Prahara Kontrakan Nomor 41 - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Prahara Kontrakan Nomor 41

Prahara Kontrakan Nomor 41

Written By Angga Praditya on Kamis, 14 Desember 2017 | 11.30.00

Dua sejoli itu berjanji sehidup semati dalam ikatan pernikahan awal Maret 2016. Sang pengantin tampak bahagia di pelaminan yang dipenuhi bunga-bunga indah. Tampak serasi dengan balutan busana berwarna hijau. Mereka pun merancang masa depan bersama. Menjalani hidup penuh cinta, hingga sang buah cinta lahir ke dunia. Semakin lengkaplah kebahagiaan pasangan muda yang tinggal di rumah kontrakan nomor 41, Dusun Sukamulya, Desa Pinayungan, Kecamatan Telukjambe Timur.
Hidup merantau tanpa sanak famili tentu tidak mudah, apalagi memiliki bayi yang sangat membutuhkan perhatian. Di sisi lain, tuntutan ekonomi tidak bisa dianggap sepele. Jalan terbaik adalah menitipkan anak ke orang tua di kampung, tepatnya Pati, Jawa Tengah, agar pekerjaan tidak terbengkalai. Seiring waktu, mahligai rumah tangga yang penuh dengan cinta mulai hampa. Keinginan hidup bergelimang harta, bisa menikmati fasilitas seperti layaknya orang-orang berpenghasilan berlebih, menjadi pematik prahara. Keduanya kerap adu mulut. Pertengkaran yang berujung tangisan menjadi biasa. Bahkan cekcok pasangan muda dengan segudang mimpi itu kerap terdengar tetangga mereka. Tidak ada lagi cinta, tidak ada lagi kasih. Bunga mimpi hidup bahagia mulai layu.
Siti Saidah alias Sinox alias Nindya (21) yang dikenal periang mulai hampa. Sedangkan Muhamad Kholil (21) yang dikenal supel mulai berperilaku kasar. "Pernah beberapa kali terdengar suara ribut-ribut. Beberapa kali istrinya menangis," ujar seorang tetangga, Waljinah.
Pertengkaran terakhir yang didengar para tetangga adalah persoalan keinginan memiliki mobil. Sang suami pernah mengutarakan ingin menjual motor untuk dijadikan DP mobil. Sejak itulah, ibu muda yang bekerja sebagai marketing properti itu menghilang. Berhari-hari sejak Minggu (3/12), pemilik tato Rolling Stone itu tidak terlihat. Hanya sang suami yang ada di kontrakan. Saat ditanya kemana istrinya, Kholil hanya menjawab sedang bekerja dan mampir ke rumah temannya.
Rupanya, sesuatu yang di luar batas kemanusiaan telah terjadi. Tepatnya tanggal 4 Desember di rumah kos keduanya di Perumahan Grand Orland, Jl Syech Quro, Ciranggon, Majalaya, pasangan suami istri itu kembali cekcok mulut dan berkelahi. Hingga akhirnya Siti mengutarakan ingin berpisah. Kata yang membuat hati Kholil sakit.
Entah setan apa yang merasuki Kholil, sang lelaki tiba-tiba saja memukul leher istrinya menggunakan sisi samping telapak tangan kanan sebanyak dua kali. Siti terjatuh, kepalanya terbentur lantai. Kholil lalu mengecek napas korban, ternyata sudah tidak bernapas lagi. Setelah itu, jenazah orang yang dulu dia cintai disimpah di ruangan tengah tempat kos mereka berdua. Setelah satu malam menyimpan jasad istrinya, Kholil membeli membeli golok, plastik hitam besar, dan tas belanja, kemudian dengan sangat sadis memutilasi korban. Kepala terlebih dahulu dipisahkan dengan bagian tubuh, kemudian kedua kaki korban. Setelah memutilasi, pelaku membuang kepala dan kedua kaki korban di Curug Cigentis, Desa Mekarbuana, Kecamatan Tegalwaru. Sedangkan tubuh korban di Ciranggon. Di situ, pelaku membakar tubuh korban bersamaan dengan buku nikah, akta kelahiran korban, dan surat-surat lainnya milik korban.
Selang dua hari kemudian, tepatnya Kamis (7/12), kegegeran terjadi di lokasi tempat pembakaran korban, setelah jasadnya ditemukan oleh anak-anak yang sedang bermain. Sejurus kemudian, polisi langsung memburu dan melacak peristiwa pembunuhan paling kejam di Kabupaten Karawang. Hingga akhirnya, Kholil pun tertangkap setelah mendatangi Markas Polres Karawang, dan berpura-pura kehilangan istri. Kisah dua sejoli yang awalnya saling mencinta itupun berakhir dengan tragis. (psn)
Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template