Fokus Turunkan Angka Bayi Pendek - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Fokus Turunkan Angka Bayi Pendek

Fokus Turunkan Angka Bayi Pendek

Written By Admin Raka on Selasa, 10 April 2018 | 11.30.00

PURWAKARTA,RAKA- Untuk menanggulangi balita pendek (stunting) Unit Pembantu Teknis Dinas (UPTD) Puskesmas Purwakarta, menggalakan program intervensi Gizi yang sudah berjalan dari tahun 2010.
Kepala UPTD Puskesmas Purwakarta Dr Ano Nugraha mengatakan, sudah ada target harus menurunkan kejadian stunting (balita pendek) tidak melebihi 28 persen dari jumlah balita se Purwakarta. "Ada standar panjang badan menurut umur dan tinggi badan menurut umur. Tinggi badannya tidak kurang dari -2 standar deviasi. Standarnya ada grafik sendiri untuk tinggi badan kalau berat badan standarnya di Kartu Menuju Sehat (KMS)," terang Dr. Ano kepada Wartawan, Senin (9/4).
Ia juga mengatakan, balita pendek menggambarkan adanya gizi kronis, pertama dari calon ibu selama masa hamil. "Selama masa hamil ibu tidak boleh gizi buruk, atau ibu hamil kurang energi kalori. Ibu hamil yang kurang energi dan kalori ditandai dengan lingkar lengan atas kurang dari 23 cm, kemudian pada masa bayi sudah lahir harus dipantau tinggi dan gizinya," tambah dia.
Lain lagi, lanjut dia, kalau bayi itu sering sakit itu hal tersebut juga mempengaruhi status gizinya menjadi semakin jelek. "Kalau misalnya ibu pendek dan bapaknya pendek, cenderung bayinya pendek tapi kalau pemberian gizinya bagus pertumbuhan anak bisa tinggi," terang dia.
Hal lain yang dapat menyebabkan bayi terkena stunting ialah pengaruh lingkungan, misalnya ada pencemaran dari orang-orang yang tidak punya jamban, atau yang menyalurkan limbah air ke sungai langsung. Hal tersebut, terang Ano, juga berdampak terhadap penyebaran gizi buruk, dan juga tidak punya sarana air bersih, misalnya penggunaan air dari solokan atau dari kali dan status sosial dan tingkat kemiskinan yang tinggi. "Upaya intervensi dari gizi yang spesifik untuk balita pendek, disebut dengan fokus pada 1000 hari pertama kehidupan, dari sejak ibu hamil, ibu menyusui sampai umur 2 tahun. 2 tahun itu adalah cerminan pemantauan sesuai standar atau tidak, kalau dari awal sudah pendek harus segera dikasih intervensi gizi, biar tidak pendek," imbuhnya.
Lebih lanjut dia mengatakan, untuk tahapan pemantauan seribu hari kehidupan, tahapannya dibagi dua. 270 hari pada saat dalam kandungan, dan 730 hari setelah bayi lahir, yang disebutnya periode emas atau periode kritis. "Kalau ada gangguan atai terlihat kecenderungan pendek bisa diintervensi langsung, bukan hanya ke tinggi badan tapi juga kepintaran akan mempengaruhi bayi dapat asupan gizi baik atau tidak. Selanjutnya kalau masalah stunting bisa diperbaiki, sumber daya manusia Indonesia bisa meningkat," jelasnya.
Selanjutnya ia menyarankan, agar ibu hamil harus mendapatkan tambahan energi, dan minum 90 tablet penambah darah selama kehamilan dan pada saat pertama kali bayi lahir harus didorong untuk diberi asi langsung dari ibu, dan asi itu harus tetap eksklusif tidak dicampur minimal 6 bulan, lebih bagus sampai 2 tahun. "Ditambah imunisasi harus lengkap. Usia balita harus sering dipantau dan dibawa ke posyandu sampai umur bayi lima tahun, yang terakhir intervensi hidup bersih dan sehat, sanitasi lingkungan, jamban bersih keluarga, dan ditambah juga cuci tangan pakai sabun," jelas dia.
Diketahui, di tahun 2013 masih 37 persen masyarakat Indonesia yang masih terdapat stunting. Untuk Rata-rata di Purwakarta masih tinggi, Jawa Barat ke 3 jumlah gizi pendek terbanyak se-Indonesia," pungkasnya. (cr2)
Berbagi Artikel :
 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template