Luntang Lantung di Karawang, Numpang Hidup di Warung Kopi - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Luntang Lantung di Karawang, Numpang Hidup di Warung Kopi

Luntang Lantung di Karawang, Numpang Hidup di Warung Kopi

Written By Angga Praditya on Jumat, 26 Januari 2018 | 12.30.00

Sambina si Perajin Eceng Gondok Kini Mendunia

KLARI, RAKA - Siapa yang tidak kenal Sambina, perempuan kelahiran Purbalingga, Jawa Tengah, 16 Mei tahun 1974, ini berhasil membawa nama Kabupaten Karawang ke tingkat nasional hingga internasional, melalui eceng gondok yang disulapnya menjadi sejumlah barang produk aneka tas cantik.
Namun siapa sangka dibalik kesuksesannya tersebut, banyak kisah perjuangan hidup memilukan yang dialaminya. Mulai dari luntang-lantung tinggal di rumah orang, bahkan numpang hidup dan tidur di sebuah warung kopi di Walahar. "Pada saat itu yang saya pikirkan saya harus hijrah dari tempat tinggal saya dan merubah keluarga saya untuk lebih baik," ucapnya.
Keinginan untuk tinggal di Karawang dimulainya sejak tahun 2013 lalu, dengan bermodalkan keberanian dan keinginan yang kuat untuk memperbaiki keluargannya di rumah. Sambina akhirnya memutuskan untuk hijrah ke Karawang yang dikenal sebagai kota lumbung padi dan industri itu. Tapi tidak pernah sedikit pun terbesit dalam hatinya untuk menjadi buruh pabrik. "Bayangkan saja, saya hanya lulusan SMP. Mana mungkin bisa bekerja di salah satu perusahaan di Karawang," tuturnya.
Ia melanjutkan, pergi bersama teman perempuannya di Purbalingga ke Karawang, Sambina hanya berdoa agar dia bisa mendapatkan pekerjaan agar bisa memenuhi kebutuhannya selama di Karawang. Tibanya di Kota Pangkal Perjuangan, Sambina yang sudah memiliki tekad untuk berjuang hidup tanpa merepotkan orang lain, itu akhirnya memutuskan untuk tinggal sendiri dan mencari pekerjaan. Untungnya, kata dia, baru saja tinggal di Karawang sudah ada usaha yang meliriknya meski hanya bekerja di warung. "Kerja apa aja deh yang penting bisa dapat rumah buat tinggal sama makan," ungkapnya.
Suatu saat, dia melihat ada pelatihan kerajinan di Walahar. Tanpa berpikir lama, dirinya pun mengikuti pelatihan tersebut bersama sejumlah perempuan lainnya. Namun sayang, saat itu pelatihan yang diikutinya hanya baru pelatihan biasa saja, tanpa adanya perkembangan ke depannya. Sambina akhirnya memutuskan untuk pergi merantau ke kota lain yaitu Bandung. "Saya tinggal bersama om selama 3 bulan, bekerja sebagai tukang jahit konveksi rumahan," tuturnya.
Terpikir dalam benaknya rindu akan kerajinan yang telah diikutinya saat di Walahar, akhirnya dengan bekerja selama 3 bulan di Bandung, Sambina bertekad untuk kembali ke Karawang dan memulai usahanya di rumah sewaan di samping bendungan Walahar. "Dari dulu suka luntang-lantung engga jelas dimana aja. Tapi akhirnya saya balik lagi ke Karawang," tuturnya.
Namun siapa sangka, hari demi hari, bulan demi bulan, dia lewati bergelut dengan kerajinan yang berbahan dasar eceng gondok. Lambat laun usahanya mulai tumbuh. Akhirnya hasil dari kerajinan tas unik yang terbuat dari bahan eceng itu, dilirik oleh sejumlah pengusaha maupun kantor dinas untuk dijadikan pameran. "Alhamdulillah, hasil dari usaha yang sunggguh-sungguh dan punya kemauan bisa saja terjadi," ungkapnya.
Setahun berselang, tepatnya tahun 2014 namanya sudah banyak dikenal luas hingga ke luar kota. Dia pun kerap menjadi pengisi acara di pameran dan memiliki pekerjaan samping dengan mendidik sejumlah siswa, agar bisa meneruskan keahliannya membuat kerajinan. "Saat itu berpikir untuk menikah saja tidak pernah. Tapi namanya jodoh, siapa anu nyaho (siapa yang tahu)," kata perempuan yang sudah sedikit mahir berbahasa Sunda itu.
Seiring dengan kesuksesannya, Sambina pun jatuh hati pada pria asal Walahar, Adiyana. Mereka pun akhirnya memutuskan membangun rumah tangga setahun lalu. "Rumah sudah punya walaupun masih sewa. Pekerjaan sudah punya, tinggal apalagi sih. Saya juga butuh teman hidup buat berjuang bareng-bareng. Saya akhirnya menikah tahun kemarin," ucapnya sambil tersenyum.
Membangun rumah tangga dengan terus melestarikan kerajinan tangannya, dia bangun bersama suaminya hingga saat ini. "Saya ingin mengharumkan nama Kabupaten Karawang ke dunia melalui kerajinan. Saya juga ingin melestarikannya dengan terus mendidik setiap anak-anak di Karawang," pungkasnya.
Impiannya Sambina akhirnya terwujud. Tahun 2014 lalu, tas unik berbahan dasar eceng gondong dipamerkan di Madagaskar Afrika. Tahun ini, giliran Amerika Serikat yang menjadi tujuan selanjutnya. (yna)
Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template