Belajar Quran Sambil Beternak di Pesantren Babusalam - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » , » Belajar Quran Sambil Beternak di Pesantren Babusalam

Belajar Quran Sambil Beternak di Pesantren Babusalam

Written By Admin Raka on Kamis, 17 Mei 2018 | 12.30.00

Santri Boleh Menetap Seumur Hidup

TEGALWARU, RAKA - Wajahnya sumringah. Tidak terlihat tegang, apalagi sedih. Setiap azan berkumandang, mereka bergegas ke masjid yang letaknya berada di tengah pondok. Kupiah di kepala, bersarung, dan berpakaian bersih, menjadi ciri khas santri-santri yang mondok di Pesantren Babusalam Cipeuteuy, Desa Mekarbuana, Kecamatan Tegalwaru.

Setiap hari para santri mempelajari Alquran, hadits, serta kitab-kitab kuning berbahasa Arab. Di waktu senggang, mereka seperti remaja pada umumnya saling bercengkrama, bersenda gurau, dan sesekali membersihkan karpet masjid atau sajadah di sungai yang letaknya tidak jauh dari pondok. Bukan hanya itu, pengelola pesantren juga mengajari mereka cara bercocok tanam hingga mengurus hewan ternak.

Pesantren yang dibangun oleh Abah Sajun atau biasa dipanggil Ajengan Sajun, menjadi salah satu pusat kajian Islam di Kecamatan Tegalwaru. Guru besar yang sudah wafat 10 tahun lalu, itu berhasil membangun pondasi keimanan warga Tegalwaru. Maka wajar jika kecamatan di ujung Karawang bagian selatan itu kerap disebut sebagai daerah santri. Warga Kampung Cipeuteuy yang kurang mampu pun bisa leluasa belajar di pesantren tersebut. Ruang mengaji di dalam bilik dan meja dengan bale-bale atau rangkang-rangkang, ini sangat tradisional dan berbudaya khas Sunda sampai sekarang ini. Program belajar di Babusalam pun masih menggunakan metode lama. Namun apabila santri masih sanggup menetap dan masih mau melanjutkan pendidikannya, dibolehkan tinggal di pondok pesantren selama-lamanya, mengaji tanpa batas. Alhasil, tidak sedikit dari mereka yang menuntut ilmu di Babusalam berhasil mengikuti jejak ulama.

Kini, Pondok Pesantren Babusalam dipimpin oleh putra tertua dari ajengan Satibi, yaitu Ustad Agus Abdul Qudus, didampingi tokoh agama Kampung Cipeuteuy, Engkan Sukandi, serta beberapa santri yang dituakan seperti Dede, Aples dan Iwan. "Santri sekarang dan dulu berbeda. Jumlah santri di Babusalam mencapai ratusan santri. Kini sudah banyak pesantren-pesantren lain di Kecamatan Tegalwaru," ungkap Iwan kepada Radar Karawang, Rabu (16/5) kemarin.

Ia melanjutkan, santri di Babusalam juga bersekolah umum di luar lingkungan pesantren. "Pesantren kami memang tradisional. Selain mengaji, kami didik juga ke pengetahuan yang lain, sehingga mereka sudah siap terjun ke masyarakat," pungkasnya. (yfn)
Berbagi Artikel :
 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template