Kok Harga Telur Naik Terus, Ada Apa Ya? - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Kok Harga Telur Naik Terus, Ada Apa Ya?

Kok Harga Telur Naik Terus, Ada Apa Ya?

Written By Admin Raka on Minggu, 15 Juli 2018 | 14.30.00

PURWAKARTA, RAKA- Sejak beberapa pekan terakhir, harga telur di Kabupaten Purwakarta  mengalami kenaikan cukup signifikan yang kini mencapai harga Rp28 ribu per kilogramnya. Padahal, sebelum naik harga telur biasanya Rp 17 ribu hingga 20 ribu per kilogram.

Salah seorang pedagang telur di Pasar Rebo Purwakarta, Gugun (32), mengaku kenaikan tersebut mulai dirasakan secara bertahap usai Hari Raya Lebaran. "Setelah lebaran, normalnya harga telur dikisaran 20-25 ribu per kg. Lama-lama naik hingga kini harganya mencapai Rp 28 ribu," jelasnya.
Kenaikan harga tersebut menurut Gugun, karena pasokan telur yang tidak sebanding dengan jumlah permintaan konsumen. "Pasokan telurnya sedikit. Usai lebaran sampai kini biasanya kiriman telur dari Jawa Timur sehari satu truk, kini harus nunggu dua hari baru ada kiriman satu truk," jelasnya.
Akibat kenaikan harga telur tersebut, Gugun merasakan adanya penurunan jumlah pembeli. "Ya harga telur naik, otomatis yang pada beli telur juga berkurang," jelasnya.

Meski menurut pengakuan pedagang, naiknya harga telur diakibatkan jumlah stok telur yang sedikit dibandingkan permintaan konsumen. Namun, alasan berbeda disampaikan salah satu produsen telur ayam, Lili Abdulah (36), warga Babakancikao, Kabupaten Purwakarta. Menurutnya, naiknya harga telur ayam dipengaruhi oleh kenaikan harga pakan ayam. "Menurut saya, naiknya harga telur akibat penyesuaian kenaikan pakan ayam yang naik dua kali lipat dari sebelum lebaran. Biasanya, sekuintal Rp540 ribu jadi naik Rp550-560 ribu," katanya.

Selain naiknya harga pakan, Lili juga mensinyalir, naiknya harga telur dipengaruhi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). "BBM naik, jadi pendistribusian telur dari peternak ke pedagang juga otomatis ongkosnya naik kan, jadi berimbas ke harga telur," jelasnya.

Sementara itu, faktor ketiga yang menyebabkan harga telur naik adalah masa ayam petelur yang sudah tidak produktif. "Kebanyakan sekarang para produsen telur, ayamnya sudah masuk masa apkiran, jadi harus beli ayam petelur lagi," katanya.

Di sisi lain, terkait masalah cuaca yang akhir-akhir ini dirasakan sangat panas dan kering akibat pengaruh musim kemarau, menurut Lili, hal tersebut tidak mempengaruhi produksi ayam petelur. "Cuaca gak jadi masalah. Produksi telur masih bagus. Dalam sehari masih bisa produksi 35 Kg per hari," pungkasnya.  (gan)
Berbagi Artikel :
 
Support by : Admin Mang RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template