanya sebut Ojo, di saat honorer K2 menaruh harapan besar jadi PNS, pemerintah dengan entengnya bisa membuka CPNS umum dan mengesampingkan perannya.

Memang, sesalnya, pemerintah pusat tidak mengenal istilah K1 atau K2, tetapi lama pengabdian seharusnya bisa jadi pertimbangan. Namun seiring waktu yang sudah tak lagi muda, dirinya masih berdiri dan kuat walau dihonor Rp 700 ribu per bulan, jauh dari angka cukup. "Saya gak pernah absen demo, selama kaki saya kuat berdiri dan suara saya masih keras menuntut keadilan. Kapanpun perjuangan PNS itu akan saya lakukan," katanya.

Di tahun 1992, dia mulai mengajar dari sekolah ke sekolah lain. Bahkan, saking asyiknya mengajar, dia mengesampingkan kebutuhan keluarga. Sampai akhirnya dia sadar, bahwa kebutuhan keluarga juga mendesak. Tak ayal, walaupun boleh dikatakan paling senior mengajar dan honorer K2 paling tua di Lemahabang, dia tak segan nyambi usaha lain untuk mencukupi anak-anaknya yang masih duduk di bangku SMA dengan berdagang.

Setiap hari sebut Ojo, istrinya memasak gorengan, cemilan, es, bubur kacang dan snack. Karena setiap kali dia ke sekolah tempatnya mengajar, istrinya setia ikut karena harus berdagang di sekolah buat anak-anak saat jam istirahat. Bahkan hasil usaha dagang, boleh dikatakan lebih besar dari honornya mengajar yang hanya Rp 700 ribuan per bulan. "Saya kadung cinta ke pendidikan, peluang usaha sih banyak, tapi biarlah berdagang saja buat nambahin kebutuhan sehari-hari," katanya.

Guru humoris ini berharap jika tak ada celah jadi PNS, setidaknya ada kepastian kesejahteraan baginya untuk melanjutkan hidup di masa tua. Mendidik memang tidak butuh imbalan negara, tapi selama ini negara sendiri justru yang melupakan kebesaran pengabdian para guru yang sudah lama. Untuk itu, ikhtiar dan tawakal sudah banyak dia lakukan. Dia tetap mensyukuri semua itu dengan penuh ikhlas. "Kita syukuri yang ada sekarang, ikhtiar mah sudah berulang kali kan," katanya. (rud)
Berbagi Artikel :
 
Support by : Admin Mang RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template