HGU Pasar Talagasari Mati 25 Tahun - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » HGU Pasar Talagasari Mati 25 Tahun

HGU Pasar Talagasari Mati 25 Tahun

Written By Admin Raka on Kamis, 19 April 2018 | 15.00.00

TELAGASARI, RAKA - Hak Guna Usaha (HGU) Pasar Talagasari harus secepatnya diperbarui setelah lebih 25 tahun habis masa berlakunya. Diharapkan setelah itu nanti retribusi sektor Pasar Talagasari bisa kembali menjadi penyumbang PAD desa. Sementara ini pedagang hanya dipungut Rp 5000 per hari.
Anggota Pol PP Kecamatan Talagasari, Kartawijaya mengatakan, sudah hampir 30 tahun Pasar Telagasari dengan luas lahan kurang dari 1 hektare tersebut habis HGU nya, wacana revitalisasi pasar desa tersebut memang selalu membuat cemas para pedagang. Padahal, setiap tahunnya kalau HGU itu ada pemasukan buat PAD Desa seperti halnya pasar Kosambi, sebab selama ini diakui Kartawijaya para pedagang, PKL dan lainnya hanya dipungut retribusi saja yang pemasukan perharinya sekitar Rp 1 juta.
Karena, jika mengandalkan retribusi, pengeluaran di pasar saja sudah banyak. Seperti kebersihan sampah, keamanan parkir dan petugasnya, sementara pemasukan per tahun sama sekali tidak ada. "Punya HGU tapi para pedagang pasar tak pernah memberi pemasukan setahun sekali buat PAD Desa, kecuali retribusi saja, pasar ini kan sering jadi sindiran pasar Kosambi," katanya.
Lebih jauh Ia menambahkan, dirinya sebagai mantri pasar selama 4 tahun sebelum reformasi merasa perlu mengingatkan agar pemerintah desa tidak terus menerus menina bobokan pedagang pasar yang merupakan orang luar Desa Talagasari. Apalagi, peralihan HGU yang sering tuntas di warung kopi tanpa pemberitahuan ke pemerintah desa. Karena atas dasar itulah, pihaknya berharap kebijakan menyikapi pasar yang sudah habis HGU ini bisa saklek nanti oleh Kades baru Talagasari.
Sebab, banyak anggapan orang luar bahwa Desa Talagasari ini kaya karena memiliki aset pasar desa yang bisa menyumbang banyak PAD, padahal isinya justru ramping dimana para pedagang terlalu lama di ninabobokan. "Kalau ada kios kosong, beralih kepemilikan hanya selesai di warung kopi antara pemegang HGU lama ke yang baru, tanpa lapor ke desa, makannya perlu ada pemimpin desa yang berani seperti itu menindak dan mengambil langkah konkrit untuk pasar lebih tertib dan menguntungkan desa," katanya.
Mantan Sekdes PNS Talagasari ini menambahkan, perlu ada revitalisasi pasar yang akan melibatkan pihak ke 3 dasarnya jelas, karena HGU pasar sudah habis, disamping juga perbaikannya yang mendesak. Seperti jalanan becek sampai dengan instalasi listrik banyak yang rusak dan diperbaiki sendiri. Hal ini khawatir terjadi konsleting listrik dan kebakaran. "Revitalisasi harus bertahap dan dimusyawarahkan dengan para pedagang," katanya.
Sekdes Talagasari Ono Rustono, menambahkan Pasar Desa Talagasari kondisinya sudah semakin becek dan lapuk. Sementara perbaikan yang dilakukan hanya menyentuh drainase dengan dana Rp 30 juta, pasar seluas kurang dari 1 hektar tersebut kenyataannya sulit direvitalisasi total seperti pasar Pemda pada umumnya. Sebab, Pemerintah Desa selama ini hanya mendapati pemasukan kurang dari Rp 1 juta setiap hari, baik dari iuran 250 Kios Rp 2 ribuan perhari, parkir dan PKL hingga kios luar pasar. Biaya itu, dihimpun oleh bendahara pasar dan dialokasikan langsung untuk Pengamanan, Kebersihan pasar dan lainnya, sementara desa hanya mendapati sedikit saja dari PADes pasar tersebut. "Sejuta sehari kalau gak hujan, itu cuma dari kios dan parkir saja, alokasi juga kan buat pengamanan dan kebersihan pasar juga," katanya.
Mengapa tidak bisa menggali potensi lebih dari pasar, karena sebut Ono, selama ini Kios yang dihuni pedagang yang rata-rata luar Desa Talagasari itu ogah memperbaharui HGU yang sebenarnya sudah habis kontraknya. Sebab, sejak 1986, kios Hak guna pakainya hanya 25 tahun, sementara saat ini sudah 33 tahun. Padahal, ia ingin ada revitalisasi Pasar dan membenahi tata kelola pasar Talagasari lebih rapi, sebab dari HGU itu bisa dapati cicilan lazimnya perumahan yang bisa menghimpun uang untuk kembali merapihkan kios-kiosnya. Namun, sebut Ono, ketiadaan bukti HGU tertulis sejak 1986 hingga pedagangnya yang enggan di relokasi sementara, membuatnya kesulitan mewujudkan revitalisasi pasar desa ini. "HGU sudah lewat 25 tahun, tapi tidak ada yang mau memperbaharui, bagaimana mau bisa bangun pasar lebih asri," pungkasnya. (rud)
Berbagi Artikel :
 
Support by : Admin Mang RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template