Nyambi Jadi Kadus Hingga Panitia Pilkada - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Nyambi Jadi Kadus Hingga Panitia Pilkada

Nyambi Jadi Kadus Hingga Panitia Pilkada

Written By Admin Raka on Rabu, 04 Juli 2018 | 12.30.00

Cara Pak Dedi Siasati Kebutuhan Hidup

KARAWANG, RAKA - Guru adalah salah satu elemen penting dalam dunia pendidikan. Dalam tugasnya ini, guru harus mampu mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik. Sebagai sutradara dalam sebuah kelas, guru harus pandai dan mampu mengatur semua itu agar padu selama proses pembelajaran.

Guru juga masih menjadi cita-cita favorit bagi beberapa orang termasuk siswa sekolah. Mengapa, karena guru merupakan pekerjaan yang mulia, bisa membagi ilmu dengan orang lain, serta mendapat gaji menjanjikan. Guru yang menyandang status PNS akan setuju dengan hal ini. Gaji pokok yang tetap, jaminan uang pensiunan, ditambah dengan adanya tunjangan sertifikasi membuat kelebihan nilai tersendiri, betapa menggiurkannya pekerjaan sebagai guru jika berstatus PNS. Namun, permasalahannya adalah bagaimana jika belum berstatus PNS seperti guru honorer. Hal itu yang dirasakan oleh Dedi Mahendra Spd.I, seorang tenaga honorer di salah satu sekolah swasta di ujung perbatasan Kecamatan Pangkalan yaitu di SMP IT Bina Al Jihar, di Desa Cigunungsari, Kecamatan Tegalwaru, yang mesti pintar mensiasati untuk kebutuhan sehari-harinya.

Dirinya pun membeberkan bahwa gaji seorang guru honorer memang jauh disebut berkecukupan. Hanya saja secara moral ingin mengabdikan pengetahuannya kepada siswa dan siswinya, sehingga tetap bertahan menjadi tenaga guru honorer. Dedi pun mengungkapkan dirinya sebagai tenaga guru honorer hampir 10 tahun, namun berkah dirasakan oleh dirinya meski kekurangan namun bisa disiasati agar bisa tercukupi.

Perihal kebutuhan untuk kehidupan sehari-hari, Dedi yang dibantu istrinya yang juga sebagai tenaga pendidik dengan status guru honorer tidak membuat patah semangat. Dengan gaji yang diserimanya sebulan Rp 500 ribu, membuatnya harus putar otak agar bisa menutupi segala kebutuhan. Bahkan segala bentuk pekerjaan yang tidak menyita waktu untuk bisa mendedikasikan dirinya sebagai mengajar dilakoni. Seperti menjadi kepala dusun, panitia persiapan pilkada dan kegiatan yang lain demi mendapatkan uang tambahan.

Dedi yang juga tokoh pemuda di Kampung Parakanbadak, Desa Mekarbuana, Kecamatan Tegalwaru, mengungkapkan, sudah menjadi rahasia umum jika guru yang belum berstatus PNS memiliki pendapatan yang bisa dikatakan kurang. Terlebih lagi untuk mereka yang sudah mepunyai tanggungan keluarga. Dengan gaji kurang dari satu juta, lebih parah ada yang masih digaji Rp 300 ribu per bulan, tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Bahkan ada yang menyebutkan gaji guru honorer tidak ada seperempatnya gaji pegawai pabrik. Hal ini berbanding terbalik dengan biaya pendidikan yang dulu mereka harus tanggung untuk menjadi seorang guru. "Jika tidak berjodoh di dunia, setidaknya kita akan berjodoh di akhirat,” ungkapnya.

Bukan hanya untuk urusan asmara, kata Dedi, pepatah kuno tersebut juga berlaku untuk guru yang belum berstatus PNS. Setidaknya jika di dunia belum sejahtera menjadi guru, pahala yang berlimpah akan didapatkan di akhirat kelak. Gaji akhirat akan lebih menjanjikan daripada gaji di dunia. "Saya tanamkan prinsip itu supaya guru honorer agar jauh dari kata mengeluh dan putus asa. Mengeluh tidak akan menyelesaikan masalah. Justru akan menambah masalah dalam pikiran kita sendiri dan dapat mengurangi kinerja seorang guru dalam mengajar," tegasnya.

Dirinya pun menegaskan, sebagai guru honorer yang mendapat gaji pas-pasan, tidak akan mengeluh jika tahu cara lain mendapatkan uang. Guru honorer dituntut cerdas secara finansial, agar mampu bertahan dalam derasnya arus persaingan hidup. Cerdas finansial di sini maksudnya bukan hanya cerdas mengelola uang saja, namun juga cerdas mencari uang tambahan. "Banyak cara untuk mensiasatinya. Ada guru honorer yang bisa menjadi seorang peternak, menulis, membuat buku, memberikan les privat, membuka bisnis kuliner, atau bahkan berjualan online adalah pekerjaan tambahan yang bisa dilakukan. Kuncinya adalah ulet dan pantang menyerah. Tanamkan pemikiran bahwa pintu rezeki bisa datang dari mana saja selama itu halal. Bukan hanya dari satu pekerjaan," pungkasnya. (yfn)
Berbagi Artikel :
 
Support by : Admin Mang RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template