Orang Tua Rebutan Bangku - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Orang Tua Rebutan Bangku

Orang Tua Rebutan Bangku

Written By Admin Raka on Senin, 16 Juli 2018 | 12.00.00

Tas Anak Dipaku di Meja

LEMAHABANG WADAS, RAKA - Tok, tok, tok. Suara hantaman palu itu terdengar di ruang kelas 1 SDN Pulojaya 2, Minggu (15/7). Suara itu bukan penanda jika di ruangan tersebut sedang ada pembangunan atau rehab. Tapi orang tua siswa yang sedang memaku tanda jika anaknya adalah pemilik bangku tersebut. Maklum, mereka tidak ingin anaknya duduk paling belakang atau tidak kebagian bangku saat hari pertama masuk sekolah, Senin (16/7).

Bukan hanya dipaku, para orang tua bersama anaknya menaruh tas di meja atau kursi dengan lakban. Parahnya mereka membobol jendela kelas lain yang kebetulan pintunya digembok, demi mendapatkan bangku berkualitas baik. Agar usahanya tidak sia-sia dan memastikan bangku untuk anaknya tetap di posisi yang sama, para orang tua atau wali murid mendatangi sekolah tiga hingga empat kali. "Saya datang ke sekolah karena gak mau anak saya bangkunya kebagian yang reot. Walaupun semeja bertiga, asalkan mejanya bagus," ungkap orang tua murid, Linda kepada Radar Karawang.

Bukan hanya itu, Linda juga memaku tas anaknya ke bangku agar tidak diambil oleh orang lain. "Orang tua lain juga sudah banyak mendahului," tuturnya.

Kepala SDN Pulojaya 2 Maman Sidik S.Pd mengatakan, hampir setiap tahun sebelum hari pertama sekolah, semua orang tua siswa mendatangi sekolah sejak H-2. Bahkan, mereka juga biasanya sudah datang dengan anaknya sejak pukul 03.00 di sekolah, agar bangkunya tidak ada yang menggeser. "Orang tua atau wali murid khususnya kelas 1 yang baru, berbondong datang seperti mau demo," ujarnya.

Dirinya mengaku kewalahan meyakinkan orang tua bahwa meja dan kursi yang tersedia cukup dan diminta untuk tidak dipaku. Sebab selain bisa merusak kualitas kursi, juga bisa terjadi keributan di hari pertama sekolah. Para orang tua ini sebut Maman, justru tetap menandai bangku seperti meja dan kursi. Ada yang menaruh kursi di atas meja dengan tas siswa, ada juga yang sampai kursinya ditempel di atas meja bersama tasnya dengan paku. "Bahkan banyak orang tua yang membawa palu ke sekolah. Sehingga suasana sekolah seperti sedang ada pembangunan, karena berisiknya suara paku yang diketok orang tua siswa," tandasnya.

Ia tidak bisa membayangkan hari pertama sekolah, banyak orang tua dan guru sibuk mencabut paku sendiri. Karena bukan saja ramai ke sekolah, orang tua sampai datang ke rumahnya meminta kunci kelas agar dibuka. Lebih parahnya sambung Maman, dalam sehari orang tua bisa datang ke sekolah sampai lima kali untuk memastikan bahwa kursi dan meja yang sudah ditandai tidak digeser. "Memang ruangan kelas ada yang kekurangan meja dan kursi, tapi tidak seharusnya yang sudah ada main paku begitu saja. Bahkan ada orang tua yang datang bersama anaknya, rela menggotong meja dan kursi dari satu kelas ke kelas lainnya." katanya.

Khusus siswa baru, kata Maman, pihak sekolah memikirkan yang terbaik, agar semua siswa kebagian kursi dan meja. Bahkan mungkin berkala tempat duduk siswa ini bergiliran depan belakang, tidak mesti yang di belakang tidak bisa kedepan, atau yang di depan kemudian ke belakang.  "Kita sudah yakinkan ke mereka, tapi ya tetap saja begitu. Bingung saya juga. Bahkan jendela juga sampai ada yang dibobol," katanya.

Lebih jauh Maman mengatakan, fenomena di SDN Pulojaya II sudah kali kedua berlangsung setiap tahun. Ia masih mewajarkan jika itu terjadi di kelas 1. Tapi bagi kelas 2 hingga kelas 6 sampai rebutan bangku serupa membuat dirinya risih. "Hari pertama saya akan datang agak siangan bersama kuncinya, soalnya di sekolah pasti akan rame nanti. Khawatir banyak bangku bergeser dan saling ricuh. Mending kalau pakunya satu, karena satu kursi itu sampai empat pakunya," keluhnya.

Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) Lemahabang Ojat Darojat mengatakan, orang tua murid rebutan bangku tidak terjadi di semua sekolah. Beberapa diantaranya mungkin baru ramai Senin pagi, sebab biasanya orang tua atau wali murid datang lebih pagi buta agar anaknya bisa duduk di kursi paling depan. "Gak semua sih, paling juga biasanya perginya pagi buta dari subuh banyak, dan rame," katanya.

Koordinator Wilayah Kecamatan Bidang Pendidikan (Koorwilcambidik) Lemahabang AT Sukarsa menyebut, apa yang dilakukan orang tua itu karena sangat sayang sama anaknya. Mereka ingin memberikan yang terbaik buat putra atau putrinya. "Itu harus diapresiasi. Tapi bukan berarti harus merusak fasilitas sekolah, seperti menancapkan paku-paku ke kursi dan meja sekolah," tuturnya. (rud)
Berbagi Artikel :
 
Support by : Admin Mang RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template