Dua Kades Rebutan Makam - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Dua Kades Rebutan Makam

Dua Kades Rebutan Makam

Written By Admin Raka on Jumat, 22 Desember 2017 | 16.00.00

Hamdani: Masih Sebatas Cerita Dongeng

LEMAHABANG WADAS,  RAKA - Desa Pulomulya dan Pulokalapa, Kecamatan Lemahabang Wadas, sama-sama mengklaim komplek makam murid Syekh Quro, yakni Syekh Bentong atau Syekh Darugem milik desa masing-masing. Bahkan keduanya mengaku memiliki bukti kepemilikan. Sementara camat Lemahabang justru menilai bukti kepemilikan kedua desa atas makan itu masih sebatas cerita dongeng.
Kedua desa tersebut masing-masing Desa Pulomulya dan Pulokalapa. Sementara luas komplek makam yang direbutin sekitar 4.000 meter. Saat ini sedang dilakukan mediasi yang dilakukan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa (DPMPD),  dua pemerintahan desa itu berjibaku menelisik bukti-bukti otentik lahan diperbatasan dua desa itu.
Kades Pulomulya Odang Akrab mengatakan komplek makam Syekh Bentong masuk persil desanya seluas 4.000 meter yang dulu ditukar guling dengan bengkok sejak tahun 1981 saat terjadi pemekaran seluas 2 hektar. Wajar saja jika saat ini pihaknya meminta kembali lahan itu, karena merupakan hak desa Pulomulya, sebab dulunya irigasi yang jadi perbatasan juga menjorok ke sebelah selatan, dan saat ini beralih ke utara.
Banyak saksi hidup yang saat ini masih siap membeberkan kesaksiannya. Baginya, tidak jadi soal jika Desa Pulokalapa punya bukti kuat bahwa komplek makam Syekh Bentong yang jaraknya hanya sekitar 300 meter dari makam Syekh Quro itu secara sah dan meyakinkan milik Pulokalapa. Karena, diakui Odang, bukti otentik juga memang belum begitu lengkap dimiliki Pulomulya, hanya saja ia siap untuk mencari di Badan Pertahanan Nasional (BPN), KDL dan SK Gubernur yang diminta DPMPD.
Artinya, jika itu milik Pulomulya, maka harus legowo dikembalikan ke Desanya, karena ia hendak membangunkan MCK dan pemugaran lebih untuk lokasi itu. Sebaliknya sebut Odang, jika bukti kuat itu berpihak pada Pulokalapa, ia persilahkan dan legowo jika memang secara syah dan legalitasnya kuat. "Bukan rebutan sih, kita wajar dong minta kembali hak kami yang sejak tahun 1981 era Kades Emong itu ada tukar guling dengan bengkok, ya itu hak kami," katanya.
Sementara Kades Pulokalapa,  Popon Fatmawati mengatakan dirinya tidak habis pikir, kades tetangga bisa mengklaim wilayah area syekh Bentong adalah milik persilnya, sementara sudah diketahui bahwa sedari dulu Pulobata itu adalah makam Syech Quro dan syekh Bentong yang dua-duanya tanah aset Pemkab dan masuk wilayah Desa Pulokalapa. Gampang untuk menerima sebut Popon, karena pihaknya juga siapkan bukti-buktinya nanti, karena yang terpenting adalah pembuktiannya yang akurat.
Seperti nomor persil,  letter C atau bukti lainnya. Guna meredam hal ini, diakui Popon, DPMPD sempat memediasi dirinya dengan Kades Pulomulya pada Rabu (21/12) kemarin. Hasilnya memang masih buntu, betapapun pihaknya sudah mendiskusikan dan mengumpulkan para tokoh Pulokalapa. "Gampang dulu bisa menerima, buktinya harus akurat dulu yang jelas kita siap punya bukti kuat," katanya.
Sementara Camat Lemahabang,  H. Hamdani S.ip, mengatakan kedua kades sudah di mediasi DPMPD, namun kedua argumennya hanya sebatas dongeng masing-masing kades saja. Karena baik Pulokalapa maupun Pulomulya, sebut Camat tidak punya SK gubernur tentang pemecahan desa Pulomulya dari dari Pulokalapa, karena memang keduanya justru tidak ada yang memiliki SK pemecahan desa tahun 80 an itu karenanya masih buntu. "Pertemuan akan dilanjutkan kembali bila sudah menemukan sk gubernur pemekaran tersebut. Argumen keduanya masih sebatas dongeng saja, tidak ada yang punya SK Gubernur soal pemekaran desa dulunya. Mediasinya akan dilanjut lagi jika keduanya sudah kumpul bukti kuatnya," katanya.
Menurut Camat, bukti surat pada tahun 1957 sebenarnya bisa menguatkan bahwa Pulobata dan Pulomasigit yang didalamnya terdapat makam keramat, wewenang dan tanggungjawabnya adalah untuk Kades Pulokalapa. Bahkan, terakhir, sebut Hamdani, pihaknya juga mengajukan infrastruktur wisata sejarah kepada Pemkan dan dilanjut Ke provinsi,  tertulis bahwa komplek makam Syekh Bentong itu masuk Desa Pulokalapa untuk ada realisasi anggaran dari Pemprov. "Kita ajukan ke Provinsi soal pemugaran infrastruktur komplek makam itu ya sepaket Pulokalapa termasuk Makam Syekh Bentong itu," pungkasnya. (rud)
Berbagi Artikel :
 
Support by : Admin Mang RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template