Kabur dari Majikan, TKW Pedes Sakit Parah - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Kabur dari Majikan, TKW Pedes Sakit Parah

Kabur dari Majikan, TKW Pedes Sakit Parah

Written By Admin Raka on Rabu, 27 Desember 2017 | 12.30.00

PEDES, RAKA - Penantian 12 tahun keluarga TKW asal Dusun Langseb RT 03/03, Desa Kertaraharja, Kecamatan Pedes, berbuah duka. Sejak tahun 2004 bertolak ke Thaif, Arab Saudi, Sarah binti Rasim Asbi justru terbaring lemah di rumah sakit di Thaif.
Dikatakan anak kandung Sarah, Muhammad Nurhamdian, pada tahun 2006 ibunya mendaftarkan diri menjadi TKW untuk yang kedua kalinya kepada sponsor bernama Uyat warga Desa Kamurang, Kecamatan Pedes. Kemudian memproses keberangkatannya melalui Pelaksana Penempatan TKI Swasta (PPTKIS) PT Safika Jaya Utama dan diberi uang fee. "Alasan mendaftarkan lagi karena bapak menikah secara sembunyi-sembunyi," ungkapnya kepada Radar Karawang, Selasa (26/12) kemarin.
Setelah lulus proses pengetesan, Sarah diberangkatkan melalui Bandara Soekarno Hatta menuju Thaif-Saudi Arabia. Sesampainya di Thaif, dia memberi kabar telah bekerja pada majikan bernama Ghazi Mohamed Salama, untuk merawat orang tua majikan yang sudah jompo. "Setelah satu bulan, ibu mengirimkan uang kepada saya, kurang lebih sebesar Rp 1.500.000," ujarnya.
Setelah bekerja selama enam tahun, jompo yang diurusnya meninggal dunia. Majikan Sarah pun tidak membayar upahnya selama satu tahun. Merasa tidak nyaman, akhirnya dia mengajukan pindah majikan namun tidak diperbolehkan. Bahkan paspornya pun ditahan keluarga Ghazi. Akhirnya Sarah nekat kabur dan menemui keponakannya, Eni serta Titin yang juga bekerja di daerah Thaif. Setelah itu, dia ikut tinggal di kontrakan keponakannya dan bekerja dengan status freelance sampai November 2017. "Jika ada job, dalam sebulan dia mendapatkan upah sebesar 300 riyal," tutur Nurhamdian.
Masih kata Dian, sapaan akrab Nurhamdian, ibunya dinilai sering mengeluh sakit lambung, darah tinggi, dan jantung. Dia juga sering diperiksa dokter kalau sedang terasa sakit dengan biaya sendiri. Pada tanggal 16 Desember 2017 sekitar pukul 15.00 waktu setempat, Dian mendapat kabar dari Titin via Whatsapp, bahwa ibunya sakit parah dalam keadaan kritis dan koma. Akhirnya Titin membawanya ke Rumah Sakit Adwani Thaif. "Awalnya ibu tidak dilayani karena tidak memiliki dokumen, setelah itu Titin meminta bantuan. Akhirnya pihak rumah sakit mau menerima perawatan dan pengobatannya," ujarnya.
Ia melanjutkan, semua biaya pengobatan dan perawatan sang ibu ditanggung oleh Titin. Hingga kini Sarah sudah dirawat selama empat hari, dan membutuhkan biaya sebesar 15.000 real atau sekitar Rp 50 juta. "Selasa malam, ibu sudah siuman, jika kondisinya sudah 70 persen membaik maka akan dipindahkan ke Rumah Sakit Jeddah, namun terhambat karena memakan biaya yang sangat mahal," ungkapnya.
Merasa kesulitan memulangkan ibunya, akhirnya Dian melaporkan kepada Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Karawang untuk meminta bantuan biaya perawatan rumah sakit, Rabu (20/12).
Karyati, adik kandung Sarah berharap perhatian Bupati Karawang Cellica Nurrachadiana untuk mengusahakan kepulangan kakaknya. "Saya sangat berharap perhatian pemerintah untuk mengurus kepulangan kakak saya, kita ini kan rakyatnya," pungkasnya. (rok)
Berbagi Artikel :
 
Support by : Admin Mang RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template