Calo Gabah 'Cekik' Petani - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Calo Gabah 'Cekik' Petani

Calo Gabah 'Cekik' Petani

Written By Admin Raka on Senin, 21 Mei 2018 | 12.15.00

CILAMAYA KULON, RAKA - Jika ada yang menyebut tengkulak alias bandar adalah pemain harga gabah, nampaknya hal itu sudah bergeser. Karena saat ini yang lebih banyak memainkan harga gabah adalah calo.

Tak tanggung-tanggung, mata rantai calo dari mulai calo wilayah sampai calo harga, meraup untung Rp 10 ribu per kwintalnya. Ulah para calo juga kerap memanfaatkan selisih harga gabah dari tengkulak ke petani. "Kalau harga kering dan mahal memang masih untung. Tapi kalau murah masih di calo, ini makin mencekik petani," kata petani asal Desa Kiara, Kecamatan Cilamaya Kulon, Agus Suryana (58) kepada Radar Karawang, Minggu (20/5) kemarin.

Calo wilayah sebutnya, sudah marak dan dianggap lumrah karena ada di tiap desa. Tapi yang lebih merepotkan adalah calo yang mengganjal harga gabah dari tengkulak. Mereka kerap menawar harga gabah seenaknya. Padahal tengkulak sudah memberi persenan, tapi tetap dipotong oleh calo dengan selisih Rp 2-3 ribuan per kilogram gabah. "Kalau yang wilayah sih selalu ada. Tapi yang bikin pusing juga itu calo yang suka ganjel harga," keluhnya.

Petani asal Lemahabang, Kari (45) mengatakan, segerombol calo semakin membuat resah para petani setiap kali panen. Apalagi di musim panen kering dengan harga yang dianggap menguntungkan. "Calo gabah adalah mereka yang menawari petani ke tengkulak atau bandar, sehingga tengkulak dengan petani tidak bisa transaksi langsung," ujarnya.

Ia mencontohkan, harga gabah ditawari tengkulak Rp 500 ribu per kwintal, tapi calo gabah mengeksekusi harga ke petani Rp 480 ribuan per kwintalnya. Sehingga dalam satu kwintal petani kehilangan Rp 20 ribuan. "Jika dikalikan dengan tonase sudah berapa juta calo meraup untung dari 'comblang' harga tersebut," ujarnya.

Lebih parah lagi sebut Kari, uang dari tengkulak yang dibayarkan ke calo, seharusnya disetorkan ke petani. Tapi malah diutang. Bahkan tak sedikit petani merugi dan uangnya dibawa calo. "Harga dari tengkulak mah stabil, tapi dipotong selisih sama calo. Walaupun Rp 20 ribu per kwintal, tapi kalau tonase kan berapa jutaan. Mending dibayar langsung, banyaknya juga diutang," sesal Kari.

Petani asal Desa Karangtanjung ini menambahkan, selain calo gabah, ada juga calo wilayah yang tugasnya mengecek truk angkut gabah. Mereka menjatah Rp 10 ribu per kwintal. Bayangkan sebut Kari, jika di satu desa ada ratusan hektare dengan angkutan truk lebih dari 10 unit saat panen. Kalau dirata-rata satu truk dengan tonase 5 ton Rp 1 jutaan, berarti calo wilayah mendapat Rp 10 juta sehari. Kondisi ini membuat petani kewalahan. Pasalnya, selain modal, buruknya akses jalan membuat para petani mengeluarkan ekstra biaya untuk membayar ojek gabah dari sawah sampai ke perkampungan. Biayanya hingga Rp 10 ribu setiap tiga karung. "Tak jarang sesama calo juga ribut karena selisih harga beda dari yang satu dengan yang lain, sebab bisnis jatah ini sangat menguntungkan," katanya.

Ia berbicara seperti ini sebut Kari, bukan karena anti pada calo. Tapi alangkah baiknya kalau pemerintah menertibkan calo dalam sebuah wadah koperasi atau lainnya di bawah pengawasan kepolisian. Sebab, permainan harga tidak jadi soal bagi petani karena sifatnya tawar menawar. Tapi persaingan antarcalo yang membuat resah masyarakat. "Saya gak anti calo, silahkan nyari duit mah. Cuma yang wajar saja, bersaing antarcalo dan harga sepatutnya. Kalau bisa tengkulak bayarnya langsung ke petani, selama ini kan enggak," herannya. (rud)
Berbagi Artikel :
 
Support by : Admin Mang RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template