30 Tahun Atikah Lumpuh - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » 30 Tahun Atikah Lumpuh

30 Tahun Atikah Lumpuh

Written By Admin Raka on Senin, 21 Mei 2018 | 17.00.00

Orang Tua Kehabisan Biaya

KUTAWALUYA, RAKA- Hampir 30 tahun tak merasakan hangatnya sinar matahari akibat penyakit polio yang di deritanya, Atikah (30) warga Dusun Bedeng, RT 06/02 Desa Kutajaya Kecamatan Kutawaluya, setiap hari ia habiskan waktunya di atas kasur busa.

Dikatakan sang ayah, Hadi Komarudin (58), sejak dilahirkan kondisi Atikah sehat, namun ketika usianya 8 bulan, Atikah mengalami panas dan kejang-kejang atau biasa di sebut stip. Semenjak saat itu pertumbuhan Atikah dinilai tidak normal meskipun telah sering kali dirujuk ke dokter maupun dirawat secara intensif melalui pengobatan tradisional. "Berobat sudah kemana-mana, mulai dari RSUD sampai pengobatan tradisional, tapi gak ada perubahan," katanya, kepada Radar Karawang.

Hadi yang seorang buruh bangunan ini, mengaku sangat terpukul dengan keadaan anak pertama dari 3 saudara tersebut, ia mengaku telah menghabiskan uang puluhan juta hingga menjual tanah untuk kesembuhan anaknya. Namun sayang, hingga saat ini anak pertamanya tersebut masih tak dapat bergerak lincah layaknya teman seangkatannya. "Saya sudah hampir kehabisan uang untuk biaya berobat," ujarnya.

Setahun lalu, demi kesembuhan anaknya tersebut, ibunya rela bertolak ke luar negeri yakni ke Brunei Darussalam karena sudah merasa kekurangan biaya. Karena sampai saat ini, ibunya Atikah masih sangat berharap melihat anaknya sembuh seperti teman sebayanya yang sudah mempunyai anak. "Maka dari itu, istri saya maksa untuk pergi ke Brunei, katanya masih berusaha untuk Atikah agar bisa sembuh. Karena saya sudah hampir tidak mampu," akunya.

Dirinya berharap, ada donatur dari swasta maupun pemerintah yang tergetar hati melihat kondisi anaknya tersebut. Atikah dinilai rajin beribadah puasa meskipun kondisinya tidak memungkinkan. "Setiap bulan puasa semenjak ia aqil baligh sampai sekarang selalu berpuasa, karena ketika dipaksa untuk buka, dia selalu nolak dan nangis kalau dipaksa buka puasa," ucapnya.

Meskipun dengan keadaan yang serba kekurangan, Atikah diakui tidak pernah merepotkan orangtua. Mulai dari makan dan munum ia lakukan sendiri. Hanya saja untuk minumnya diberikan sedotan, sedangkan untuk makan cukup disodorkan ke hadapannya saja. "Ia gak penah ngeluh karena makanan, kalau masalah buang air itu wajar, karena fisiknya yang kekurangan," paparnya.

Sedangkan menurut Dina Marlina (15) adik bungsu Atikah, dirinya merasa khawatir dengan keadaan kakaknya tersebut. Karena selama ini ia hanya bisa membantu untuk keperluan makan dan jajannya saja. "Khawatir banget, paling kakak minta untuk minta makan aja," tutupnya. (rok)
Berbagi Artikel :
 
Support by : Admin Mang RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template