Tanah Bergeser Lagi, Rumah Warga di Telukjambe Timur Retak-retak - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Tanah Bergeser Lagi, Rumah Warga di Telukjambe Timur Retak-retak

Tanah Bergeser Lagi, Rumah Warga di Telukjambe Timur Retak-retak

Written By Admin Raka on Senin, 26 Maret 2018 | 12.00.00

KARAWANG, RAKA - Pergerakan tanah kembali terjadi di Dusun Jatimulya III, RT 01, RW 04, Desa Sukaharja, Kecamatan Kecamatan Telukjambe Timur. Akibatnya ketinggian tanah mengalami penurunan sedalam 3 meter, dan menyebabkan beberapa rumah retak dalam radius 300 meter.
Warga setempat Entah (42) mengatakan, pergerakan tanah ini membuatnya kehilangan satu rumah. "Kita minta tolong dibantu untuk pemancangan. Karena kalau dibiarkan rumah (warga) pasti akan habis. Rumah saya saja sudah habis satu," ungkapnya kepada Radar Karawang, Minggu (25/3) kemarin.
Ia melanjutkan, sepengetahuannya peristiwa itu diakibatkan saat sungai Citarum dilakukan pengerukan beberapa tahun lalu. Dampaknya terus dirasakan hingga saat ini. "Sudah 7 tahunan saja saat adanya pengerukan Citarum. Tahun ini yang paling parah. Kalau sungai surut tanah ikut ke bawah," paparnya.
Warga lainnya, Santoso (45) mengatakan, usai Sungai Citarum dikeruk tahun 2011, pergerakan tanah terus terjadi hingga saat ini. Ia menduga persoalan ini muncul karena tidak ada tanggul penahan atau pembatas antara bibir sungai dengan tanah warga. "Ini tanah milik. Sungai Citarum di belakang tidak ada tanggulnya. Imbasnya kita saat ini. Setiap ada hujan tanah pasti menyusut. Sekarang saja sudah ada 3 meteran," ujarnya.
Menurutnya, saat itu tanah hasil pengerukan Sungai Citarum malah dijual. Padahal jika digunakan untuk pembuatan tanggul, tidak akan muncul persoalan seperti sekarang. "Kalau tanahnya dulu gak dijualin mah, gak mungkin kayak gini," ujarnya.
Saat ini dia hanya bisa pasrah. Santoso hanya bisa melakukan pengurugan untuk meminimalisir dampak yang lebih buruk, karena samping rumahnya kini mulai retak. "Kita sudah habis 34 truk angkutin tanah. Beli satu truknya 600 ribu," ujarnya.
Hingga berita ini diturunkan, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Karawang Banuara Nadeak belum memberikan pernyataan resmi. Berkali-kali dihubungi tidak menjawab.
Sementara itu, dalam laman Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral disebutkan, gerakan tanah di Desa Sukaharja terjadi sejak Januari 2015. Gerakan tanah yang terjadi diperkirakan berjenis rayapan. Sedangkan batuan penyusun di lokasi bencana dan sekitarnya  berdasarkan peta geologi lembar Karawang, berupa endapan dataran banjir yang terdiri dari pasir lempungan, lempung pasiran dan lempung humusan atau gambutan. Melihat itu, faktor penyebab pergerakan tanah diperkirakan karena tanah pelapukan yang bersifat sarang dengan kemampuan meloloskan air tinggi. Dan sistem aliran air permukaan atau drainase yang tidak seluruhnya dibuat kedap, menyebabkan air meresap ke dalam tanah sehingga terjadi penjenuhan. ESDM merekomendasikan agar masyarakat yang tinggal di sekitar daerah bencana lebih waspada, karena daerah tersebut masih berpotensi terjadinya longsor susulan dan diharapkan mengungsi ke tempat yang lebih aman, terutama saat maupun setelah hujan deras yang berlangsung lama. (apk)
Berbagi Artikel :
 
Support by : Admin Mang RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template