Petani Mekarbuana Berharap Bantuan Pengering Gabah - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Petani Mekarbuana Berharap Bantuan Pengering Gabah

Petani Mekarbuana Berharap Bantuan Pengering Gabah

Written By Mang Raka on Senin, 12 Februari 2018 | 16.47.00

TEGALWARU, RAKA - Petani di Kecamatan Tegalwaru berharap pemerintah daerah memfasilitasi mereka dengan oven pengering padi. Sehingga setiap kali musim hujan petani bisa tetap mendapatkan beras dengan kualitas baik.
"Persoalan petani setiap musim hujan dimanapun sama, selalu kesulitan mengeringkan gabahnya. Karenanya setiap kali musim hujan hampir dipastikan kualitas beras pasti jelek," ucap Akim petani Desa Mekarbuana, Kecamatan Tegalwaru kepada Radar Karawang, Minggu (11/2).
Karenanya, lanjut Akim (45) untuk mendapatkan beras berkualitas baik kondisi kekeringan beras amat menentukan. "Kami berharap pemerintah daerah memfasilitasi petani dengan oven pengering gabah. Sehingga kualitas beras tidak terganggu sekalipun musim hujan," tambah Akim dan menyarankan agar oven itu dikelola melalui kelompok tani masing-masing.
Petani di wilayah Kecamatan Tegalwaru mulai memasuki masa panen padi pada pertengahan bulan Februari tahun ini. Meski sudah memasuki masa panen namun dengan kondisi cuaca buruk salah satunya angin kencang dan hujan deras yang kerap terjadi membuat petani mengalami kesulitan dalam penanganan padi pasca panen. Salah satu wilayah yang mengalami kesulitan dalam melakukan proses pasca panen diantaranya berada di Desa Mekarbuana. Para petani mengaku mengalami kesulitan untuk melakukan aktifitas penjemuran gabah hasil panen akibat curah hujan turun secara tidak menentu dari pagi hingga sore hari.
Masih dikatakan Akim selama musim hujan ini petani menyiasati gabah dengan cara kembalinya dengan terpal atau karung. Hal itu dilakukan untuk memudahkan mengangkat padi dan menjemutnya. "Hujan suka datang tiba-tiba. Kalau sudah di karung-karungi memindahkannya lebih gampang," ucapnya.
Dikatan Akim di musim panen sebelumnya dalam dua hari gabah yang dimilikinya sudah bisa kering selanjutnya disimpan di gudang penyimpanan  yang bisa diambil sewaktu waktu saat membutuhkan. "Panen kali ini kami cukup kerepotan sekali karena di sertai musim hujan dengan intensitas yang tidak menentu. Jadi panen sekarang  ini membutuhkan waktu lama untuk melakukan proses pengeringan. Malah saking lamanya basah di dalam karung atau terpal sampai ada yang berjamur dan tumbuh akar," ucap Akim.
Akim mengaku gabah yang tidak segera dijemur mengakibatkan kualitas gabah dan beras menjadi jelek diantaranya berwarna hitam dan mudah hancur saat digiling. Ia memiliki kebiasaan menyimpan berkarung karung gabah hasil panen sebagian di lumbung setelah sebagian dijual untuk menutup biaya operasional selama melakukan penanaman padi. Namun kendala cuaca membuat dirinya kesulitan menjemur padi yang dimilikinya akibat cuaca masih sering hujan setiap hari
Petani lainnya, H. Imis (54) mengaku sudah melakukan panen gabah sejak lima hari lalu, namun belum bisa dijemur secara menyeluruh akibat hujan berkali-kali turun sepekan terakhir ini. Akibatnya sebanyak 10 kwintal gabah miliknya terpaksa dihamparkan di teras rumahnya serta di sejumlah karung dengan ditutupi terpal. Gabah gabah yang diletakkan dalam karung tersebut rencananya akan dijemur saat kondisi cuaca panas terik. “Sekarang cuaca berubah sewaktu waktu bahkan cenderung banyak cuaca buruk dengan hujan dan disertai angin kencang yang berakibat kami tidak bisa menjemur gabah untuk disimpan di tempat yang aman," ucap Imis. (yfn)
Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template