Bangga Jadi Santri Ponpes Al-Ikhlas Proklamasi - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Bangga Jadi Santri Ponpes Al-Ikhlas Proklamasi

Bangga Jadi Santri Ponpes Al-Ikhlas Proklamasi

Written By Admin Raka on Sabtu, 02 Juni 2018 | 12.45.00

Dua Minggu Tuntas Satu Kitab

KARAWANG, RAKA - Zaman now penuh dengan tantangan. Sedikit salah gaul, bisa terjerumus pada perbuatan negatif. Orang tua pun resah. Karena tidak sedikit anak-anak zaman sekarang yang terjebak pergaulan bebas.

Solusinya adalah masuk pondok pesantren. Tengok saja Pondok Pesantren Al-Ikhlas Proklamasi. Tak satupun santri dan santriwatinya lupa menjalankan ibadah. Setiap hari bergelut dengan buku dan kitab. Hebatnya, santri di sana sangat bangga menjadi bagian dari pondok pesantren. Santriwati Ponpes Al Ikhlas Proklamasi, Rizki Nur Hamidah (15) misalnya. Dia bercerita, sudah tiga tahun mondok dan mendapatkan beragam ilmu. Menurutnya, tidak enak dan asyik saat waktu muda tidak menjadi santri. "Saya bangga banget jadi santri. Belajar ilmu agama sudah pasti, ilmu umum banyak dan bertambah juga saudara saat di pondok. Maka kalau tidak jadi santri menurut saya rugi," katanya kepada Radar Karawang.

Dikatakan Rizky, pembelajaran yang padat mulai di sekolah dan di pondok pesantren, awalnya membuat dia mual. Karena ilmu yang dipelajari tidak satu, tapi lebih banyak dibanding pelajar yang tidak mondok. "Saya belajar umum karena sekolah menengah kejuruan (SMK) dan di ponpes belajar kitab kuning," ucapnya.

Ketua Pondok Pesantren Al Ikhlas KH Nasehuddin, mengatakan, dia mulai membangun pondok pesantren tahun 1976. Berawal dari lembaga pendidikan pertama dan terdepan dalam tubuh Yayasan Islam Al-Ikhlas Proklamasi menggandeng lembaga pendidikan umum dari tingkat TKQ/RPQ, MI, MTs, dan SMK. "Pengajian disini setiap bulan Ramadan selalu ditingkatkan dengan penambahan pembelajaran. Hari biasanya belajar hanya satu kitab dalam satu bulan. Tapi karena ini bulan Ramadan, ngajinya menjadi satu kitab itu bisa sampai 2 minggu," katanya.

Ia melanjutkan, bulan suci ini selalu dimanfaatkan dengan penambahan pembelajaran kitab-kitab. "Disini kita belajar beragam kitab mulai tauhid, tafsir fiqih dan lainnya. Semuanya kita pelajari," ucapnya.

Santri yang kini mencapai 250 orang mulai laki-laki dan perempuan, kata Nasehuddin, selalu diberi nasihat agar menjaga pergaulan. "Selain siswa, orangtuanya juga harus diberi pemahaman. Seperti pengaruh handphone dan internet," katanya.

Menjaga para santri dan satriwatinya tetap fokus mempelajari ilmu agama, kata Hasehuddin, di pesantrennya tidak dibolehkan ada handphone. "Banyak orang tua khawatir dengan tantangan zaman dan kondisi saat ini. Untuk itu, kami pesan seluruh remaja melalui orang tua agar memasukan anak-anaknya ke pesantren," katanya. (apk)
Berbagi Artikel :
 
Support by : Admin Mang RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template