Di Cilamaya, Jokowi Bicara Ekses Pilkada - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Di Cilamaya, Jokowi Bicara Ekses Pilkada

Di Cilamaya, Jokowi Bicara Ekses Pilkada

Written By Admin Raka on Kamis, 07 Juni 2018 | 12.30.00

CILAMAYA WETAN, RAKA - Turun dari helikopter Super Puma di Lapangan Desa Bayur Lor, Kecamatan Cilamaya Kulon, Presiden Joko Widodo akhirnya meluncur ke Pondok Pesantren Ashiddiqiyah, Kecamatan Cilamaya Wetan, sekira pukul 09.30 WIB, Rabu (6/6).

Kedatangan Jokowi ke ponpes pimpinan KH Hasanuri Hidayatullah, itu sebelumnya sempat gagal dua kali. Namun, sambutan yang diberikan kepada orang nomor 1 di Indonesia itu tetap istimewa. Berpeci hitam, berkemeja putih, berjas dan celana hitam kotak bergaris putih, Jokowi didampingi Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Agum Gumelar dan Kepala Staff Khusus Kepresidenan Teten Masduki. Mantan Wali Kota Solo itu bersilaturahmi dengan 1.500 alim ulama dan tokoh masyarakat Karawang.

Dalam sambutannya, Jokowi mengingatkan pentingnya pengetahuan bahwa Indonesia merupakan negara dengan penduduk muslim terbanyak di dunia. Dengan modal 17 ribu pulau, 714 suku dan 1.100 bahasa lokal, diharapkan bisa dijaga kerukunannya. Sebab, Indonesia di mata dunia begitu sangat dihormati. Buktinya saat dia berkunjung ke Saudi Arabia, Raja Salman menyambutnya di depan pintu pesawat. Begitu pun dengan pertemuan seratus ulama dunia yang tak lazim dalam penyambutannya selama ini pada Indonesia. Penghargaan, kerukunan dan persatuan ini sebut Jokowi, dia titipkan juga kepada para ulama untuk dijaga. Jangan sampai gara-gara pemilihan bupati, pilkada gubernur bahkan presiden, masyarakat tercerai berai, tidak saling tegur sapa dengan saudara-saudata lainnya. "Saya titip, jangan sampai karena beda pilihan dan demokrasi pemilu, memecah belah kita. Karena kita punya modal besar yang namanya kerukunan," katanya.

Jokowi menambahkan, membangun stabilitas ekonomi harus disertai juga dengan stabilitas politik dan keamanan. Karena Indonesia merupakan negara besar. Jangan sampai dikagumi di luar, tapi retak didalamnya, karena soal pilihan adalah bebas. Siapapun boleh memilih sesuai dengan keinginan masing-masing yang dianggap baik dalam berdemokrasi. Maka wajar, jika dalam pertemuan 100 ulama dunia, Indonesia mengusung Islam Wasathiyah yaitu yang moderat dan menjaga ukhuwah Islamiyyah dan ukhuwah wathoniyahnya. "Gunakan hak politik dengan baik, silahkan pilih yang baik saat pilkada. Setelah itu rukun lagi," pesannya.

Pimpinan Pondok Pesantren Ashidiqiyah KH Hasanuri Hidayatullah mengatakan, pesantren bukan saja sebatas lembaga pendidikan agama, tapi juga ikut berjuang memerdekakan bangsa, bahkan berkiprah dalam ekonomi kemasyarakatan. Karenanya, pesantren akan terus eksis dengan ajaran-ajaran yang tentu saja sudah mengadopsi kurikulum yang menyesuaikan dengan lembaga formal pada umumnya. Bahkan santri pesantren diakuinya sudah berkiprah dan berjuang membangun bangsa, disamping melahirkan generasi bangsa. "Merupakan kehormatan dan kebanggaan bagi kami atas kegiatan silaturahmi bersama bapak Presiden, setelah sebelumnya dua kali ditunda," katanya.

Hadir dalam kegiatan silaturahmi presiden tersebut, sejumlah ulama dan kiai pimpinan pondok pesantren di Jawa Barat, diantaranya KH Nuh Addawami dari Garut, KH Khaerul Anam dari Cianjur, KH Adang Badrudin Cipulus Purwakarta, KH Abun Bunyamin dari Al Muhajirin Purwakarta, KH Idaman Cirebon dan KH Muhtadi Al Hafidz Karawang serta Rois Syuriah PCNU Karawang KH Ade Fatahillah. (rud)
Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template