Siswa Terlibat Kerusuhan Diproses Sekolah Masing-masing - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Siswa Terlibat Kerusuhan Diproses Sekolah Masing-masing

Siswa Terlibat Kerusuhan Diproses Sekolah Masing-masing

Written By Admin Raka on Jumat, 12 Januari 2018 | 14.30.00

KOTABARU, RAKA - Keributan yang melibatkan dua kelompok siswa dari dua sekolah yang berbeda di Jalan Raya Sudirman, Bakanmaja pada Rabu (10/1) kemarin ditindaklanjuti oleh pihak sekolah masing-masing. Bahkan siswa yang terlibat keributan tersebut diberi bimbingan khusus agar kejadian serupa tidak lagi terulang.
Wakil Kepala SMK PGRI Cikampek Kurnaedi,ST mengatakan, saat adanya kabar miring terhadap para pelajar disekolahnya tersebut, pihak sekolah langsung bergerak cepat untuk mencari penyebab perkara keributan yang terjadi. "Saat ini juga (kemarin), kami sudah mengintrogasi 3 siswa yang kemarin terlibat keributan," ujar Kusnaedi, kepada Radar Karawang, Kamis (11/1).
Menurutnya, berdasarkan pengakuan siswa, pemicunya adalah karena saat ketiga siswanya sedang berada di Jalan Raya Simpang Jomin, tiba-tiba 2 kendaraan motor yang masing-masing dikendarai oleh tiga siswa SMK PGRI Jatisari melintas dan memutar arah balik lagi dengan melempari puntung rokok. Karena merasa tidak terima tiga pelajar SMK PGRI Cikampek langsung mengejar mereka.  "Saat dikejar, pelajar SMK PGRI Jatisari menambrak mobil yang sedang diparkir dipinggir jalan. Sehingga ada bagian tubu mereka yang terluka," ujarnya.
Dengan demikian, dia memastikan bahwa peserta didiknya tidak ada yang membawa senjata tajam dalam kejadian tersebut. Bahka untuk memastikan bahwa peserta didiknya tidak ada yang membawa senjata tajam, semuanya membuat pernyataan secara tertulis. "Mereka tidak membawa senjata tajam (cerulit), jadi itu akal-akalan pelajar sana saja. Karena sebagai bukti kuat kami membuat pernyataan pengakuan secara tertulisnya juga," paparnya.
Hal senada disampaikan Wakasek Kesiswaan SMK PGRI Cikampek Ahya,S.Pd, bahwa dalam mengantisipasi keributan yang lebih besar lagi. Pihaknya melakukan koordinasi dengan pihak SMK PGRI Jatisari. "Sebenarnya kita itu satu atap yayasan. Jadi upaya kita, berkoordinasi dengan pihak SMK PGRI Jatisarinya, biar tidak berbuntut panjang," ucapnya.
Dia juga mengaku merasa kaget kenapa saat ada kabar peserta didiknya terlibat keributan dijalanan, terlebih tragedi tersebut terjadi dengan siswa SMK PGRI Jatisari. Karena memang selama ini tidak ada kabar keributan atau tawuran antar pelajar dilingkungan Cikampek terutama yang melibatkan peserta didiknya. "Sudah sembilan tahun tidak ada lagi tawuran atau apa, yang pasti kami berharap ini juga adanya keterlibatan dari berbagai pihak untuk bisa menjaga kondusifitas kedepannya," katanya.
Kepala SMK PGRI Cikampek H Yayan Budi Sofyan mengaku ada kejanggalan saat ada info pesera didiknya terlibat keributan. Terlebih alasan yang beredar bahwa pihak pelajar SMK PGRI Jatisari adalah saat melintas akan membeli buku kemudian tiba-tiba diserang oleh peserta didiknya. "Ada kejanggalan saat saya membaca pemberitaan, bahwa para pelajar SMK PGRI Jatisari itu alasannya mau beli buku paket dan bola voli itu hanya alasan mereka saja, karena diduga pemicu ini berawal dari medsos dan adanya pancingan menyulutkan keributan," ujarnya.
Apalagi, kata dia, dengan beredarnya seragam praktek kejuruan yang saat ini diviralkan di media sosial. Hal itu sudah terendus ketidak terimaan para peserta didiknya, atas perlakuan peserta didik dari SMK PGRI Jatisari. "Bahkan sekarang sudah mulai viral, ada pelajar SMK PGRI Jatisari pakai werpak jurusan sekolah ini (SMK PGRI Cikampek), dengan bahasa berpotensi memancing keributan. Saya berharap persoalan ini diselesaikan agar tidak terjadi tawuran," katanya.
Sementara Kanit Intel Polsek Kotabaru Aiptu Ujang yang melakukan kunjungan ke SMK PGRI Cikampek menyampaikan, untuk mengantisipasi terjadinya aksi tawuran pelajar diwilayahnya, pihak Polsek Kotabaru akan meningkatkan keamanan serta menggencarkan pembinaan dikalangan pelajar. "Ya sebenarnya sudah ada satgas pelajar di Kotabaru itu, cuman persoalannya masih menunggu anggaran operasionalnya yang masih dilema dari mananya," jelasnya.
Berdasarkan temuan pihak kepolisian, kejadian tersebut diakibatkan beredarnya kebencian yang diunggah di meda sosial. Oleh karenanya pihaknya akan segera mengkoordinasikan dengan Pihak keamanan di wilayah Jatisari. "Nah, khawatir terjadi persoalan berkelanjutan. Kami akan langsung bertindak cepat dengan berkoordinasi dengan Polsek Jatisari agar dapat diredam dan dilakukan pembinaan," tandasnya.
Sementara di SMK PGRI Jatisari, enam siswa yang terlibat keributan tersebut langsung dilakukan pemanggilan oleh Wakasek Kesiswaan untuk dimintai keterangan. Bahkan jika ditemukan adanya persoalan yang memang diakibatkan oleh peserta didiknya, maka pihak sekolah akan mengambil tindakan tegas dengan mengeluarkan mereka. Meski demikian, persoalan tersebut harus benar-benar jelas sehingga langkah yang diambil memiliki dasar yang kuat. "Untuk siswa tawuran atau narkoba, itu masuk pelangagran berat. Berarti poinnya 200. Bagi siswa yang poinnya sampai 200, sesuai surat pernyataan orang tua siswa, maka otomatis siswa dikembalikan ke orang tua mereka masing-masing," bebernya.(ian)
Berbagi Artikel :
 
Support by : Admin Mang RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template