Peredaran Uang Bank Emok Miliaran Rupiah - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Peredaran Uang Bank Emok Miliaran Rupiah

Peredaran Uang Bank Emok Miliaran Rupiah

Written By Admin Raka on Sabtu, 03 Februari 2018 | 16.30.00

LEMAHABANG WADAS, RAKA - Sungguh mengejutkan jika ada informasi kalau perputaran uang bank emok di wilayah perdesaan di kabupaten ini mencapai hingga miliaran rupiah. Termasuk uang beredar di desa tempat pembuatan film dokumenter bank emok Karangtanjung, Kecamatan Lemahabang.
"Ada sekitar Rp 1 miliar lebih dana perguliran yang sumbernya dari bank emok dinikmati warga saya," ungkap Kades Karangtanjung, Ade Kosasih, Jumat (2/2) kepada Radar Karawang. Dia menambahkan bank yang dalam wujud Koperasi ini memberikan pinjaman tanpa agunan. Selain di sumpah, bank emok ini jarang mendetekai kelompoknya secara detail, karena justru satu orang ada yang sampai meminjam uang di tiga kelompok berbeda. Sehingga membayar setoran dalam semunggu bisa lebih dari tiga kali.
Bahkan satu orang warga bisa meminjam uang di 4 kelompok sekaligus, sehingga pembayaran setoran bank emok nyaris seminggu 4 kali. Awalnya, masyarakat sangat tertarik bank yang sering mendatangi warga ini, karena meminjam uang dengan tanpa agunan. Hanya saja, bisa membawa petaka kalau hutang menumpuk saat yang meminjaminya ini juga tidak memiliki usaha yang berpenghasilan baik.
Hal terparah, lanjut Ade, warganya bisa sampai menggadaikan motor dan menjual emas serta barang milik pribadi demi membayar bank emok dengan bunga cukup tinggi. Karenanya, adanya larangan renten yang dikeluarkan Pemkab harus terus didukung. Tinggal bagaimana teknisnya harus disampaikan ke masyarakat. "Kita banyak yang jadi pelanggan bank emok, bahkan film Bank Emok juga lahir di desa ini," katanya.
Sementara itu warga Desa Karangtanjung Rohman mengatakan, SK maupun edaran bupati kaitan pemberantasan rentenir di Karawang, masih belum banyak tersosialisasi ke desa-desa. Bahkan dirinya pesimis bank emok dengan sistem sumpah tersebut bisa diberantas dalam waktu singkat. Karena, masyarakat sudah kadung mempercayai, bahkan fanatik atas bank yang sebahagian mungkin sudah menyambung ekonominya, betapapun bunga yang di patok diatas kewajaran yang normal.
Rohman menyebut, aktivitas bank emok tidak saja soal perguliran uang yang digelontorkannya sebagai pinjaman kepada masyarakat, karena setiap setahun sekali, kadang-kadang ada bantuan sosial, seperti khitanan masal dan sembako buat masyarakat. Padahal, menurutnya, hal itu adalah alibi menanamkan pola pikir di masyarakat bahwa bank jenis ini bagus keuangan dan alurnya. "Kita pesimis edaran larangan itu bisa selesai menertibkan bank emok dalam waktu singkat, karena ada masyarakat yang sudah kadung percaya," ucapnya.
Disisi lain, jangankan pemerintah desa tahu siapa saja teller dan orangnya saat pencairan, suami sendiri saja kadang-kadang tidak pernah dilibatkan dalam tandatangan pencairan maupun kontrak pinjaman. Sementara umumnya sambung Rohman, perusahaan seperti Leasing dan bank lainnya, selalu menyertakan Suami - istri, baik dokumen berkas syaratnya maupun tandatangannya. Oleh sebab itu sambung Rohman, ia mendukung jika ada upaya konkrit soal pemberantasan bank emok ini oleh Pemkab, tinggal Juknisnya saja harus tersosialisasikan optimal. "Banyak yang dilangkahi dalam birokrasinya, jangankan desa, suami ibu-ibu saja juga jarang tahu," katanya. (rud)
Berbagi Artikel :
 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template