Delapan Hari jadi Pelarian - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Delapan Hari jadi Pelarian

Delapan Hari jadi Pelarian

Written By Admin Raka on Kamis, 08 Maret 2018 | 19.06.00

Ipah dan Tuti Menyambung Hidup di Kantor Dinsos Lima Daerah 

KUTAWALUYA, RAKA - Merasa terancam dan takut dijual ke negeri orang, Siti Sarifatulalpah (24) warga Dusun Bedeng RT 08/02, Desa Kutajaya, Kecamatan Kutawaluya, dan kerabatnya Tuti warga Pebayuran, Kabupaten Bekasi, akhirnya nekat melarikan diri dari tempat penampungan calon Tenaga Kerja Wanita (TKW) di daerah Medan (baca halaman 1 Radar Karawang "Warga Kutajaya Mau Dijual" edisi Rabu 7 Maret 2018). Kini mereka sudah berada di rumahnya setelah delapan hari pelarian. Lalu bagaimana cara mereka kabur hingga sampai ke Kabupaten Karawang, padahal saat itu mereka tidak membawa bekal uang sepersen pun. Berikut adalah kisah pelarian mereka yang diungkapkan kepada wartawan Radar Karawang.
Pagi itu, tepatnya pukul 04.00 WIB, Selasa tanggal 27 Februari, Ipah-panggilan akrab Siti Sarifatulalpah-terbangun dari tidurnya di tempat penampungan. Apa yang dilihatnya sangat tidak diduga. Kunci. Dia melihat kunci pintu tempat penampungan tergantung begitu saja. Entah karena lupa tidak diamankan oleh penjaga tempat yang sudah menahannya selama 22 hari, atau sengaja dibiarkan tergantung. Yang jelas, bagi perempuan berambut lurus panjang, itu adalah satu-satunya kesempatan yang dimilikinya agar bisa kabur dari tempat tersebut. Dia pun membangunkan kerabatnya Tuti dan Uum (53). Tuti setuju ikut dengannya melarikan diri. Namun Uum menolak karena kondisinya sedang sakit. Sejurus kemudian, Ipah dan Tuti melarikan diri tanpa membawa apapun. "Saya bangun jam 04.00, karena posisi kunci rumah masih tergantung. Langsung saja saya kabur meskipun gak bawa apa-apa, hanya baju saja yang dipakai," ucapnya, Rabu (7/3) kemarin.
Selama di rumah penampungan itu, Ipah mengaku bukan hanya dia dan dua kerabatnya saja. Tapi juga ada tiga orang perempuan lainnya. Dua dari Medan. Satu lagi warga Kota Cimahi, bernama Dede.
Di sana, kata Ipah, dokumen kependudukan yang dimiliki oleh enam perempuan tersebut dipalsukan. Uum misalnya. Namanya diganti menjadi Umi Kulsum, warga Aceh. Hal itu dilakukan karena sponsor yang akan memberangkatkan mereka melalui Imigrasi Aceh. Namun, rupanya rencana itu gagal. Seluruh dokumen palsu itu bisa dideteksi. Alhasil, mereka akan dibawa ke Kalimantan, selanjutnya dikirim ke daerah Kuching, Serawak, Malaysia. "Saya dulu dijanjikan kerja di Malaysia dengan gaji seribu ringgit," ungkapnya.
Kecurigaan Ipah akan dijual oleh agen itu, terungkap setelah mendengar ucapan rekannya warga Medan di rumah penampungan. "Ada orang Medan teman sesama penampungan yang mengerti bahasa mereka. Katanya kita mau dijual," ujarnya.
Saat pelarian, Ipah dan Tuti harus berjalan kaki lima kilometer hingga akhirnya mereka merasa kelelahan. Saat itu, muncul inisiatif untuk meminta tolong. Dihampirinya seorang satpam salah satu hotel di Kota Medan. Setelah menceritakan kejadian yang menimpa mereka, satpam itu memberinya uang untuk ongkos ke kantor polisi. "Setelah saya sampai ke kantor polisi, saya langsung dibawa ke Dinas Sosial Medan," ujarnya.
Menurutnya, apa yang terjadi di tempat penampungan tidak bisa langsung ditindaklanjuti kepolisian Medan. Karena awal tempat kejadian perkara ada di Karawang. "Kata polisi di sana, mereka bisa membatu Polres Karawang untuk mengusut kasus ini," ujar Ipah.
Ia melanjutkan, setelah di kantor Dinsos Medan. Dia dan Tuti diberi uang Rp 100 ribu untuk perjalanan menuju kantor Dinsos Pekanbaru Riau. "Di Dinsos Medan itu banyak orang-orang telantar. Ada orang depresi dari Malaysia, dan banyak lagi," ucapnya.
Begitu pula saat sampai ke kantor Dinsos Riau, warga Kutajaya dan Pebayuran itu diberi bekal Rp 100 ribu agar bisa sampai ke Dinsos Jambi lalu diteruskan ke Dinsos Palembang. "Saya hanya mandi dan makan di kantor Dinsos. Sedangkan baju tidak diganti, hanya ini yang dipakai," tuturnya.
Setelah di Dinsos Palembang, Ipah dan Tuti melanjutkan perjalanan ke Dinsos Lampung menggunakan bus umum. Mereka juga sempat ke kantor Polresta Bandar Lampung, hari Senin tanggal 5 Maret. Di sanalah Ipah mendapat kesempatan untuk menghubungi ibunya, Rosmala melalui video call. Dan memberitahukan jika dia dan Tuti kabur dari penampuangan karena mau dijual. "Kalau di Dinsos Lampung saya diberi dua tiket. Satu tiket untuk naik kereta api ke pelabuhan. Satunya lagi tiket untuk naik kapal laut menuju Merak," ujarnya.
Setelah menyeberangi selat Sunda, Tuti dan Ipah akhirnya bisa sampai ke Kabupaten Karawang pukul 04.00 WIB, Rabu (7/3). Mereka tidak langsung pulang ke rumah, tapi melaporkan apa yang mereka alami ke Polsek Rengasdengklok. Di sana mereka diarahkan untuk melaporkan peristiwa itu ke Polres Karawang. Mendengar jawaban dari petugas Polsek Rengasdengklok, Tuti dan Ipah memilih pulang terlebih dulu ke Dusun Bedeng RT 08/02, Desa Kutajaya, Kecamatan Kutawaluya. "Di kantor Polres Karawang, laporan kami belum diterima. Karena petugas PPA nya tadi belum ketemu," tuturnya.
Ipah melanjutkan, kini dia ingin hidup tenang. Peristiwa kelam yang dialaminya itu akan selalu diingat olehnya. "Saya kabur juga karena sering dibentak. Dan dituduh mencuri uang dan STNK. Padahal saya tidak tahu dimana tempat menyimpan barang-barang tersebut," katanya.
Sementara itu, anak Uum, Robi (33) berharap kepolisian maupun Pemkab Karawang bisa menolong ibunya yang hingga saat ini masih berada di tempat penampungan. "Pihak agennya minta saya mengirim uang Rp 10 juta, kalau ingin ibunya dipulangkan. Tapi saya sudah nyetor Rp 6,5 juta. Tetap saja ibu saya belum dipulangkan," ujarnya.
Radar Karawang berusaha menghubungi agen yang disebut bernama Andi, namun belum mendapat jawaban. Nomor telepon 08159023xxx tidak aktif. Sedangkan nomor telepon 085714414xxx bernada aktif tapi tidak diangkat. (rok)
Berbagi Artikel :

1 komentar:

  1. Ass.wr.wt.saya IBU NUR INTAN  tki singapore sangat berterima kasih kepada AKI SOLEH, berkat bantuan angka jitu yang di berikan AKI SOLEH, saya bisah menang togel 4D yaitu (4215) dan alhamdulillah saya menang (359,juta)sekarang saya sudah bisah melunasi hutang-hutang saya dan menyekolahkan anak-anak saya. sekarang saya sudah bisah hidup tenang berkat bantuan AKI SOLEH. bagi anda yang termasuk dalam kategori di bawah ini;
    1.di lilit hutang
    2.selalu kalah dalam bermain togel
    3.barang-barang berharga sudah habis buat judi togel
    4.hidup sehari-hari anda serba kekurangan
    5.anda sudah kemana-mana tapi belum dapat solusi yang tepat
    6.pesugihan tuyul
    7.pesugihan bank gaib
    8.pesugihan uang balik
    9.pesugihan dana gaib, dan dll
    dan anda ingin mengubah nasib melalui jalan togel seperti saya hub AKI SOLEH di no; 082-313-336-747.
    atau anda bisah kunjungi blog AKI KLIK DISINI

    Atau Chat/Tlpn di WhatsApp (WA) 
    No WA Aki : 082313336747

    ATAU KLIK SITUS KAMI

    UNTUK JENIS PUTARAN; SGP, HK, MACAU, MALAYSIA, SYDNEY, TOTO MAGNUM, TAIPE, THAILAND, LAOS, CHINA, KOREA, KAMBODIA, KUDA LARI, ARAB SAUDI,

    AKI SOLEH dengan senang hati membantu anda memperbaiki nasib anda melalui jalan togel karna angka gaib/jitu yang di berikan AKI SOLEH tidak perlu di ragukan lagi.sudah terbukti 100% akan tembus. karna saya sudah membuktikan sendiri.buat anda yang masih ragu, silahkan anda membuktikan nya sendiri.
    SALAM KOMPAK SELALU.DAN SELAMAT BUAT YANG JUPE HARI INI

    BalasHapus

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template