Ribuan Jamaah Padati Makam Pendiri Ponpes Nihayatul Amal - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Ribuan Jamaah Padati Makam Pendiri Ponpes Nihayatul Amal

Ribuan Jamaah Padati Makam Pendiri Ponpes Nihayatul Amal

Written By Admin Raka on Jumat, 11 Mei 2018 | 17.00.00

RAWAMERTA, RAKA- Haul ke-12 pendiri Pondok Pesantren Nihayatul Amal (PNA) Rawamerta, almarhum almaghfurlah KH Ahmad Bushaeri, dibanjiri ribuan jamaah serta alumni Pondok Pesantren Nihayatul Amal (PNA) yang berduyun-duyun memadati tempat pemakaman terakhir ulama terkemuka tersebut. Mulai dari para santri, kiai, hingga para pejabat.

Dikatakan sekretaris alumni PNA, H Ubaidillah Haris, sepeninggal KH Ahmad Bushaeri pada tahun 2006, acara haul yang di laksanakan pada bulan Sya'ban tersebut tidak pernah sepi dari jamaah. "PNA didirikan oleh almarhum KH Ahmad Bushaeri sejak tahun 1963, sudah banyak santri di sini yang sudah menjadi kiai lagi dan ikut haul bersama," ucapnya, kepada Radar Karawang, Kamis (10/5) kemarin.

PNA yang saat ini di pimpin oleh, KH Bubun Bunyamin Bushaeri, telah banyak mencetak para santri hingga menjadi kiai yang menyebar hingga ke pelosok Karawang dan bahkan ke luar Karawang. Tidak aneh jika setiap kali melaksanakan haul, seluruh lingkungan PNA dijejali para alumni dan jamaah lainnya yang mengharapkan keberkahan pendiri PNA tersebut. "Setelah KH Bushaeri, PNA di pimpin oleh KH Abdul Basith Bushaeri selama 11 tahun," ucapnya.

Senada dengan H Ubaidillah Haris yang sekaligus Muhtasar MWCNU Rawamerta, KH Bubun Bunyamin Bushaeri mengatakan, keberadaan PNA bukan hanya di Karawang, saat ini PNA sudah banyak mempunyai cabang hingga keluar pulau, seperti di Lampung dan Kalimantan. Hal tersebut karena penyebaran agama yang dilakukan KH Bushaeri tidak pernah memandang kulit luar seseorang.

Adapun pembelajaran yang diberikan kepada santri terfokus kepada kitab kuning dengan ngaji nahwu atau alat seperti Jurumiyah, Imriti hingga alfiyah. Adapun ilmu fiqh, tasawuf, ilmu Alquran, dan yang lainnya sebagai pelengkap. Karena dirinya menyebutkan, dengan mempelajari ilmu alat, merupakan awal pembuka santri untuk bisa membedah ilmu-ilmu lainnya. "Bukan tidak dikaji, semua ilmu akidah dan akhlak sudah pasti dikaji. Namun lebih menitik beratkan kepada ngaji alat, karena ngaji alat bisa di pergunakan untuk membedah isi kitab-kitan lainnya," katanya. (rok)
Berbagi Artikel :
 
Support by : Admin Mang RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template