Dinas LH tak Punya Pengawas - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Dinas LH tak Punya Pengawas

Dinas LH tak Punya Pengawas

Written By Admin Raka on Minggu, 25 Maret 2018 | 15.30.00

PURWAKARTA,RAKA - Hingga saat ini, Kabupaten Purwakarta tidak memiliki pejabat pengawas lingkungan hidup daerah (PPLHD). Padahal, petugas ini sangat dibutuhkan. Mengingat, Purwakarta merupakan salah satu daerah industri terbesar di Jawa Barat. Imbas dari industri ini, tentunya ada indikasi pencemaran terhadap lingkungan.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Purwakarta, Didi Suardi mengatakan, sampai saat ini instansinya belum memiliki PPLHD. Kalau, PPNS sudah ada satu orang. Padahal, untuk PPLHD ini pihaknya sudah mengusulkan setiap tahun ke pusat. Akan tetapi, hingga saat ini belum direalisasikan saja."Idealnya, kami punya empat PPLHD," ujar Didi, kepada sejumlah awak media kemarin.
Menurut Didi, keberadaan PPLHD ini sangat penting. Sebab, tugas mereka mengawasi keberadaan industri, perusahaan skala menengah maupun kecil dan rumah tangga yang bersinggungan dengan lingkungan. Jika ada pelanggaran, maka petugas PPLHD ini akan memberikan rekomendasi ke PPNS untuk melakukan penyidikam ataupun tindakan yang berujung pada sanksi tegas.
Apalagi, Purwakarta sebagai wilayah industri, sudah selayaknya memiliki PPLHD. Saat ini, instansinya tidak bisa mengawasi industri secara maksimal, sebab keterbatasan SDM. Termasuk, mengenai industri yang diduga telah membuang limbahnya ke Sungai Citarum ataupun anak Sungai Citarum. Saat ini, kalaupun ada tindakan dari LH, hal itu rujukannya hanya berdasarkan pada kasus dan ada bukti otentik. "Misalkan kalau ada keracunan ataupun air sungai berubah warna, lalu kita berhasil menciduk perusahaan pembuang limbahnya, baru kita bisa kenakan sanksi atau teguran," ujarnya.
Terkait dengan perusahaan yang membuang limbahnya ke Sungai Citarum atau anak Sungai Citarum, Didi mengakui, ada 17 perusahaan yang tersebar mulai dari Kecamatan Jatiluhur sampai Kecamatan Babakan Cikao. Yang membuang langsung ke Sungai Citarum, ada enam perusahaan besar. Yaitu, PT South Pacific Viscose, PT Indho Barat Rayon, PT Sinar Sukses Mandiri, dan PT Mitra Jaya Sakti Sentosa, PT Media Antar Kota serta PT Ferroy Alloys. "Tetapi, limbah yang mereka buang sudah sesuai prosedur pengolahan ipal dan ada izinnya," ujar Didi.
Sedangkan, 11 perusahaan lainnya membuang limbah ke anakan Sungai Citarum. Seperti, Sungai Cikao, Sungai Cikuda dan Sungai Cikembang. Anak sungai ini, aliran airnya bermuara ke Sungai Citarum. 11 perusahaan yang membuang limbah ke anakan sungai Citarum itu, di antaranya PT Indorama berserta empat anak perusahannya. PT Metro Pearl, PT Win Tekstil, PT Taroko, PT Urase Prima, PT Kurnia Ratu, dan Perusahaan AMDK milik PJT Jatiluhur.
Sementara itu, Kasi Pengendalian Pencemaran Lingkungan  Bidang Pengendalian Pencemaran Kerusakan Lingkungan (P2KL) Dinas LH Kabupaten Purwakarta, Bayu Nur Setiawan, mengatakan, saat ini Sungai Citarum dari hulu ke hilir memang sudah tercemar berat. Kondisi ini, tak hanya terjadi di Purwakarta saja. Melainkan, sejak dari Bandung hingga ke Karawang ataupun Bekasi, Citarum sudah tercemar. "Saat ini, air Citarum hanya cocok untuk kelas tiga, yakni untuk industri dan pertanian," ujarnya.
Sedangkan, untuk kualias kelas satu yakni air minum, Sungai Citarum sudah tidak cocok lagi. Bahkan, air sungai terpanjang di Jabar ini kondisinya tidak layak minum. Untuk kelas duanya, yakni air bersih, air Citarum juga sudah tidak layak. (gan)
Berbagi Artikel :
 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template