Anak Spesial untuk Orang Tua Spesial - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Anak Spesial untuk Orang Tua Spesial

Anak Spesial untuk Orang Tua Spesial

Written By Admin Raka on Senin, 14 Mei 2018 | 12.30.00

Rumah Bersama Didik Anak Berkebutuhan Khusus Jadi Mandiri

KOTABARU, RAKA - Anak itu menjerit-jerit saat tangannya menyentuh rumput. Sulit berkomunikasi, seolah memiliki dunia sendiri. Terkadang dianggap anak-anak aneh. Bahkan, oleh orang tuanya sendiri kerap tidak diakui. Dianggap aib.

Namun, mereka tetap anak-anak. Mereka berhak menjalani hidup dengan bahagia. Tidak satupun dari mereka yang boleh diperlakukan seenaknya. Karena bagaimana pun, anak-anak berkebutuhan khusus maupun down syndrome memiliki jalan hidup yang sama dengan orang-orang kebanyakan.

Kesadaran jika anak-anak berkebutuhan khusus memiliki hak yang sama dengan anak-anak pada umumnya, terus dikampanyekan oleh para pengurus dan pengajar Rumah Bersama. Sebuah sekolah untuk anak berkebutuhan khusus, down syndrome di Perumahan Pondok Mekar Indah 2 Blok F9 No 18-19, Desa Pangulah Utara, Kecamatan Kotabaru.

Belum lama ini, pengelola bersama para guru Rumah Bersama menggelar acara parenting bertema "Hubungan Kemampuan Bicara Anak dengan kemampuan Sensor Motorik Anak". Tidak tanggung, mereka mendatangkan Wakil Ketua Ikatan Okupasi Terapis Indonesia (IOTI) DPD Jawa Barat Sofa Bassal sebagai pembicara.

Pendiri Rumah Bersama Maya Sari Dewi mengatakan, anak-anak berkebutuhan khusus adalah tabungan akherat. "Mereka sangat spesial. Mereka tidak boleh ditelantarkan. Mereka adalah tabungan akherat," ungkapnya saat membuka acara parenting.

Ia melanjutkan, Rumah Bersama yang didirikannya bersama Neli Alwiah dan Nenny Sumaryati, terus berusaha agar anak-anak berkebutuhan khusus bisa menjadi mandiri. "Di Rumah Bersama ada 16 anak. Mereka juga berhak menjalani kehidupan dengan baik dan bahagia," tuturnya.

Sementara Sofa Bassal menjelaskan, kesembuhan anak-anak berkebutuhan khusus ada di tangan orang tua. Selebihnya adalah terapis. Pasalnya, waktu berjam-jam yang digunakan bersama terapis, akan percuma jika orang tua tidak ikut berusaha menyembuhkan anaknya. "Tidak boleh hanya menyerahkan semuanya kepada terapis. Karena sentuhan dan perhatian orang tua sangat penting," ujarnya.

Hal pertama yang harus dilakukan orang tua setelah mengetahui anaknya berkebutuhan khusus maupun down syndrome, kata Sofa, adalah menerimanya. Iklas. Karena jika orang tua menganggap anaknya adalah aib, aneh, bahkan menelantarkan, akan berdampak lebih buruk bagi si anak. "Kalau kedua orang tuanya, atau salah satunya tidak menerima kenyataan ini, anaknya akan sulit sembuh," tuturnya.

Padahal, pola asuh orang tua yang tidak baik saat anaknya masih berusia bayi, menjadi salah satu penyebab seorang anak menjadi berkebutuhan khusus. "Misalnya saat usia anak memasuki masa belajar merangkak, orang tuanya tidak mengajarinya dengan benar. Akibatnya bentuk tulang belakangnya bermasalah, dan itu akhirnya berdampak terhadap perkembangan si anak," katanya.
Di sisi lain, menurut konsultan program sekolah anak berkebutuhan khusus, ini banyak kelebihan yang dimiliki oleh anak-anak berkebutuhan khusus maupun down syndrome. Sebagai contoh, ada anak-anak yang ditanganinya menjadi karyawan teladan di sebuah perusahaan. "Mereka justru kerjanya lebih rapi dibanding karyawan pada umumnya," ungkapnya. (psn)  
Berbagi Artikel :
 
Support by : Admin Mang RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template