Jalanan Pilihan Terakhir Orang Tua - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Jalanan Pilihan Terakhir Orang Tua

Jalanan Pilihan Terakhir Orang Tua

Written By Admin Raka on Jumat, 23 Februari 2018 | 15.00.00

JALANAN merupakan tempat terakhir bagi orang tua yang memilih untuk tidak mau menyusahkan anak dan cucunya. Bisa jadi falsafah ini benar, setidaknya bagi Amo (77) warga Kampung Mekarsari, RT 002 RW 007 Desa Cikampek Utara, Kecamatan Kotabaru dan Waliman Jaya, warga Kampungpulo Bambu Tua RT 09 RW 04 Desa Karang sentosa, Kecamatan Karang Bahagia, Kabupaten Bekasi ini.
Amo yang memilih profesi sebagai gelandangan dan pengemis itu mengaku dirinya melakukan hal itu semata-mata mencari nafkah buat keluarga. "Saya cuma mau nyari nafkah dan terpaksa mengemis karena tidak punya pekerjaan lain," ujar kakek separuh baya penyandang disabilitas kaki tidak normal ini kepada Radar Karawang, Kamis (22/2), ussai terjaring razia Satpol PP.
Kepada Radar Karawang Amo mengaku sehari bisa mengumpulkan uang Rp 50 ribu dari belas kasihan orang, dan semuanya dia bawa sebagai nafkah keluarganya. Amo mengaku punya empat anak dan semuanya bekerja di luar negeri bahkan ada yang di Arab Saudi sebagai TKW. Dia sendiri saat ini tinggal bersama cucunya. "Kalau ada rejeki bisa dapat Rp 100 ribu tetapi kalau gak ada paling cuma Rp 50 ribu," akui kakek Amo yang mengaku mengemis di jalan Tuparev.
Dilanjutkan Amo dia mengemis dari pagi hari, pukul 06.00 Wib dia sudah keluar rumah dan kembali ke rumah sore hari pukul 18.00 Wib. Amo sendiri mengaku tidak ingin membebani keluarganya untuk dapat menjalani hidup dimasa tuanya. Itupun menjadi alasan kuat baginya untuk menekuni hidup sebagai pengemis. "Saat ini hidup saya tidak ada yang menjamin, mau gimana lagi. Bagi saya ini peringatan aja, insyaallah gak bakalan ngemis lagi," tuturnya sambil mengusap mata.
Hal mengharukan juga diungkapkan Waliman Jaya (76), kakek asal Bekasi yang menekuni profesi sebagai pengamen. Profesi itu ditekuni setelah prustrasi istrinya kawin lagi dan usaha yang ditekuninya gagal. "Saya dulu pemborong, suka main proyek. Saya prustasi karena istri kawin lagi," akuinya.
Bagi Waliman kehidupan jalanan saat itu adalah satu-satunya pilihan. "Saat ini saya belum siap untuk kembali bersama keluarga. Lebih baik diluar, meskipun saya tahu anak saya sedang mencari saya tetapi saya tidak mau mengganggu anak-anak saya. Semua anak saya ada enam," paparnya. (apk)
Berbagi Artikel :
 
Support by : Admin Mang RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template