Ulah Tengkulak, Petani Selalu Merugi - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Ulah Tengkulak, Petani Selalu Merugi

Ulah Tengkulak, Petani Selalu Merugi

Written By Admin Raka on Senin, 09 April 2018 | 14.00.00

Pemda Didesak Buat BUMD Pertanian

JATISARI, RAKA - Meski pertanian merupakan salah satu identitas Karawang. Namun sampai saat ini Pemerintah Daerah Karawang sampai saat ini masih belum berpihak kepada para petani. Hal itu dilihat dari rendahnya harga jual gabah petani saat musim panen berlangaung. Adapun penyebabnya adalah harga gabah dikendalikan oleh para tengkukak.
H.Imron Rosadi, Ketua Gapoktan Sri Tani Kalijati Jatisari, menyampaikan, para petani Kecamatan Jatisari kecewa dengan rendahnya harga gabah hasil panen yang harganya berkisar Rp4.200 perkilogramnya. Padahal harga yang telah ditentukan pemerintah melalui Bulog di atas Rp5.000 perkilogramnya berbagai jenis Gabah Kering Giling (GKG) di atas Rp5.000. "Pemkab Karawang melalui dinas terkait perlu mengeluarkan terobosan terkait pembelian harga gabah. Karena kalau para tengkulak yang berkuasa, maka petani akan selalu merugi setiap panen raya," kata Imron, Minggu (8/4).
Lebih parahnya, sistem pembelian yang dilakukan oleh para tengkulak dilakukan secara ijon atau dihutang. Sementara petani membutuhkan uang kes untuk menmenuhi kebutuhan hidup mereka. Olehkarenanya pemerintah harus turun tangan untuk bisa mengendalikan harga gabah agar petani tidak selalu dirugikan.
 "Tolong bentuk Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Pertanian di Karawang. Agar mata rantai para tengkulak terputus," pintanya.
Dia sendiri meyakini, setelah adanya BUMD, mekanisme pasar tidak akan merugikan petani. Karena pembelian gabah bisa mengikuti harga yang telah ditetapkan oleh pemerintah.
 "Saya kira Pemkab Karawang mampu mendirikan BUMD Pertanian. Ini kalau pemda memang serius ingin membantu petani," ujarnya.
Aca Sutisna (45), petani Desa Sukamekar Kecamatan Jatisari juga menyampaikan, harga gabar pertonnya yang selalu ada di bawah Rp5 juta sangat merugikan para petani. Terlebih jika sawah yang dikelola oleh petani bukan milik sendiri, melainkan milik orang lain atau bos.
 "Sangat merugi sekali jika harga di bawah lima juta pertonnya. Padi yang ditanam di Jatisari biasanya mekongga, ciherang dan inpari 32," singkatnya.(zie)
Berbagi Artikel :
 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template