Miris, Siswa Pelosok Purwakarta Naik Perahu ke Sekolah - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Miris, Siswa Pelosok Purwakarta Naik Perahu ke Sekolah

Miris, Siswa Pelosok Purwakarta Naik Perahu ke Sekolah

Written By Admin Raka on Rabu, 18 Juli 2018 | 11.00.00

PURWAKARTA, RAKA - Hingar bingar perkotaan Purwakarta dengan segala fasilitas yang menyilaukan mata, ternyata berbanding terbalik dengan keadaan di daerah pinggiran kabupaten yang baru saja menggelar pemilihan bupati.

Tengok saja bagaimana pelajar di Kecamatan Sukasari harus menaiki perahu setiap hari agar bisa sampai ke sekolah. Karena jika melalui jalan darat sangat jauh dan belum tentu aman. Alhasil, minat pelajar SMP di Kecamatan Sukasari untuk melanjutkan pependidikan ke jenjang berikutnya masih rendah. Buktinya, meski telah berdiri sejak 2013 lalu, namun jumlah siswa baru yang mendaftar ke SMAN 13 Purwakarta tak lebih dari 80 pelajar. Padahal SMA ini satu-satunya sekolah negeri di kecamatan tersebut.

Berbagai upaya sudah dilakukan pihak sekolah untuk menarik siswa lulusan SMP masuk ke sekolah ini. Jarak tempuh sekolah yang jauh menjadi penyebab minimnya minat siswa untuk melanjutkan sekolah.

Kepala SMAN 13 Purwakarta Ahmad Riva'i mengatakan, pada tahun ajaran 2018/2019 ini tercatat, jumlah siswa baru yang mendaftar hanya sebanyak 75 orang, padahal jumlah lulusan SMP di Kecamatan Sukasari mencapai 200 orang.  “Sudah enam tahun berdiri jumlah siswa baru di sekolah kami paling banyak 80 siswa,” ujar Ahmad, Selasa (17/7).

Berbagai upaya sudah dilakukan untuk menarik minat lulusan SMP untuk masuk ke SMAN 13, termasuk melakukan sosialisasi ke tiap desa yang ada di Kecamatan Sukasari. “Namun belum membuahkan hasil. Minat anak usia sekolah untuk melanjutkan jenjang pendidikan ke SMA di Kecamatan Sukasari masih rendah," ujarnya.

Tidak adanya transportasi umum serta jarak yang jauh menjadi salah satu alasan anak di kecamatan paling ujung di Purwakarta, ini enggan melanjutkan sekolah ke tingkat SMA.  "Kalau anak-anak yang deket dengan sekolah SMA ini, seperti Desa Kertamanah itu banyak yang meneruskan, namun untuk desa yang jaraknya jauh dengan sekolah SMA seperti Desa Ciririp, Desa Sukasari dan Desa Parungbanteng itu banyak anak yang enggan meneruskan sekolah ke tingkat SMA,"  kata Ahmad.

Sebab, kata dia, saking jauhnya sejumlah pelajar terpaksa harus menggunakan perahu jika berangkat menuju sekolah. "Kami sediakan perahu untuk mengantar jemput mereka untuk pergi ke sekolah, namun jumlah perahu yang kami miliki cuma satu buah dan itu harus digunakan antar jemput 35 siswa, sedangkan daya angkut perahu cuma untuk 15 orang dalam sekali jalan. Karena keterbatasan perahu tersebut, jadi siswa-siswi yang lain harus nunggu dulu," ujar Ahmad.

Sementara, salah seorang siswi kelas 3 SMAN 13 Purwakarta, Siti Nuraeni (18) mengaku, selama hampir tiga tahun dirinya menggunakan transportasi perahu untuk ke sekolah SMA, jika menggunakan jalur darat jauh dan tak ada transportasi umum. "Kalau pake jalan darat jauh pak, saya lebih baik pake perahu aja. Namun harus nunggu antrian, karena perahu milik SMA cuma satu. Sedangkan kalau pake perahu yang lain ongkosnya lumayan mahal pak, bisa Rp 10 ribu untuk sekali jalan saja," ujar Siti. (gan)
Berbagi Artikel :
 
Support by : Admin Mang RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template