Vaksin Difteri Tidak Gratis - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Vaksin Difteri Tidak Gratis

Vaksin Difteri Tidak Gratis

Written By Angga Praditya on Selasa, 16 Januari 2018 | 14.00.00

Usia di Atas 19 Tahun Tidak Ditanggung Pemerintah

CIAMPEL, RAKA - Meski vaksinasi difteri sudah dilakukan, tapi penyebaran penyakit tersebut masih mengancam warga Karawang. Pasalnya vaksinasi yang diberikan secara gratis oleh pemerintah adalah untuk warga yang berusia 1 sampai 19 tahun saja, di atas itu harus membayar sendiri jika ingin di vaksin.
Kepala Puskesmas Ciampel, Asep Sunarya menyampaikan, bagi masyarakat yang memiliki usia ditas 19 tahun tidak termasuk pada program vaksinasi yang diluncurkan oleh pemerintah. Sebab, pemerintah melalui Dinas Kesehatan dan Puskesmas hanya memberikan vaksin difteri untuk di bawah usia 19 tahun saja. "Untuk di atas usia itu, disarankan divaksin di tempat kesehatan lain seperti (klinik / rumah sakit) swasta," tuturnya.
Sedangkan pernyakit tersebut lebih bahaya dari penyakit lainnya karena penulran dari penyakit difteri berlaku untuk semua usia. Maka dirinya meminta kepada masyarakat khususnya orang dewasa untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin ke rumah sakit. "Kalau bisa divaksin juga, resikonya tidak termasuk pelayanan gratis, mereka harus bayar dan pelayanannya juga di luar puskesmas," ucapnya.
Dirinya sendiri juga tidak mengetahui berapa tarif yang dikeluarkan oleh rumah sakit swasta untuk pemberian vaksin difteri tersebut. Namun yang jelas dengan terbatasnya pemberian vaksin yang diberikan puskesmas kepada masyarakat juga menjadi salah satu kendala bagi petugas kesehatan. "Jangankan untuk membayar, untuk pelayanan secara gratis saja masih banyak masyarakat yang belum divaksin," ungkapnya.
Sementara Sekretaris Kecamatan Ciampel, Irlan Suarlan, meminta kepada masyarakat yang usianya di atas 19 tahun untuk bisa segera melakukan vaksin difteri di rumah sakit swasta. Dari pengalamnnnya pelayanan pemberian vaksin akan lebih murah jika dilakukan secara kelompok atau borongan. "Kalau untuk sendiri harganya lumayan cukup tinggi, takut masyarakat juga malas untuk berobat, jadi mending kelompok minimal 20 orang lebih murah dipaket, waktu itu saya 80 ribu," jelasnya.
Sementara salah satu warga Desa Mulyasejati, Arda (34) menilai, bahwa tidak ada masyarakat yang ingin sakit. Namun balik lagi kata dia, jika setiap pelayanan selalu dikaitkan dengan keuangan masyarakat menjadi enggan untuk berobat. "Saya juga belum, soalnya kalau divaksin di rumah sakit swasta harus bayar," ucapnya.(yna)
Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template