Nurlela: Ini Tanah Sawah Saya - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Nurlela: Ini Tanah Sawah Saya

Nurlela: Ini Tanah Sawah Saya

Written By Admin Raka on Sabtu, 24 Februari 2018 | 12.15.00

KARAWANG, RAKA - Pemilik lahan sawah di Desa Tanjungsari, Kecamatan Cilebar, Nurlela Tambunan, memberikan klarifikasi terkait berita berjudul "Kejaksaan Didemo, Kades Dilepas: Buntut Kisruh Tanah Wakaf di Cilebar" yang terbit pada edisi 7 November 2017.
Lewat pernyataan resminya, Nurlela menjelaskan asal usul lahan sawah miliknya. Menurutnya, pada tahun 1982 suaminya, B Manullang, membeli sawah seluas 10.360 M2 dari Yati Bin Banjir. Menurutnya, lahan sawah tersebut jauh dari pemukiman warga. Sehingga tidak benar jika ada isu yang beredar bahwa sawahnya merupakan tanah wakaf yang akan didirikan masjid, karena lokasinya merupakan area pesawahan teknis.
Dia mengatakan, tanah wakaf yang terletak di Desa Tanjungsari, Kecamatan Cilebar, tidak terletak di tanah sawah yang dipermasalahkannya dengan Kepala Desa Tanjungsari Wawan Saputra. Untuk itu, Nurlela meminta masyarakat Karawang, khususnya warga Desa Tanjungsari jangan mau dihasut isu SARA atau berita hoaks. "Kasus tersebut merupakan kasus pidana murni yang dilakukan Kades Tanjungsari Wawan Saputra," tandasnya.
Dijelaskannya, permasalahan Nurlela dengan Kades Wawan berawal saat dirinya hendak melakukan peningkatan hak dari akta jual beli ke sertifikat, dimana dalam peningkatan hak ini pihak Badan Pertanahan Nasional (BPN) memberikan surat untuk ditandatangani oleh Kades Wawan Saputra. Namun pada saat itu kades memaksa Nurlela membuat surat perjanjian bahwa tanah Nurlela seluas 5 ribu meter persegi. "Apabila tidak mau, silahkan keluar dari ruangaku, kata kades," ujarnya menceritakan ucapan kades.
Nurlela pun menduga ada yang tidak beres atas lahan sawahnya. Dia lantas ke lokasi sawah dan menanyakan yang menggarap sawahnya. Ternyata dugaannya benar, karena sawah yang dibeli suaminya tersebut telah dikuasai oleh kades sebagian. Dia kemudian melaporkannya ke Polres Karawang dengan nomor: LP/1774/VIII/2016/Jabar/Res Krw.
Hasil pengembangan kasus tersebut yang dilakukan Polres Karawang, ternyata menyeret wakil Anon Suganda, Otih Binti Acang, serta Atih Setiawati karena diduga menempatkan keterangan palsu dalam akta autentik, serta diduga melakukan pemalsuan surat.
Tanggal 25 Maret 2017, penyidik Polres Karawang menetapkan Kades Tanjungsari Wawan Eka Saputra, wakil Anon Suganda, Otih Binti Acang, serta Atih Setiawati, menjadi tersangka yang dijerat Pasal 266 KUHP dan atau Pasal 263 KUHP.
Tanggal 27 Oktober 2017, Kejaksaan Negeri Karawang menetapkan bahwa laporan polisi nomor LP/1774/VIII/2016/Jabar/Res Krw, telah lengkap. Tanggal 31 Oktober 2017, polisi mengirim tersangka ke Kejaksaan Negeri Karawang yang kemudian dijadikan tahanan titipan di Lapas Kelas IIA Karawang. Namun Ati Setiawati tidak ditahan karena sakit.
Berikutnya, tanggal 6 November 2017, kantor Kejaksaan Negeri Karawang didemo oleh sejumlah LSM dan Ormas yang menuntut pelepasan tersangka, karena di kalangan masyarakat beredar isu bahwa Ketua DKM Al Mukaromah Anon Suganda ditahan karena tanah wakaf masjid diperkarakan atau diserobot.
Menurut Nurlela, dalam hal ini, seolah-olah tanah sawah miliknya adalah tanah wakaf. "Tapi semuanya itu adalah bohong. Dan ini dimunculkan oleh oknum-oknum yang ingin menarik perhatian masyarakat Karawang, terutama Desa Tanjungsari," sesalnya.
Dia pun meminta masyarakat atau pihak manapun untuk tidak menarik kasus ini ke persoalan SARA, karena menurutnya, kasus tersebut merupakan tindak pidana murni. "Sesuai dengan penyelidikan penyidik POlres Karawang dan telah disidangkan di Pengadilan Negeri Karawang. Marilah kita menghormati proses hukum," pungkasnya. (psn)
Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template