Nelayan Dilarang Gunakan Cantrang - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Nelayan Dilarang Gunakan Cantrang

Nelayan Dilarang Gunakan Cantrang

Written By Angga Praditya on Senin, 05 Februari 2018 | 15.15.00

KARAWANG, RAKA - DPRD Karawang menyetujui wacana Kementerian Perikanan tentang pelarangan penggunaan kapal Cantrang untuk para nelayan, karena cara kerjanya seperti pukat harimau sehingga dianggap tidak ramah lingkungan. Terutama di wilayah samudera Jaya yang merupakan Tempat Pelelangan Ikan terbesar di Kabupaten Karawang, di Desa Ciparagejaya, Kecamatan Tempuran.
"Jika kapal Cantrang memang tidak ramah lingkungan kita setuju jika penggunannya dihentikan," tandas Wakil Ketua III DPRD Karawang Budianto kepada Radar Karawang, akhir pekan (3/2) kemarin, saat ditemui usai Rapat Paripurna DPRD Kabupaten Karawang.
Hasil tangkapan nelayan yang menggunakan cantrang, terang Budianto, didominasi ikan berukuran kecil yang menunjukkan indeks keragaman tidak sehat, sehingga cantrang memang sudah seharusnya dilarang karena berdampak buruk bagi keberlangsungan perikanan.
"Dengan adanya pelarangan terhadap nelayan kecil memang sangat merugikan  karena kapal cantrang itu untuk nelayan-nelayan kecil yang menggunakan alat garok untuk menangkap ikan atau jaring yang ditebar dilautan tetapi ukurannya lebih kecil. Satu cantrang terdiri dari kantong mulut jaring tali penarik pelampung dan pemberat dan yang ditangkap ikan-ikan kecilnyapun bisa berdampak buruk, sehingga berbahaya bagi kelangsungan regenerasi hidup ikan-ikan dilautan," ujarnya.
Budianto juga mengatakan jika kapal cantrang adalah alat penangkap ikan yang menyerupai trawl atau pukat harimau dan tidak ramah lingkungan.
 Karenanya sebagai Ketua KPPL dan juga wakil rakyat, dirinya terus berupaya meyakinkan para nelayan dibawah naungan koperasinya untuk menggunakan kapal cantrang. "Kapal Cantrang banyak bahayanya demi kelangsungan hayati di lautan," paparnya.
Diakui Budianto, semenjak ada pelarangan penggunaan kapal cantrang beberapa nelayan sudah mulai mengganti menggunakan alat tangkap lain dengan ukuran bervariasi yang dapat lebih meningkatan hasil penangkapan ikan.
"Sempat sebagian dari mereka (nelayan) berbisik-bisik dan bertanya-tanya soal pelarangan ini, namun sejauh ini memang masih dalam tahap wajar, dan masih kondusif," ungkapnya.
Budianto mengatakan, jumlah bantuan ditahun 2017 untuk KPPL-nya.
Dimana bantuan dari Dana Alokasi Khusus (DAK) tersebut diterimanya sekitar 1 miliar dengan peruntukan perehaban kantor dan sarana air bersih. Dan dialokasikan sekitar 25 persen untuk para nelayan wilayah Betok Mati dan 75 persen untuk nelayan Wilayah Ciparage.
 "Di Ciparage memang paling besar karena kontribusi PAD nya juga paling besar untuk daerah," ucapnya.
Disebutkan Budianto, bantuan DAK ini diberikan untuk nelayan yang memberikan konstribusi Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan sesuai dengan UU No 28 tahun 2009, Perda No. 3 tahun 2012 dan Perbup No 106 tahun 2012 tentang semua hasil tangkap ikan dilaut harus dijual ditempat pelelangan ikan agar dapat menarik PAD.
"PAD perikanan di Kabupaten Karawamg dengan target Rp 300 juta dapat mencapai Rp 600 juta di tahun 2017 ini," ucapnya bangga. (apk)
Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template