Rentenir Goda Istri Aparat Desa - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Rentenir Goda Istri Aparat Desa

Rentenir Goda Istri Aparat Desa

Written By Mang Raka on Rabu, 01 November 2017 | 14.45.00

LEMAHABANG WADAS, RAKA - Pegawai honor ceritanya selalu sama. Memperihatinkan. Bukan saja honornya kecil tetapi dibagikannyapun tidak setiap bulan. Persoalannya untuk membiaya hidup bulanan, terpaksa mengutang ke rentenir alias bank emok.
Seperti diungkapkan para istri pegawai honor desa. Mereka nekat meminjam ke bank emok selain cepat juga karena tidak tahu harus meminjam uang kemana. "Bingung cari pinjaman karena honor kan belum cair-cair, tahu- tahu istri dapat uang ternyata dari bank emok. Eh honor belum cair juga, sudah harus ditagih setorannya," ujar salah seorang Kadus di Kecamatan Lemahabang yang meminta namanya dirahasiakan.
Kepala Desa Karangtanjung, Ade Kosasih mengatakan, di desanya saja, sedikitnya ada 4 jenis bank emok berkedok koperasi. Parahnya, nunggak di satu Bank emok, pinjam lagi di bank emok lainnya, itu sebut Ade, bukan saja menimpa masyarakatnya saja, tapi juga pada para keluarga perangkat pemerintahan desa. Padahal, tidak ada usaha atau dagang, tapi pinjaman jalan terus meskipun pada akhirnya ia sering ditanyai soal pencairan honor yang konon untuk bayar setoran.
Masih dikataskan Ade yang sukses, bisa saja berbuah pada CSR ke lingkungan sekitar,  sementara yang nunggak, ia risih denfan sistemnya yang cenderung mengadu domba antar masyarakat sendiri. Karenanya, selain sulit di deteksi keberadaannya, bank emok yang masuk juga tapa sepengetahuan pemerintah desa. "Di desa saya ada empat jenis bank emok berkedok koperasi masuk, bahkan tak jarang, pegawai desa juga jadi sasaran pinjaman," ungkapnya.
Ketua Ikatan Kepala Desa (IKD) Lemahabang, Solehudin mengatakan, pegawai deaa ada saja yang meminjami uang ke bank emok, dengan alasan honor dari Desa pencairannya tidak bisa di waktu- waktu. Bahkan, saking geramnya, ia pernah di demo warga kelompok bank emok ke kantor desa gara-gara ada warganya yang disatu kelompok itu bercerai dan menagih pada suaminya.
Karena tidak bayar akhirnya satu kelompok itu menggelar demo dan memintas agar kades turun tangan menindaK si suami yang bercerai itu supaya sudi membayar setorannya. Disisi lain, ia pertanyakan, apa urusannya dengan kades sampai dibawa-bawa. "Heran saya mah, yang nunggak siapa, demonya ke kantor desa nyuruh saya menindak penunggak setoran, ini mah kan jadi adu domba," Ungkapnya.
Lebih jauh ia menambahkan, sistem yang mengadu domba anyar warga sementara pihak bank hanya berdiam diri sangat disayangkannya. Tapi itulah jeratan sistem, dirinya sulit mengendalikan penertiban bank emok yang ada, karena pada dasarnya koperasi itu bagus dan bisa jadi alternatif pinjaman, itu kalau disertai usaha yang jelas. Kalau tidak sebut Soleh,  bisa berabe ujungnya." Susah juga menertibkannya sih, karena sistemnya begitu mungkin," pungkasnya. (rud)
Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template