Nenek Takut Nyelip di Jembatan Bambu - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Nenek Takut Nyelip di Jembatan Bambu

Nenek Takut Nyelip di Jembatan Bambu

Written By Angga Praditya on Kamis, 18 Januari 2018 | 14.45.00

TEGALWARU, RAKA - Warga Kampung Blok Kopi Kulon dan Kampung Cinaga di Desa Kutalanggeng, Kecamatan Tegalwaru mencemaskan jembatan bambu di desa mereka hanyut terbawa air sungai. Selama ini jembatan itu satu-satunya penghubung kampung mereka dengan kampung-kampung lain.
Berdasarkan pantauan Radar Karawang, Rabu (17/1) saat ini jembatan penghubung tersebut sudah lapuk. Batang-batang bambunya yang menjadi badan jembatan sudah banyak yang renggang. Demikian konstruksi kaki-kaki jembatan yang ditopang batang bambu terlihat mulai melengkung. Sementara puluhan anak sekolah dan warga dua kampung setiap hari melintasi jembatan itu. "Warga khawatir jika air Sungai Cacaban meluap akan menyeret jembatan itu ke dalam sungai," ucap tokoh masyarakat Kampung Blok Kopi Kulon Sanim.
Dijelaskan jembatan diatas Sungai Cacaban tersebut dibangun oleh warga namun selalu rusak setiap kali air sungai meluap. Bahkan menurut informasi hampir 100 jembatan bambu yang hilang terseret air Sungai Cacaban setiap kali meluap. "Warga di Kampung Blok Kopi Kulon selalu terisolir setiap kali musim hujan karena jembatannya selalu hanyut," tutur Sanim lagi seraya menambahkan bukan cuma masalah jembatan tetapi jalan di kampung itupun masih jalan tanah dan berlumpur jika terguyur hujan.
Jembatan dengan panjang 4 meter dan lebar satu meter itu sekarang ini memerlukan perbaikan karena kondisinya sudah lapuk. Sekarang ini warga sudah kebingungan jika hendak menyeberang, khawatir mendadak jembatan ambruk dan mereka terseret arus sungai dibawahnya. Sanim sendiri mengakui, memang pernah ada informasi pemerintah akan membangun jembatan permanen. Bahkan sudah dilakukan pemotretan namun sampai sekarang tak kunjung ada tindak lanjutnya. "Jembatan ini sudah di foto beberapa kali sama orang berseragam pemerintahan, katanya mau dibangun jembatan permanen tapi sampai kini pembangunan belum juga terwujud," ucap Sanim.
Sementara Emoy (61) nenek asal Kampung Blok Kopi Kulon yang tengah melintas mengaku takut melintasi jembatan. Namun dia tidak bisa menolak karena jembatan itu satu-satu akses untuk bisa keluar kampung. Emoy menilai pemerintah tidak peduli dengan kondisi warga di kampung. Padahal sudah jelas jembatan mau roboh. "Coba seperti saya yang sudah jompo, mungkin bisa saja terselip di antara belahan bambu. Jujur kadang suka malas bepergian keluar rumah, ini karena terpaksa ada salah seorang saudara saya yang tengah selamatan. Makanya saya paksakan melintasi jembatan ini. Harapan saya pemerintah bisa membangun jembatan permanen diatas sungai ini," ucapnya.
Di tempat terpisah, Yanah (37) menuturkan hal sama. Sekitar 200 warga di kampung itu kondisinya cukup memperihatinkan karena fasilitas umum yang kurang memadai. Selain jembatan dan jalan juga penerangan jalan pun tidak ada, padahal akses kebutuhan warga pun sama dengan kebutuhan di kampung yang lain. "Pemerintah seolah tutup mata dengan kondisi fasilitas umum disini. Selain warga dewasa, anak-anak kecil yang sekolah di SD bahkan di PAUD pun mesti melintasi jembatan itu. Saya malah menuntut secepatnya pemerintah bisa melihat apa yang kami rasakan disini," tandasnya. (yfn)

Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template