Pemda Biarkan Masalah Pasar Cikampek 1 tak Selesai-selesai - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Pemda Biarkan Masalah Pasar Cikampek 1 tak Selesai-selesai

Pemda Biarkan Masalah Pasar Cikampek 1 tak Selesai-selesai

Written By Admin Raka on Selasa, 31 Juli 2018 | 15.30.00

CIKAMPEK, RAKA - Polemik Pasar Cikampek 1 tidak pernah habis. Kali ini PT Aditya Laksana Sejahtera (ALS) lakukan penyegelan terhadap 3 kios di pasar tersebut pada hari Rabu (25/7) lalu.
Billy Wahyu Permana, Ketua Ikatan Pedagang Pasar Tradisional Bersatu (IPPTU) mengatakan, beberapa hari yang lalu ada penyegelan terhadap salah satu kios pedagang di lantai 2 pasar Cikampek 1. Namun ia belum mengetahui penyebab kios tersebut disegel. "Kemarin itu kiosnya pak Dede yang disegel, untuk lebih jelasnya temui Pak Dede aja," ujar Billy.

Deni, Wakil Ketua IPPTU juga mengatakan, saat ini IPPTU belum mengetahui secara utuh apa alasan dari PT ALS menyegel salah satu kios yang berada di lantai dua itu. Karena dari pemilik kios yang disegelpun belum ada laporan ke IPPTU. "Untuk sementara kami belum mengambil tindakan, karena belum ada laporan yang jelas dari Pak Dede," ujarnya.

Namun menurutnya, penyegelan kios tersebut dikarenakan belum ada ketegasan dari pemerintah daerah mengenai siapa yang sebenarnya mempunyai hak pengelolaan di pasar Cikampek 1. Dia berharap pemerintah daerah segera mengambil ketegasan agar para pedagang bisa berjualan dengan nyaman. "Sampai sekarang saya belum punya SHGB (Sertifikat Hak Guna Bangunan), padahal kios saya sudah lunas," tambahnya.

Muhamad Farid Haeryanto, Direktur PT ALS menyampaikan, alasan penyegelan beberapa kios yang berada di lantai 2 blok DD8 NO 8, karena berdasarkan database perusahaan, kios tersebut merupakan kios-kios yang belum pernah diperjualbelikan. Namun pada kenyataanya di lapangan kios tersebut ada yang menempati. Maka dari itu pihaknya mencoba melakukan pemanggilan terhadap pemilik kios melalui surat yang dilayangkan, tetapi setelah dilayangkanya surat pemilik tidak mengindahkan panggilan tersebut. "Setelah melayangkan surat, kami juga juga datang langsung ke kiosnya dan meminta pak Dede agar datang ke kantor. Namun setelah dipanggil langsung Pak Dede tidak datang juga, maka dari itu kami mengambil langkah penyegelan. Dengan maksud agar datang ke kantor mempertanyakan kenapa kiosnya disesgel," ujar Farid.

Menurutnya, setelah dilakukan penyegelan, ada yang datang ke kantor, namun itu bukan Dede, melainkan istri dari Muciung. Dia datang mempertanyakan kenapa kiosnya disegel, kemudian ia menunjukan bukti kwitansi pembelian kios tersebut seharga Rp80 juta dari Dede. "Saya bilang kapan ibu itu transasksi sama pak Dede, apa dasar pak Dede menjual kios itu. Pak Dede hanya mempunyai dasar kwitansi yang sebenarnya manajemen kami tidak ngeluarin," ujarnya.

Menurutnya, kwitansi tersebut dicurigai beredar dan dikeluarkan oleh Fahmi salah satu orang yang pernah menjadi marketing di PT ALS. Namun berdasarkan SOP, Fahmi tidak berhak menerima uang. Dia hanya berhak memasarkan. "Pembayaran itu langsung ke kasir atau ke rekening perusahaan yang sudah ditentukan," jelasnya.

Bagi Farid dalam kwitansi tersebut banyak kejanggalan, yang pertama harga kios tidak sesuai dengan harga yang sudah ditentukan. Tahun 2010 harga kios untuk pedagang lama itu Rp62.500.000 sementara dalam kwitansi hanya Rp35.000.000, kemudian setelah dicek lagi tanda tangan Hariawan juga diduga palsu. "Maka saya sampaikan kepada istrinya Muciung bahwa ada 2 cara untuk menyelesaikan permasalahan ini. pertama melalui musyawarah atau melalui proses hukum. Jika musyawarah harus dihadirkan pak Dede untuk duduk bersama dan membahas permasalahan ini, ketika tidak ada kesepakatan berarti kita menempuh proses hukum. Karena kan tidak mungkin kita berantem," katanya.

Masih disampaikan Farid, setelah ibu itu datang kemudian membuat surat pernyataan dan meminta waktu 21 hari maka pihaknya membuka kembali kios yang disegel itu. "Awalnya ada 3 kios yang kami anggap bermasalah, maka kami melakukan penyegelan terhadap 3 kios itu. Tapi pemilik 2 kios itu datang ternyata pelanggan lama kami Pak Hasan dan membawa bukti ternyata benar tidak bermasalah. Jika dalam waktu 21 hari belum ada kejelasan kami akan melakukan upaya penyegelan lagi. Kami lebih senang jika mereka membawa permasalahan ini ke jalur hukum," pungkasnya.

Sementara itu Dede pemilik kios mengatakan, pembayaran yang dilakukannya tidak diakui oleh PT ALS, padahal dia sudah membeli seharga Rp35.000.000 ke salah satu marketing PT ALS yang bernama Fahmi. Sebenarnya dia pernah datang ke kantor untuk menjelaskan, tapi pihak ALS tetap tidak mengakui bahwa dirinya sudah membeli kios tersebut. "Sekitar bulan September 2013 lalu saya beli kios itu ke PT ALS bukan ke perorangan. Saat itu yang selalu ada di kantor ALS hanya pak Fahmi sebagai keterwakilan dari PT ALS," ujarnya.

Dikatakannya, para pedagang juga waktu itu tahu kalau Fahmi adalah orang ALS, bahkan dia juga masih saudaranya Henny dan Hariawan. Sehingga dia meyakini mendapatkan kios itu bukan hasil mencuri. "Pemda Karawang harus bertindak tegas untuk menyelesaikan permasalahan yang ada di pasar ini, jangan sampai pedangang yang dirugikan," keluhnya. (cr2)
Berbagi Artikel :
 
Support by : Admin Mang RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template