Rantai Distribusi Panjang, Biang Kerok Harga Beras Mahal - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Rantai Distribusi Panjang, Biang Kerok Harga Beras Mahal

Rantai Distribusi Panjang, Biang Kerok Harga Beras Mahal

Written By Angga Praditya on Selasa, 16 Januari 2018 | 12.15.00

LEMAHABANG WADAS, RAKA - Menurunnya stok gabah di musim paceklik membuat pengusaha huller libur menggiling padi selama tiga bulan terakhir. Selain harga gabah kering panen (GKP) tinggi, penjualan beras ke pasar induk juga menipis karena mahalnya biaya produksi penggilingan.
Pengusaha penggilingan padi di Desa Ciwaringin, Kecamatan Lemahabang, H Nana Nurundana mengatakan, saat panen tiba mesin penggilingannya mampu produksi beras sampai 40 ton per minggu. Namun saat musim paceklik justru tidak menggiling sama sekali, itu berlangsung selama tiga bulan terakhir.
Ditambah lagi sebut Nana, harga GKP sekarang Rp 700 ribu per kwintal, itu pun langka alias rebutan. Hal ini membuat para pengusaha padi tidak bisa jual beras ke pasar induk, kecuali ke toko-toko langganan saja.  "Kita gak jual beras ke induk, ya karena stoknya sedikit dan gak giling banyak. Bahkan terhenti beberapa bulan," katanya kepada Radar Karawang, Senin (15/1) kemarin.
Nana menambahkan, karena langka, peluang pengoplosan beras diakuinya bisa saja terjadi karena alasan permintaan konsumen. "Saat ini di pasar induk pun ngoplos, dan di lapangan bisa saja di heler pun terjadi, jika konsumen tidak membeli ke pasar induk dan membeli berasnya langsung ke heler," tuturnya.
Namun, di tempat penggilingan padi miliknya, tidak pernah mengoplos beras karena tidak punya bahan dan stoknya. "Peluang oplos beras itu terbuka jika permintaan konsumen, apalagi kondisi sekarang," katanya.
Ketua Tokoh Tani Indonesia (TTI) Kecamatan Lemahabang ini menambahkan, mahalnya harga beras bukan karena para pengusaha penggilingan menimbun beras, tapi karena stok langka. Begitupun di pabrik-pabrik besar yang bermitra dengan Bulog, mengalami nasib yang sama. Penggilingan distop akibat kurang stok, bahkan digembok. "Kalau pemerintah mau impor beras, memang tepat. Kecuali impor itu datang saat musim panen. Ini yang akan merusak harga di petani," ujarnya.
Ia juga meminta pemerintah melakukan operasi pasar (OP) untuk menekan harga yang semakin tidak terkendali. Karena kalau stok di huller banyak, kemudian masa panen tiba serentak, kemungkinan sirkulasi beras akan kembali normal. "Gak ada penimbunan apalagi pengoplosan, ini murni masalah stok musim paceklik," tandasnya.
Sementara itu, petani Pulojaya, Atam mengatakan, di desanya ada Huller Mustika Rama tapi tidak ada aktivitas penggilingan padi. Selain paceklik, pemicu mahalnya harga beras itu akibat banyaknya rantai calo sejak gabah itu dipanen di sawah, sampai masuk huller. "Akibatnya harga GKP jadi mahal," tuturnya.
Banyangkan saja, sebut Atam, dari petani, gabah diover ke calo tempat, kemudian calo jalan hingga akhirnya sampai ke tengkulak. Sesudah dari tengkulak sampailah gabah ke mediator huller dan baru bisa masuk huller. Dan sebelum digiling, pihak pengusaha huller juga menghitung biaya panggul gabah dan menjemurnya. Sehingga wajar dari petani sampai huller harga GKP semakin mahal. Dan ketika sudah menjadi beras, pedagang membanderol harga tinggi. "Apalagi di musim paceklik semacam ini," ujarnya.
Untuk itu, Atam meminta agar mata rantai calo yang diperkirakan memunguti Rp 200 per kilogram per satu kali transit harus diputus. "Calonya berantai itu yang bikin mahal produksi di huller, dan berasnya juga tinggi," ujarnya.
 (rud)
Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template