Permintaan Terminal di Telukjambe Tidak Ditanggapi - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Permintaan Terminal di Telukjambe Tidak Ditanggapi

Permintaan Terminal di Telukjambe Tidak Ditanggapi

Written By Admin Raka on Rabu, 18 April 2018 | 13.30.00

TELUKJAMBE BARAT, RAKA - Permintaan masyarakat Karawang Selatan agar diadakan terminal angkutan umum di wilayah mereka belum ditanggapi Pemerintah Daerah. Padahal wilayah selatan merupakan jalur antar kabupaten, baik Bogor, Bekasi hingga Purwakarta.
Alhasil, karena tidak adanya terminal moda transportasi yang melayani jalur Telukjambe - Badami terpaksa parkir dipinggir-pinggir jalan. Bahkan menjadikan Pertigaan Jalan Badami sebagai terminal bayangan. Hingga mengakibatkan jalur tersebut selalu macet dan semerawut. "Kalau kita ngetem terlalu jauh dari pertigaan, kasian penumpangnya, mereka mesti berjalan jauh. Makanya kita hentikan kendaraan di pertigaan ini," ucap Daeng (38) sopir angkutan kota jurusan Klari - Karawang Kota kepada Radar Karawang, Selasa (17/4).
Dikatakan Daeng, biasanya di jam sore atau pagi penumpang angkutan kota jurusan Telukjambe sampai Unsika dan Badami, penuh oleh penumpang yang akan pergi dan pulang, karena bekerja ke wilayah Bekasi dan Jakarta.
Sementara itu, sebagai pengguna jalan,  Pratama (20) pengendara motor yang hendak bekerja merasa terganggu dengan keberadaan terminal bayangan. Warga Kecamatan Ciampel itu mengatakan terminal bayangan membuat lalulintas di jalan macet dan membuat pengendara lain tidak nyaman. ”Kadang kesal, jalanan jadi macet,” tuturnya.
Dia juga mengatakan, pemerintah belum sigap mengatasi persoalan terminal bagi angkot di wilayah itu. Padahal kalau dibuatkan terminal bukan saja lalulintas jadi tertib tetapi lancar.  ”Karena tidak ada terminal jadi angkot kalau mau ngetem ya di pertigaan Badami itu,” tukasnya.
Pratama menambahkan, agar tidak terjadi penumpukan di pertigaan, minimal pemerintah membatasi untuk angkot yang mau berhenti. Apalagi saat pagi hari. Aktivitas kendaraan cukup padat, kadang angkot ngasal saja memutar balik karena di Badami, trayek akhir dan ngetem di bahu Jalan. "Kalau ada kendaraan besar tidak jarang malah timbulkan antrean panjang kendaraan,” ucapnya.
Hal serupa diutarakan Chaerul (21) mahasiswa Unsika, dia merasa kesal, jengkel dan ingin marah bila harus menghadapi terminal bayangan. "Saya paling kesal kalau ada rambu lalulintas yang melarang berhenti, tapi malah pada ngetem di situ. Kan sudah ada rambu, masa dilanggar,” tuturnya.
Dia menyarankan, kepada pemerintah untuk lebih ketat mengeluarkan SIM untuk sopir angkot. Selain itu, dia juga berharap pihak kepolisian bisa sering-sering mengontrol dan menilang angkot yang ngetem. ”Soalnya mengganggu sekali. Bikin jalanan semakin macet,” pungkasnya. (yfn)
Berbagi Artikel :
 
Support by : Admin Mang RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template