Minim Pendidikan Agama, Pelajar Krisis Moral - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Minim Pendidikan Agama, Pelajar Krisis Moral

Minim Pendidikan Agama, Pelajar Krisis Moral

Written By Admin Raka on Minggu, 18 Februari 2018 | 16.30.00

KARAWANG BARAT, RAKA- Selain sekolah formal, diperlukan juga sekolah berbasis agama. Karena pembelajaran dan pendidikan bukan hanya ada di lingkungan sekolah formal saja. Bahkan alam sekitar dan pergaulan sehari-hari pun banyak memberikan pelajaran. Mulai dari belajar etika dan sopan santun. Apalagi sekolah berbasis agama yang menuntun para pelajarnya untuk bisa menerapkan sisi keagamaan dalam setiap perilaku dan tindakan.
Dikatakan Ahmad Fikri Sya'bani, staf pengajar pesantren Al Ikhlas Tanjungpura, akhir-akhir ini banyak kejadian tentang kekerasan siswa terhadap guru, hal tersebut bukan berarti siswa tidak tahu etika sama sekali. Hanya saja siswa saat ini dinilai sangat minim dengan pelajaran agama atau bisa dibilang krisis mental atau krisis akhlak. Bagaimana tidak, dirinya mengaku, sering melihat siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) di jalanan daripada di musala atau di majelis taklim. "Siswa sekarang harus lebih banyak diberikan tentang pelajaran akhlak dan etika, dan pembelajaran itu akan lebih detail di bahas dalam pengajian," ujarnya kepada Radar Karawang, Jumat (16/2) kemarin.
Krisis mental yang tidak banyak di miliki para pelajar ini sungguh sangat terasa, dalam pendidikan formal pun pembelajaran agama hanya seminggu sekali. Jadi tidak heran jika mayoritas siswa kurang memiliki bekal etika. Menurutnya, belajar akhlak dan etika lebih banyak didapatkan di lingkungan pesantren maupun sekolah berbasis agama. Kendatipun demikian, dirinya berharap pendidikan formal bisa menambah jam pelajaran atau mata pelajaran agama.
Selain itu, lanjut dia, tidak lepas dari sisi kontrol orangtua. Karena waktu siswa di sekolah lebih banyak srdikit dari pada waktu siswa berada di lingkungan keluarga maupun lingkungan pergaulannya. Dalam meminimalisir krisis mental pada siswa, harus ada sinergitas antara pihak pendidik dan keluarga. Agar seiring sejalan antara pendidikan formal yang di dapatkan siswa di sekolah, dan pendidikan keagamaan di lingkungannya. "Minimal setelah pulang sekolah, orang tua bisa menyuruh anaknya untuk pergi mengaji," ujarnya.
Melihat kondisi saat ini, krisis mental yang dialami para pelajar dinilai sangat mengkhawatirkan, hingga terjadi kasus pembunuhan siswa terhadap guru, kekerasan terhadap guru, bahkam yang terakhir viral di media sosial yaitu siswa yang menantang kepala sekolahnya. "Masa depan bangsa kita ada di tangan mereka para siswa, kalau tidak tegas memberikan pendidikan saat ini, maka tinggal tunggu aja kehancurannya," ucapnya. (rok)
Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template