Budaya Nawu Bendungan Walahar 10 Tahun Punah - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Budaya Nawu Bendungan Walahar 10 Tahun Punah

Budaya Nawu Bendungan Walahar 10 Tahun Punah

Written By Angga Praditya on Senin, 15 Januari 2018 | 17.30.00

KLARI, RAKA - Adanya hukuman pidana bagi siapa saja yang membuang sampah ke sungai Citarum, membuat pemerintahan Desa Walahar terus meluncurkan berbagai program. Salah satunya adalah budaya nawu bersama atau tangkap ikan yang diadakan setiap tanggal 6 September di bendungan Walahar akan kembali dibudayakan. Pasalnya budaya yang sudah sekitar 10 tahun tidak diberlakukan itu sebenarnya bisa memberikan manfaat banyak kepada masyarakat dan lingkungan. Diantaranya selain masyarakat senang, juga membantu para petugas untuk membersihan sampah yang ada di sungai Citarum.
Kepala Desa Walahar,  Sardi Anwar Surendra menceriatakan, sudah lebih dari 10 tahun budaya tangkap ikan atau nawu di sungai Citarum bendungan Walahar tidak pernah berjalan lagi. Entah kenapa budaya tersebut berhenti yang jelas tahun ini dirinya akan kembali melestarikan budaya tersebut. "Dulu mah pas saya masih kecil, saya juga sering ikut nangkap ikan di Citarum, bareng warga semua masyarakat ikut turun ke sungai soalnya airnya ditutup dulu berapa jam," tuturnya.
Selain bisa menangkap ikan, sejumlah masyarakat juga bisa melakukan kebersihan di bendungan Walahar khususnya di sungai Citarum. Karena bukan hanya sampah namun eceng gondok yang numpuk juga bisa mengakibatkan saluran air tidak berjalan dengan baik. "Budaya nagkap ikan sambil bersih-bersih, kalau bahasa sunda namah nawu," ucapnya.
Namun saat ini kata dia, sejumlah kegiatan yang dilakukan masyarakat dekat bendungan Walahar seperti memancing masih berjalan. Buktinya masih banyak masyarakat yang setiap harinya datang ke Walahar hanya untuk memancing. Dirinya juga membebasakan kepada masyarakat yang ingin memncaing, yang jelas kata dia, mereka harus bisa menjaga kebersihan dan merawat keindahan Walahar. "Mancing juga bebas, saya ingin masyarakat juga diajak untuk merawat dan melestarikan budaya asli Walahar," jelasnya.
Sementara menurut Kasi Trantib Kecamatan Klari, Akang Muchtar mengaku bahwa, dulu budaya seperti menangkap ikan dengan menutup saluran air sungai Citarum di bendungan memang pernah ada namun sampai saat ini belum pernah diadakan lagi. "Udah lama, kalau bisa kembali dibudayakan karena bagus juga," ungkapnya.
Hal serupa disampikan oleh Wahi (45) salah satu penggembala domba yang dekat lokasi Walahar menceriatakan, bahwa selain bisa membawa kebahagiaan masyarakat budaya yang dulu pernah ada itu juga menjadi wadah bagi masyarakat untuk berkumpul. "Dulu mah ramai sama warga Walahar sendiri, sekarang mah ramai sama orang luar," akunya.(yna)
Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template