Purwakarta Surplus Beras 20 Ribu Ton - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Purwakarta Surplus Beras 20 Ribu Ton

Purwakarta Surplus Beras 20 Ribu Ton

Written By Admin Raka on Rabu, 17 Januari 2018 | 11.15.00

PURWAKARTA,RAKA - Dinas Pangan dan Pertanian Kabupaten Purwakarta, merilis selama 2017 indeks rata-rata pertanaman mengalami peningkatan. Dari yang tadinya satu kali tanam, bisa jadi dua kali. Yang sudah dua kali tanam, bisa sampai tiga kali tanam dalam setahun. Surplus beras di kabupaten ini mencapai 20 ribu ton.
Kepala Dinas Pangan dan Pertanian Kabupaten Purwakarta, Agus Rachlan Suherlan, mengatakan, sejak tahun kemarin di Purwakarta tidak ada istilah tidak panen. Hampir tiap hari, petani di wilayah ini panen. Termasuk, sampai pekan ini. Rata-rata, areal sawah yang panen mencapai 30 hektare per harinya. "Ini merupakan hal yang positif dari sisi pertanian. Sebab, indeks pertanaman meningkat. Petani juga setiap hari ada yang panen," ujar Agus, Selasa (16/1).
Agus menyebutkan, selama 2017 kemarin, Purwakarta berhasil tanam dengan luasan areal sawah mencapai 42.550 hektare. Dari luasan tersebut, hasil produksinya rata-rata 6,3 ton gabah kering giling (GKG) per hektare. Dengan begitu, selama 2017 kemarin, Purwakarta berhasil memanen padi sebanyak 268.097 ton GKG. Dari hasil produksi 268.097 ton GKG itu di kalikan dengan 0,6247 (konversi ke beras), sehingga hasilnya 167.480 ton setara beras. Adapun jumlah penduduk Purwakarta, mencapai 935 ribu jiwa.
Untuk konsumsi beras, lanjut Agus, yakni mencapai 109 kilogram per kapita per tahunnya. Sehingga, kebutuhan beras selama setahun di wilayah ini, yaitu 935 ribu jiwa dikalikan 109 kilogram beras. Hasilnya, 147.150 ton beras. "Hasil produksi selama 2017, mencapai 167.480 ton setara beras, lalu dikurangi kebutuhan selama setahun 147.150 ton, maka ada kelebihan beras sebanyak 20.330 ton," ujar Agus.
Dengan begitu, Purwakarta mengalami surplus beras lebih dari 20 ribu ton. Jadi, wilayah ini sebenarnya tidak kekurangan beras. Apalagi, sambung Agus, mayoritas petani di Purwakarta selalu menyimpan gabah untuk memenuhi kebutuhan pangannya."Petani di kami berbeda, sangat jarang menjual hasil panennya dalam kondisi basah," ujarnya.
Jadi, petani ini memanen padi, lalu menjemurnya sampai kering. Setelah kering, baru dikeluarkan untuk menutupi kebutuhan pangannya selama semusim. Kalau ada sisa, baru gabahnya dijual ke tengkulak. Jadi, gabah yang dijual tersebut dalam kondisi kering dan siap giling. Sehingga, harganya lumayan tinggi.
Sementara itu, Udam (47), petani asal Kampung Ciseupan, Desa Ciracas, Kecamatan Kiarapedes, mengatakan, saat ini harga gabah di wilayahnya masih tinggi. Yakni, mencapai Rp 6.500 per kilogramnya. "Kami, biasa menyimpan gabah untuk memenuhi kebutuhan pangan. Kalau ada sisa, baru kita jual ke tengkulak," ujar Udam.
Kini, lahan miliknya dengan luas mencapai satu hektare. Hasilnya cukup menggembirakan, yakni mencapai 6,4 ton dalam kondisi kering. Adapun varietas yang ditanamnya itu jenis lokal. Yakni, varietas Odang. Varietas lokal ini, hasilnya hampir setara dengan varietas yang sudah ternama. Seperti, mekongga. (gan)
Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template