Mak Nami Jagonya Pepes Belut - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Mak Nami Jagonya Pepes Belut

Mak Nami Jagonya Pepes Belut

Written By Admin Raka on Minggu, 22 April 2018 | 11.00.00

KUTAWALUYA, RAKA - Pepes dan goreng belut dipadukan dengan sayur asem. Tak perlu dibayangkan bagaimana nikmatnya ketika dilahap saat masih hangat, tinggal datang langsung ke warung belut milik Mak Nami.
Sejak 10 tahun terakhir, warung belut yang berada tepat di depan kantor Kecamatan Kutawaluya ini sudah menjadi maskotnya hidangan staf kantor kecamatan saat beristirahat. Masalah harga tak perlu khawatir, dilengkapi sayur asem, nasi, dan es teh manis, pepes belut yang kaya akan protein ini sudah bisa dinikmati cukup dengan Rp 15 ribu saja.
Menurut Uun Herawati (40), sejak 10 terakhir sang ibu, Nami sudah bergelut dengan hewan sawah yang licin ini. Mulai dengan cara digoreng, hingga dipepes. Dirinya mengaku lebih memilih mengolah belut, karena rasanya yang berbeda dari ikan lainnya yakni lebih empuk. Meskipun agak sedikit merepotkan saat memprosesnya karena licin, namun memiliki keunikan tersendiri. Karena tidak semua warung penjual nasi bisa menyediakan belut. "Untuk satu bungkus pepes belut saya jual dengan harga Rp 5 ribu, sedangkan untuk goreng belutnya kita jual tergantung besar atau kecilnya belut," katanya kepada Radar Karawang.
Dikatakannya, hewan berlendir ini memang dikenal memiliki kandungan protein yang tinggi, namun jika tidak teliti saat memprosesnya, salah-salah bau amis belut akan tercium dan malah mengurangi nafsu makan pembeli. Dengan paduan rempah alami yang diproses langsung menggunakan tangan manual, tentunya akan menentukan cita rasa dan kenikmatan belut saat dikunyah.
Dalam sehari warung belutnya mendapatkan omset sebesar Rp 2,5 juta, dari 10 kilogram belut yang dia olah. Menurutnya, omset pendapatan yang cukup untuk menghadirkan 2 buah mobil di rumahnya. "Paling sepi pun kita dapet Rp 1 juta dalam sehari. Tapi buka belut aja sih, kan ada bandeng cabe merah, tongseng udang dan lainnya. Tapi emang belut yang jadi menu andalan kita," ucapnya.
Adapun kendala yang dia hadapi yaitu saat datangnya musim kemarau, dimana area pesawahan mulai kering tanpa air. Namun, dengan ketujuh anak buahnya yang khusus pemburu belut. Ia merasa tidak terlalu khawatir, karena mereka semua sudah terlatih. Dan dia mengakui, selain belut sawah, dia tidak menerima jenis belut lainnya seperti moa ataupun sidat. "Kalau untuk sekarang belutnya lagi banyak, pasokan kita sudah punya 10 kilogram lagi untuk dagang besok," terangnya. (rok)
Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template