ABG Meregang Nyawa Setelah Pesta Miras - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » ABG Meregang Nyawa Setelah Pesta Miras

ABG Meregang Nyawa Setelah Pesta Miras

Written By Admin Raka on Jumat, 04 Mei 2018 | 12.00.00

KARAWANG, RAKA - Minuman keras kembali menjadi biang kerok kematian anak baru gede. Seperti yang dialami AN (15), warga Kelurahan Karawang Wetan, Kecamatan Karawang Timur. Anak bungsu dari pasangan Safei (53) dan Engkon (47), itu meregang nyawa setelah pesta miras bersama lima orang temannya, Rabu (2/5) pukul 00.30 WIB.

Tetangga korban yang melihat keenam remaja itu pesta miras, Ujang (50) mengatakan, mereka menenggak minuman haram itu di sekitaran minimarket, tidak jauh dari kediaman korban. "Mereka minum miras oplosan yang dimasukan dalam botol mineral, sekitar pukul 00.30 WIB," ungkapnya kepada Radar Karawang, Kamis (3/5) kemarin.

Ia melanjutkan, saat melihat perilaku negatif itu, Ujang menegur mereka. Setelah itu, AN meminta agar diantar pulang. Namun bukannya langsung ke rumah, tapi malah dibawa ke rumah temannya. Setelah itu, kelima orang tersebut melanjutkan pesta miras. "AN malam itu sudah diantarkan. Saya ancam mereka kalau terjadi sesuatu akan saya penjarakan semuanya," ujarnya.

Orangtua AN, Safei menyampaikan, anaknya seharian tidak pulang ke rumah. Setelah dicari, AN ditemukan sedang tertidur di rumah temannya. "Sore hari anak dicari sama ibunya. Dapat informasi dari tetangga, anak malam harinya pada minum. Dijemput pulang, saya tampar, suruh mandi dan langsung tidur," ujarnya sambil menahan air mata.

Sesampainya di rumah, AN sudah terlihat loyo. Namun dia tidak mengetahui jelas bagimana anaknya bisa dalam keadaan seperti itu, tidak seperti biasanya. "Pas pulang itu ada lendir di mulutnya, mata melotot ke atas sepeti step," ujarnya.

Sore harinya, kata Safei, AN masih tertidur. Dan pada pukul 23.00 WIB, badannya membiru dan merah. Melihat itu, sang ibu, Engkon mengerok badan AN. Tidak lama kemudian, sekitar pukul 00.00 AN kejang-kejang. "Mata melotot, lalu dibawa ke RS Delima Asih untuk diperiksa. Tapi pukul 03.00 WIB, AN sudah tidak ada," ujarnya.

Kematian anaknya pun selain menyisakan kesedihan juga kebingungan. Pasalnya, biaya rumah sakit mencapai Rp 2 juta. Jika tidak membayar, AN tidak bisa dibawa pulang. "Terpaksa saya pinjam pada tetangga agar bisa membawa pulang anak," tuturnya.

Selain itu, pihak kepolisian meminta agar AN diotopsi, meski Safei mengaku sudah iklas dan tidak ingin anaknya diotopsi. "AN akhirnya dibawa ke Jakarta untuk diotopsi. Saya sudah minta tidak dilakukan, saya sudah ikhlas," ujarnya.

Sementara itu, hingga berita ini diturunkan belum ada keterangan resmi dari kepolisian. Saat disambangi ke Kantor Polsek Kota Kompol Iwan Ridwan. Begitupun ketika dikonfirmasi melalui pesan singkat, tidak berbalas. (apk)
Berbagi Artikel :
 
Support by : Admin Mang RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template