Parah, Guru Wancimekar 2 Jual Buku - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Parah, Guru Wancimekar 2 Jual Buku

Parah, Guru Wancimekar 2 Jual Buku

Written By Admin Raka on Kamis, 26 Juli 2018 | 15.00.00

KOTABARU, RAKA - Meski Satuan Tugas (Satgas) Sapu Bersih Pungutan Liar (Saber Pungli) Kabupaten Karawang pernah mengobok-obok Sekolah Dasar (SD) yang ada di wilayah Kotabaru. Nampaknya hal itu tidak menjadi efek jera bagi para penyelenggara pendidikan untuk tidak melakukan pungutan liar (Pungli).

Padahal dalam upaya peningkatan akses dan mutu pendidikan sebagai salah satu prioritas pembangunan nasional, pemerintah telah menyelenggarakan pendidikan bagi masyarakat melalui pengalokasian Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Dalam pengalokasian dana BOS pemerintah telah mengamanahkan melalui Peraturan Mentri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 1 Tahun 2018 Tentang Petunjuk Teknis BOS. Dalam peraturan tersebut dijelaskan bahwa sekolah wajib mengalokasikan penggunaan dana BOS untuk pembelian buku teks yang digunakan sebagai panduan guru dan pegangan siswa dalam melakukan kegiatan belajar mengajar. Namun praktik jual buku di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Wancimekar 2 masih tetap terjadi.

Salah satu orang tua murid yang namanya minta dirahasiakan menyampaikan, anaknya dipaksa harus membeli buku paket seharga Rp40.000 oleh salah seorang guru di sekolahnya. Selain membeli buku paket, setiap tahun ia juga selalu diharuskan untuk membeli buku Lembar Kerja Siswa (LKS) seharga Rp13.000/buku. "Kalau LKS setiap tahun juga ada, tapi kalau buku yang Rp40.000 baru tahun sekarang," ujarnya.

Ia merasa kaget pada saat anaknya pulang membawa buku yang harus dibayar seharga Rp40.000. "Sepulang dari sekolah, anak saya membawa buku dan meminta untuk di bayar harganya Rp40.000. Anak saya baru bayar Rp2000," ujarnya.

Menurutnya, sekolah sengaja membagikan buku tersebut kepada semua siswa agar dibeli, meski kesannya dicicil tapi tetap saja ujung-ujungnya uang tabungan siswa diambil. Penjualan LKS memang tidak diperjual belikan di sekolah, tapi guru meminta anak untuk membeli LKS di salah satu toko tersebut. "Toko bukunya buka pukul 17.00 WIB. Dari dulU juga kaya gitu, tapi kalau LKS ya gak apa-apalah soalnya kalau gak beli berati resikonya anak saya ketinggalan pelajaran," ujarnya.

Yati Nurhayati, salah seorang guru dan sekaligus mantan kepala sekolah di SDN Wancimekar 2 mengatakan, sekolah tidak pernah menjual buku LKS ataupun buku paket. Ia mencari buku yang sesuai dengan kurikulum. Kemudian siswa atau orang tua yang ingin memiliki pegangan buku membeli sendiri di luar dengan buku yang disesuaikan dengan pegangan gutu. "Tidak ada penjualan buku di sekolah, orang tua siswa membeli sendiri di luar," ujarnya.

Sementara, Nanang Adhuri, Kepala SDN Wancimekar 2 membenarkan adanya penjualan buku di sekolah tempatnya bertugas. Awalnya dia sudah melarang dan tidak mengizinkan adanya penjualan buku, namun karena ia merasa tidak enak terhadap pedagang buku dan salah seorang guru, maka ia mengizinkan. "Tadinya saya melarang, tapi karena ditawarin terus, dan ada guru juga yang nawarin terus sama saya, akhirnya saya izinkan. Yang ngurusinnya juga guru itu," ujarnya.

Dia mengaku baru di tahun ini adanya penjualan buku, di tahun sebelumnya tidak pernah ada. "Iya sekarang ada memang, seharga Rp13.000 (LKS), tapi diwajibkan untuk beli sih tidak, hanya bagi yang mampu saja, itu juga dicicil," pungkasnya. (cr2)
Berbagi Artikel :
 
Support by : Admin Mang RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template