Masuk UGD Usai Makan Ikan - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Masuk UGD Usai Makan Ikan

Masuk UGD Usai Makan Ikan

Written By Angga Praditya on Selasa, 30 Januari 2018 | 12.45.00

KARAWANG, RAKA - Ikan bakar sangat enak disantap dalam keadaan masih hangat dan segar, apalagi dengan cocolan saus. Pasti nikmat. Namun, apa jadinya jika kenikmatan itu justru membawa petaka.
Tengok saja apa yang terjadi dengan Heru Santoso (51), warga Perumahan Resinda, mendadak gatal-gatal, kepala pusing, mata sakit, lidah ngilu, susah bernafas, perut mual, usai menyantap ikan gindara bakar yang disajikan istrinya, Cucu Robiatul Jannah, Kamis (25/1). Tidak lama kemudian, anak mereka, Rio juga mengalami hal serupa. Khawatir kondisi tubuh suami dan anaknya semakin parah, akhirnya Cucu membawa mereka ke rumah sakit. "Mata saya sakit, lidah belel, susah nafas, perut mual. Kata anak saya, saya keracunan. Dia ngasih cokelat terus teh anget," ungkap Heru saat ditemui Radar Karawang di UGD Rumah Sakit Mandaya Hospital, Senin (28/1) kemarin.
Awalnya, kata Cucu, dia mau membeli ikan salmon pabrikan di SuperIndo namun tidak ada. Karena sudah berniat menyajikan menu ikan untuk sang suami, dia akhirnya membeli ikan gindara yang saat itu berada di tempat display. "Lalu saya ke tempat display atau rak biasa tanpa pendingin, terlihat ada salmon curah, ikan turi dan ikan gindara steak. Saya memilih ikan gindara. Transaksinya pukul 14.00," ujarnya.
Sesampainya di rumah, Cucu mencuci ikan tersebut terlebih dulu, diolesi mentega, lalu dibakar menggunakan teflon sampai matang. "Setelah ikan matang, tidak lama kemudian bapak (suami) pulang dan menyantap ikan selagi panas dengan saus. Makannya bareng anak, Ario Ilham pukul 18.10," tuturnya.
Tidak lama kemudian, perut suaminya mual, kepala pusing, dan lidah terasa kebas. "Ikan baru habis seperempat, sudah merasa sakit," ujarnya.
Melihat ada yang tidak beres dengan ayahnya, Rio memberikan cokelat dan teh hangat. Upaya itu dilakukannya untuk meredam rasa mual. "Saya belum ngeh karena saya masih di dapur. Kata anak saya, Rio, bapaknya diminta makan cokelat supaya gak gatal. Saya tidak tahu apakah cokelat itu dimakan sama bapaknya atau tidak. Terus dibuatkan teh juga sama Rio. Tidak lama dari itu matanya bengkak," paparnya.
Setelah suaminya mengalami gejala yang tidak beres, giliran anaknya mengalami hal serupa. Badannya memerah dan bengkak. "Akhirnya saya bawa mereka ke Rumah Sakit Mandaya Hospital," ujarnya.
Sesampainya di UGD, kata Cucu, dokter menyuntik suaminya dan diberi bantuan oksigen agar rasa sesak nafasnya berkurang. Saat itu, dokter belum bisa memberikan kepastikan apakan suaminya keracunan ikan atau alergi. "Yang jelas, sebelum makan ikan suami dan anak saya sehat. Tapi sesudah makan jadi sakit," katanya. 
Kesal dengan peristiwa yang menimpa suami dan anaknya, akhirnya Cucu mendatangi SuperIndo. Dia meminta pertanggung jawaban supermarket tersebut, karena dianggap teledor menjual produk yang diduga tidak layak konsumsi. "Kita lapor ke SuperIndo, dan menunjukan bukti struk pas pembelian ikan ke manajernya, namanya pak Didin. Dan pak Didin melihat suami dan anak saya di UGD. Dia mengatakan jika ada kesalahan dari manajemennya, minta maaf dan akan bertanggung jawab penuh semua biaya pengobatan," paparnya.
Namun, yang membuatnya menyesal, ikan yang menjadi barang bukti telah diberikan kepada SuperIndo, dengan alasam mau diteliti. "Ikan di mereka, saya kasih karena panik. Tapi kata polisi, kenapa dikasihin, kita ya mau gimana kita panik. Boro-boro ngurusin yang lain, yang saya pikirin suami sama anak," paparnya.
Sementara itu, Manajer Store SuperIndo Grand Taruma Didin Samsudin menyampaikan, saat ini belum bisa memastikan apakah peristiwa yang menima Heru dan Rio akibat ikan yang dijualnya atau bukan, karena sedang dicek. "Nanti akan disingkronkan hasil lab saya dengan di rumah sakit. Bener gaknya (keracunan) belum bisa bicara, karena belum tahu. Saya takut salah, karena belum tahu hasil labnya," paparnya.
Ia melanjutkan, setelah pihaknya mendatangi Heru di UGD, dia sudah memaklumi kalau kejadian yang menimpanya adalah musibah. Sedangkan masalah ganti rugi, belum ada pembicaraan lebih lanjut. "Ibarat kata, namanya juga ke costumer, salah gak salah kita tanggung jawab. Pak Heru sih tidak bilang nilai tanggung jawabnya berbentuk apa, penggantian atau apa. Saya ke sana (menjenguk) dia udah senang," katanya. (apk)
Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template