Sehari 800 Ton Sampah tak Terangkut - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Sehari 800 Ton Sampah tak Terangkut

Sehari 800 Ton Sampah tak Terangkut

Written By Admin Raka on Rabu, 20 Desember 2017 | 12.00.00

KARAWANG, RAKA - Di Kabupaten Karawang yang paling mudah dilihat ada dua, sampah dan jalan rusak. Di pelosok pedesaan sampai sudut perkotaan, banyak sekali tempat pembuangan sampah ilegal. Asalkan ada lahan kosong, gundukan sampah selalu muncul.
Persoalan sampah pun seperti tidak ada ujung pangkalnya. Selain pemerintah kesulitan menambah armada pengangkut sampah, kesadaran hidup bersih masyarakat Karawang juga minim. Padahal, dampak yang ditimbulkan bagi lingkungan dan manusia sangat mengerikan. Mulai dari banjir hingga wabah penyakit seperti demam berdarah.
Di Telukjambe Barat misalnya, tumpukan sampah yang membusuk terlihat di Desa Wanakerta. Pihak kecamatan sampai menurunkan mata-mata untuk mengetahui siapa saja yang seenaknya membuang sampah di lokasi itu. Namun, cara itu masih gagal, karena personel yang ditugasi memata-matai kalah lihai dengan si pembuang sampah. Sedangkan di Kecamatan Majalaya, Klari dan Purwasari, sedikitnya ada 17 titik TPS liar. Dari belasan titik tersebut, 5 titik diantaranya berada di Kecamatan Majalaya, 2 titik di Purwasari, dan 10 titik di Kecamatan Klari. Hal serupa juga terlihat di Kecamatan Cikampek, di sepanjang jalan utama Pawarengan hingga Sumurbandung terlihat tumpukan sampah di lima titik.
Kabid Kebersihan Pengelolaan Sampah Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Karawang Nevi Fatimah mengatakan, sampah yang dihasilkan oleh seluruh masyarakat Kabupaten Karawang mencapai 1200 ton per hari. Namun, tidak semua sampah terangkut karena tidak terjangkau oleh kendaraan pengangkut sampah. "Hanya 400 ton sehari yang terangkut," ungkapnya kepada Radar Karawang, Selasa (19/12) kemarin.
Ia melanjutkan, sampah-sampah yang tidak terangkut itu biasanya dibuang, ditimbun atau dibakar oleh masyarakat sendiri. "Sampah-sampah di pedesaan sulit dijangkau," tuturnya.
Tahun depan, kata Nevi, pihaknya akan menambah jumlah armada pengangkut sampah. Dia merinci, 10 unit cator, 2 unit mobil sampah, dan 1 alat berat. "Sebelumnya ada 44 cator di seluruh Kabupaten Karawang," ujarnya.
Agar lebih efektif mengatasi persoalan itu, tahun depan DLHK akan mengajak pihak swasta untuk mengolah sampah. Sebagai percontohan dilakukan di UPTD Kebersihan Rengasdengklok. "Jika cara itu ternyata berhasil, akan dilakukan di seluruh Kabupaten Karawang," ungkapnya.
Ketua Komisi C DPRD Karawang Elievia Khrissiana menyampaikan, penanganan masalah sampah harus terintegrasi, mulai dari sampah rumah rangga, sampai sampah kawasan. Bahkan pemerintahan level bawah harus bisa mengoptimalkan warganya dengan baik terkait sampah. Hal itu perlu dilakukan untuk membentuk budaya bersih di lingkungan masyarakat. "Hal ini penting agar warga tidak sembarangan membuang sampah," ujarnya.
Selain itu, pemerintah harus memiliki program terintegrasi mulai dari hulu ke hilir. Di setiap gang perumahan harus ada tempat pembuangan sampah sementara (TPSS), kemudian dilanjutkan oleh armada yang mengangkut ke tempat pembuangan sampah akhir (TPSA). "Bahkan seharusnya ada program daur ulang sampah. Sehingga sampah non ekonomis bisa menjadi ekonomis," ucapnya. (apk)
Berbagi Artikel :
 
Support by : Admin Mang RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template