Santri Dididik Mandiri di Pesantren Nihayatul Amal - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Santri Dididik Mandiri di Pesantren Nihayatul Amal

Santri Dididik Mandiri di Pesantren Nihayatul Amal

Written By Admin Raka on Senin, 04 Juni 2018 | 12.30.00

Selain Ngaji, Santriyah Jago Masak


RAWAMERTA, RAKA - Kecamatan Rawamerta dikenal sebagai kota santri. Tak salah memang, karena kelengkapan jenjang pendidikan di Pondok Pesantren Nihayatul Amal (PNA) Rawamerta terbilang kumplit. Mulai dari PAUD, MI, MTs, hingga Aliyah. Bahkan membuka kesempatan juga bagi santri salaf laki-laki maupun perempuan.

Selain santri salaf laki-laki, ada juga santriyah salaf khusus perempuan yang bermukim di Al Banat PNA. Sama halnya dengan santri, para santriyah digembleng ilmu pengetahuan tentang kitab kuning, diawali dengan pengajaran kitab persiapan bagi pemula, hingga kitab yang paling tinggi, yakni kitab yang lebih memperdalam kajian ilmunya secara rinci.
"Biasa kayak santri salaf, mulainya dari kitab pemula dulu. Kalau sudah hafal dan paham, baru beranjak ke kitab lain yang lebih rinci penjelasannya," ujar salah satu Santriyah Al Banat PNA, Linda (27) kepada Radar Karawang.

Linda yang kurang lebih sudah menjalani pesantren salaf selama 9 tahun, menyebutkan, di sela kewajibannya mengaji, dirinya juga sering disibukan dengan membantu kegiatan lainnya di dapur pemilik pesantren. Karena menurutnya masih banyak yang bermanfaat selain di luar kewajibannya mengaji. "Ya bukan hanya ngaji, kita juga sering bantu apa aja yang kita bisa. Lumayan buat bekal nanti. Seperti masak dan bantu-bantu," ucapnya.

Menurutnya, di setiap tempat pengajian ponpes salaf, santri atau santriyah jangan hanya terfokus kepada pelajaran mengaji. Karena di pesantren salaf merupakan tempat yang luas untuk melakukan berbagai hal, yang nantinya akan diimplementasikan di lingkungan keluarga, maupun masyarakat. "Kalau kita hanya fokus ngaji, kita gak bakal tahu ilmu yang lain seperti tanggung jawab kita setelah keluar dan membina rumah tangga," katanya.


Khususnya santriyah diharuskan untuk tidak berdiam diri di dalam kobong setelah pengajian selesai. Karena masih banyak kewajiban seorang wanita ketika melayani suaminya kelak.

Senada dengan Linda, Riva Azizatunnisa santriyah Al Furqon Kosambi yang saat ini menjadi staf pengajar di salah satu SMP. Kobong merupakan tempat untuk orang yang mempersiapkan kemandirian. Karena selain jauh dari orang tua, berbagai aktivitas akan dilakukannya sendiri. "Nyuci baju, piring, dan aktivitas lainnya kita lakukan sendiri sejak masuk ke kobong. Makanya kita benar-benar dituntut untuk mandiri," jelasnya.

Hingga saat ini, satu hal yang masih menjadi kenangan saat menjadi santri yaitu bisa menjalankan aktivitas dan memenuhi kebutuhan pribadinya tanpa ada campur tangan orang lain maupun orang tua. "Selain mendapatkan ilmu agama, kita juga sudah terbiasa mandiri ketika menghadapi persoalan apapun. Itulah baiknya menjadi santri," pungkasnya. (rok)
Berbagi Artikel :
 
Support by : Admin Mang RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template